Pandemi Belum Usai, Tradisi Nyekar di TPU Kutobedah Malang Tetap Marak

  • Whatsapp
Tradisi nyekar (tabur bunga) dan kirim doa setiap menjelang bulan suci ramadan di TPU Kutobedah Malang, Senin (12/4/2021). Foto/Azmy

MALANG – Berbeda jelang bulan puasa tahun 2020 lalu, yang sedang dalam masa pandemi, kali ini aktivitas tradisi nyekar atau tabur bunga menjelang puasa di TPU Kutobedah Kota Malang kembali hidup. Kemacetan dan deretan ibu-ibu menjual bunga adalah hal biasa di sekitar TPU Kutobedah dalam menyambut bulan Ramadan.

Tradisi Nyekar atau tradisi menabur bunga di atas pusara bagi Orang Jawa masih lekat dan dilakukan hingga kini. Namun, di tahun 2021 ini gelombang peziarah yang datang lebih ramai dibanding tahun 2020 lalu yang sedang dalam pandemi COVID-19.

Bacaan Lainnya

Bank BNI

”Lebih ramai tahun ini, dibanding tahun lalu. Kan tahun lalu pandemi masih ramai-ramainya, jadi gak banyak orang yang mau datang. Mungkin takut,” kata Safri (24), warga sekitar TPU Kutobedah kepada reporter, Senin (12/4/2021).

Penjual bunga juga panen rejeki. foto: Azmy

Sebenarnya, di tahun ini pandemi virus corona ini belum dinyatakan usai. Namun, sejumlah peziarah mulai berani kembali beraktivitas, namun tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Seperti diakui salah satu peziarah, Agatha Karisma (35) bahwa tradisi ziarah (nyekar) ini tetap dia lakukan namun tetap dengan memakai masker dan membatasi interaksi dengan banyak orang sembarangan.

”Sebenarnya tahun lalu ya di rumah aja, tapi kalau nyekar ini masih tetap saya lakukan. Tapi tetap pakai masker, pulangnya mandi dan membatasi interaksi. Kalau nyekar gini kan masih di tempat lapang gak sampai berkerumun,” kata dia.

Kembalinya aktivitas kehidupan dengan adaptasi kebiasan baru ini akhirnya turut membawa dampak ekonomis bagi warga sekitar. Khususnya bagi warga yang menggantungkan rejeki dadakan dari peziarah, baik membantu membersihkan makam keluarga peziarah.

Baca Juga  Isu Izin Konser Musik, Satgas COVID-19 Jatim Ingatkan Protokol Kesehatan

”Alhamdulilah tahun ini rezeki nambah, beda sama tahun lalu yang agak sepi orang-orang nyekar. Ini saja saya sehari sudah bantu bersih 20 makam sudah dapat rejeki Rp 100 ribu,” ujar Ahmad Fauzi (45) yang sudah melakoni profesi sampingan ini 5 tahun belakangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *