BATU – Pemkot Batu masih punya tanggungan dalam proses awal rehabilitasi Pasar Induk Among Tani. Pasalnya, pihak pemenang lelang bongkaran mengaku rugi Rp 45 juta karena ada sejumlah item bongkaran yang dibawa pulang pedagang.
Menjawab hal ini, dari pihak Badan Aset Keuangan Daerah (BKD) Kota Batu, melempar tanggung jawab itu pada Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag), Kota Batu.
Kepala BKAD Kota Batu, M Chori menuturkan jika ranah BKAD terbatas di mekanisme lelang. Kalau untuk pengamanan aset, kata dia adalah ranah dan tugas dari Diskumdag. Disisi lain, surat klaim kerugian yang dilayangkan pemenang lelang bongkaran diterima pihak BKAD.
”Nanti akan kira tanggapi setelah ada sinkronisasi data di Diskumdag. Karena pengamanan barang dan aset pasar itu ranahnya di Diskumdag. Kita (BKAD, red) fokus di proses lelang,” jelas Chori pada awak media, Senin (21/2/2022).
Bagaimanapun, pihak Pemkot Batu tetap ada hukum untuk mengembalikan kerugian. Meski begitu, dirinya tidak bisa memutuskan kapan klaim tersebut dikembalikan.
“Semua ada mekanismenya. Kalau sudah dihitung nanti akan dianggarkan di Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) atau di APBD murni,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Diskumdag Kota Batu Eko Suhartono saat dihubungi enggan berkomentar banyak. Menurut dia, klai, atas kehilangan aset pasar itu adalah ranah BKAD. ”Tanyakan saja ke mereka,” ujarnya, singkat.
Pihak pemenang lelang bongkaran, Zubaidi mengaku jika item bongkaran yang dimaksud atau dibawa pulang pedagang adalah 19 rolling door, 5 buah asbes gelombang dan 8 kusen berbahan alumunium.
Sesuai hasil di KPKNL, semua bongkaran material aset pasar hak mutlak pemenang lelang. Jumlah kerugian segitu, bukan nilai yang sedikit. Sebab itu, Zubaidi berkirim surat klaim beserta rincian aset yang hilang kepada Pemkot Batu.
“Saya sudah kirim surat klaim kerugian pada ke BKAD. Isinya surat pemberitahuan barang-barang yang hilang, rinciannya dan total klaim kerugian,” katanya.
Terkait target pembayaran klaim ini, Zubaidi tidak terlalu menuntut cepat. Dirinya juga paham soal mekanisme penganggaran. ”Saya kira jumlah segitu banyak ya, jadi sampai kapan pun, saya tetap menunggu kompensasinya,” ujarnya.
Reporter: Ulul Azmy
editor: Jatmiko





























