Tugumalang.id – Saipul Muklas, masih ingat betul ritme kuliahnya dulu yang sarat dengan tugas studio. Pagi kuliah sampai sore, disambung lembur mengerjakan tugas dari malam hingga pagi lagi sudah menjadi makanan sehari-hari. Alumnus Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 2012 ini mengakui, tahan lembur adalah syarat mutlak anak teknik.
Namun, siapa sangka tempaan fisik dan mental di kampus itulah yang kini membawanya menduduki posisi strategis sebagai Unit Head Mine Survey di PT Saptaindra Sejati (SIS) – Group PT AlamTri Geo, salah satu raksasa kontraktor pertambangan di Indonesia.
Pria asal Tumpang, Kabupaten Malang ini bercerita, bahwa dunia kerja menuntut target operasional yang ketat. “Ternyata pengalaman ditempa seperti ini sangat berguna didunia kerja. Saat kerja dituntut dateline target operasional atasan. Kami pernah pada masa itu,” ujar alumnus MAN 3 Jombang ini saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.
Baca Juga: ITN Malang Digandeng Pemkot Kediri, Siapkan Beasiswa Mitra MAPAN untuk Dongkrak Kualitas SDM
Ternyata pengalaman mengerjakan tugas, dan lembur itu sangat berguna saat bekerja. Menurutnya, lulusan ITN Malang dikenal tangguh dan cepat beradaptasi. Itu karena praktik di kampus memang dibuat semirip mungkin dengan kondisi medan yang sulit di lapangan.

Perjalanan karier Syaiful tidak langsung mulus di pertambangan. Usai lulus, ia sempat mencari pengalaman di dunia konstruksi pada 2017-2018 di PT Wijaya Karya Persero (Wika).
Baru setelah itu, ia berhasil menembus industri tambang di PT Indo Tambangraya Megah (ITM) selama hampir tiga tahun, sebelum akhirnya berlabuh di PT Saptaindra Sejati (SIS) hingga sekarang.
Baginya, keberanian untuk keluar dari zona nyaman adalah kunci jika ingin mencari jenjang karir dan pelatihan yang lebih menunjang.
Kini, hari-hari Saipul dihabiskan di lokasi pertambangan yang cukup terisolasi di Kalimantan, mulai dari Balangan, Tanjung Tabalong, hingga Murung Raya.
Lokasinya benar-benar di tengah hutan tanpa pemukiman penduduk, dengan pola kerja 42 hari masuk, dan 18 hari libur. Meski fasilitas lengkap, tantangan tetap ada, seperti pernah kehilangan sinyal total selama dua hari di tengah rimba.
Baca Juga: Anggaran Litabmas ITN Malang Naik, Proposal Dosen Melonjak pada 2026
Sebagai Unit Head Mine Survey, Saipul bertanggung jawab memimpin 5 tim yang masing-masing terdiri dari lima orang. Tugasnya mencakup koordinasi tim topografi, desain tambang, reklamasi, pengolahan data, hingga tim UAV (drone) dan blasting. Namun, bagi Saipul, memimpin bukan soal perintah kaku. Ia lebih memilih pendekatan emosional melalui coaching dan diskusi setiap pagi.
Saipul tidak segan merinci tugas masing-masing tim di bawah komandonya untuk memberikan gambaran nyata dunia kerja pertambangan.
Mulai dari tim topografi yang bertugas menghitung volume cut and fill (gali-timbun) serta progres harian, hingga tim desain yang memastikan operasional tambang berjalan presisi sesuai rencana.
Ada pula tim reklamasi yang mendampingi unit disposal untuk memastikan area tutupan lahan sesuai dengan perencanaan lingkungan. Sementara itu, untuk efisiensi data, tim UAV bertugas memperbarui perubahan kondisi tambang melalui foto udara secara real-time, yang datanya kemudian diolah oleh tim data processing.
Terakhir, ada tim blasting yang menjadi pemandu bagi operasional peledakan dalam menentukan titik-titik area yang akan dieksekusi di lapangan.
Setiap pagi, rutinitas Saipul diawali dengan pertemuan tim yang untuk membahas target harian perusahaan. Pada momen inilah ia juga membangun kedekatan emosional dengan mendengarkan kendala lapangan, kebutuhan kru, hingga mencari solusi bersama.
Saipul juga rutin melakukan coaching dan screening untuk meninjau kinerja personel secara personal, sekaligus memberikan gambaran target ke depan.
“Dari rangkaian pertemuan itu, akhirnya terbangun chemistry. Saya harus bisa memposisikan diri, tidak terlalu kaku tapi tetap tegas pada aturan. Dengan begitu, tim akan merasa dihargai dan tidak sungkan menyampaikan kendala apa pun yang mereka hadapi,” ungkapnya membeberkan kunci solidnya tim di tengah hutan.
Kepada mahasiswa ITN Malang, khususnya mahasiswa Teknik Geodesi, Saipul berpesan agar tidak hanya menguasai teori dasar, tapi juga harus melek teknologi. Ia mencontohkan penggunaan drone yang kini menjadi kebutuhan primer di lapangan pertambangan, jauh melampaui ekspektasinya saat masih kuliah dulu.
“Dunia kerja berkembang sangat cepat. Jangan menutup diri dari teknologi baru. Dan yang paling utama, jaga integritas. Hasil ukuran geodesi itu harus akurat dan presisi, karena itu adalah jati diri seorang surveyor,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A


















