Tugumalang.id – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap pendidikan tinggi secara holistik. Dengan teknologi cerdas ini, mahasiswa dapat menyusun ringkasan, menerjemahkan literatur bahkan merancang proposal penelitian dalam hitungan menit.
Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar bagi dunia akademis, apakah perguruan tinggi masih menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan? Tantangan ini semakin kompleks bagi insan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
Di mana PTKI tidak hanya bertugas mencetak kompetensi akademik, tapi juga membentuk lulusan yang memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Soal ini, akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Zainal Habib turut memberikan pandangan. Menurutnya, transformasi digital di lingkungan PTKI tidak cukup dimaknai sebagai adopsi teknologi, melainkan harus menjadi proses mengintegrasikan kecerdasan teknologi dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Baca Juga: Siapkan Kurikulum Berbasis AI, Dekan Fakultas Psikologi UIN Malang Tekankan Lulusan Harus Adaptif dan Tetap Beretika
Menukil pandangan filsuf Martin Heidegger, Zainal menjelaskan bahaya terbesar teknologi bukan ketika mesin menggantikan manusia, tapi saat manusia mulai memandang dunia hanya sebagai sesuatu yang dapat dihitung, diukur dan dieksploitasi.
“AI mampu mempercepat proses berpikir, tetapi tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan. Mesin dapat mengolah miliaran data, namun tidak mampu memahami makna, nilai, dan tanggung jawab moral sebagaimana manusia,” tegas pria yang juga Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) itu, Selasa (28/7/2026).
Zainal menyebut bahwa penggunaan AI di kalangan mahasiswa tercatat mengalami lonjakan signifikan. Data UNESCO (2023) menyebutkan lebih dari 60 persen mahasiswa global memanfaatkan aplikasi berbasis AI.
Baca Juga: 5 Tempat Sarapan Dekat UIN Malang, Enak, Murah, dan Bikin Kenyang Sebelum Kuliah
Sementara itu, survei Digital Education Council (2024) menemukan sekitar 86 persen mahasiswa telah menggunakan AI generatif seperti ChatGPT untuk membantu tugas akademik.
Fenomena ini membawa risiko tersendiri bagi PTKI yang selama ini berdiri di atas pilar pengembangan ilmu, pembentukan akhlak, dan pengabdian masyarakat. Kemudahan akses jawaban instan dikhawatirkan mengikis tradisi membaca, menelaah kitab, serta diskusi mendalam yang menjadi ciri khas tradisi intelektual Islam sejak era Al-Ghazali, Ibn Sina, hingga Ibn Khaldun.
Zainal mengutip pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menekankan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang baik (good man), bukan sekadar pekerja terampil. Ia kemudian menyandingkan konsep phronesis (kebijaksanaan praktis) Aristoteles dengan konsep hikmah dalam Islam.
“Kita tahu bahwa AI tidak memiliki kesadaran moral, empati juga tanggung jawab etis. Maka dari itu, Perguruan tinggi Islam tidak boleh bersaing dengan AI dalam menghasilkan jawaban, tapi justru harus unggul dalam membentuk hikmah, etika, dan kepemimpinan moral,” tambahnya.
Transformasi PTKI Dimulai dari Tata Kelola
Berdasarkan data Kementerian Agama, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 800 PTKI (baik PTKIN maupun PTKIS) dengan jutaan mahasiswa. Potensi sebesar ini, kata dia dapat menjadi kekuatan besar jika seluruh institusi memiliki strategi transformasi digital yang terarah.
Zainal berpendapat bahwa transformasi tidak cukup dilakukan melalui pembelian perangkat digital atau pembangunan laboratorium AI. Yang jauh lebih penting adalah perubahan tata kelola akademik. Salah satunya dengan memperbaharui kurikulum berbasis literasi digital dan AI, menyusun pedoman etika penggunaan AI pembelajaran, meningkatkan kompetensi dosen melalui pelatihan berkelanjutan, serta memperkuat kolaborasi dengan industri teknologi dan pusat riset.
Transformasi juga harus mencakup digitalisasi layanan akademik, pemanfaatan analitik data untuk pengambilan keputusan, serta pengembangan riset interdisipliner yang menghubungkan ilmu keislaman dengan sains dan teknologi.
Menyatukan Teknologi dan Kemanusiaan
Lebih lanjut, ia menukil pandangan Sejarawan Yuval Noah Harari yanf mengingatkan bahwa pada abad ke-21, kemampuan terpenting bukan lagi menghafal informasi, melainkan terus belajar (lifelong learning), beradaptasi, dan berpikir kritis. Pesan tersebut semakin penting bagi perguruan tinggi Islam.
Di tengah kemajuan AI, keunggulan PTKI bukan terletak pada kemampuannya menghasilkan lulusan lebih cepat, tapi pada kemampuannya membentuk manusia yang bijak menggunakan teknologi. Artinya, transformasi Perguruan Tinggi Islam jangan menjadi ajang perlombaan mengejar kecanggihan teknologi.
Transformasi sesungguhnya, papar dia, adalah mengintegrasikan akal, wahyu, dan teknologi dalam satu ekosistem pendidikan yang melahirkan insan berilmu, berakhlak, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
”AI dapat mempercepat lahirnya pengetahuan, tetapi hanya manusia yang dapat mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan dan kemaslahatan bagi peradaban,” ujarnya.
Sementara dalam perspektif filsafat Islam, ilmu pengetahuan tidak pernah dipahami sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mendekatkan manusia kepada kebenaran dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.
Pemikir Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis terbesar pendidikan modern bukanlah kekurangan informasi, tetapi loss of adab atau hilangnya adab dalam menggunakan ilmu.
Karena itu, ketika AI mampu menyediakan informasi dalam jumlah nyaris tak terbatas, tugas Perguruan Tinggi Islam justru semakin penting, yakni memastikan bahwa ilmu tersebut digunakan dengan tanggung jawab moral, kejujuran akademik, dan orientasi pada kemaslahatan umat.
”Harapan besar juga terbuka apabila PTKI mampu menjadikan AI sebagai mitra dalam memperkuat tridarma perguruan tinggi. Di bidang pendidikan, AI dapat mendukung pembelajaran yang lebih personal dan adaptif,” ungkapnya.
Pada akhirnya, masa depan Perguruan Tinggi Islam akan ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai, antara kecerdasan buatan dan kebijaksanaan manusia, serta antara kemajuan teknologi dan kemuliaan akhlak.
”AI akan terus berkembang dengan kecepatan yang sulit dibendung, tetapi karakter, integritas, empati, dan tanggung jawab tidak pernah dapat diprogram sepenuhnya oleh mesin,” kata dia.
Ia menyimpulkan, keunggulan PTKI di abad ke-21 tidak terletak pada kecepatannya melahirkan lulusan melampaui mesin, melainkan pada kemampuannya membentuk insan berilmu, berakhlak, dan adaptif.
“AI akan terus berkembang pesat, tetapi karakter, integritas, empati, dan tanggung jawab tidak pernah dapat diprogram sepenuhnya oleh mesin. Di sinilah peran strategis PTKI untuk mengarahkan teknologi demi menghadirkan keadilan dan peradaban yang bermartabat,” kata dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























