Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Pandangan Psikolog Soal Fenomena FWB di Malang: Perlu Diwaspadai

Redaksi by Redaksi
November 13, 2022 6:12 pm
in Pilihan Redaksi
friend with benefits menurut psikolog

Ilustrasi (Getty Images)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang – Friends with Benefits (FWB) atau jalinan hubungan tanpa ikatan yang jelas, bahkan mengarah pada pemenuhan kebutuhan biologis tengah menjadi fenomena di antara kaula muda. Keberadaan fenomena ini ternyata telah terdeteksi di Kota Malang.

Psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Fuji Astutik membeberkan bahwa pihaknya pernah mendapati beberapa orang penyintas FWB yang melakukan konsultasi terkait masalah tersebut.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Menurutnya, fenomena FWB memang perlu diwaspadai. Pasalnya, aktivitas FWB bukan sekedar pertemanan biasa. Penyintas akan melakukan FWB ketika sama sama membutuhkan. Bahkan ada yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan seksual tanpa ikatan pasti.

Dia mengatakan bahwa setiap orang memang punya hak atas tubuh atau dirinya sendiri. Namun aktivitas FWB dinilai menyalahi norma norma lingkungan bahkan budaya. Sehingga, Fuji menilai FWB memang fenomena yang kurang elok.

“Munculnya perilaku ini perlu kita waspadai. Jangan sampai kemunculan perilaku FWB karena kebutuhan psikologis yang sebenarnya bukan itu yang kita butuhkan. Tetapi digunakan sebagai cara pengalihan kebutuhan yang sebenarnya bukan kebutuhan sebenarnya,” jelasnya.

Fuji juga memandang akan ada potensi dampak berbahaya jika fenomena FWB dibiarkan. Salah satunya potensi penularan penyakit HIV. Sebab, penyintas FWB berpotensi untuk berganti ganti pasangan.

“Dampak jangka panjangnya, kalau gonta ganti pasangan kan juga riskan terjadi penularan penyakit. Itu tentu merugikan,” ucapnya.

Fuji mengungkapkan bahwa penyintas yang dia temui memang merupakan orang yang kurang kasih sayang di masa kecil. Penyintas itu merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua semasa kecil. Bahkan beberapa mengakui memang kehilangan sosok figur ayah atau ibu.

Sehingga ketika dewasa, penyintas akan mencoba mencari kasih sayang dari sosok pacar. Namun ketika penyintas mengalami kegagalan dalam percintaan, penyintas berpotensi melakukan FWB. Terlebih jika lingkungan sekitar mendukung.

“Jadi saat dia kecewa dalam masalah percintaan, dia muncul pikiran berkomitmen mencari orang yang sama untuk menjalin hubungan tanpa ikatan, selesai ya selesai. Itu beberapa yang saya temukan, tapi ini tidak bisa digeneralisir untuk semua kasus,” bebernya.

“Rata rata mereka memang kekurangan atau tidak mendapatkan kasih sayang orang tua. Itu salah satu yang mendasari mereka melakukan itu,” imbuhnya.

Dikatakan, penyintas FWB memang rata rata orang yang belum menikah atau orang yang sudah bercerai. Dia mengaku tidak mendapati penyintas dari orang yang sudah memiliki pasangan suami atau istri.

Menurutnya, kebutuhan seksual orang yang belum menikah bisa diatasi dengan menikah. Namun jika belum siap menikah, penykntas bisa melakukan aktivitas atau kesibukan positif yang bisa mengalihkan kebutuhan yang belum waktunya tersebut. Pasalnya, jika berganti ganti pasangan berpotensi terjadi penularan HIV.

“Saran saya, kita perlu tanya pada diri sendiri, apakah memang benar benar itu yang kita butuhkan. Kadang kala memang orang tidak mengetahui apa kebutuhan diri sebenarnya. Sehingga dia mencari cara yang seolah itu bisa memenuhi,” paparnya.

“Padahal cara itu (FWB) tidak akan ada habisnya. Misal selesai dengan satu orang, dia akan mencoba dengan orang lain dan orang yang lain lagi. Tentu itu riskan terjadi penularan penyakit. Kebutuhan itu tidak akan selesai,” lanjutnya.

Fuji juga menyarankan agar mereka berkonsultasi kepada ahlinya, yakni konselor, psikiater atau psikolog. Menurutnya, bercerita pada orang lain atau sahabat juga bisa memecahkan masalah. Sebab, kebutuhan pribadi bisa jadi karena memang karena kurangnya kasih sayang masa kecil atau masalah pribadi lain.

“Hidup kita akan dipengaruhi masa lalu dan dengan siapa kita berinteraksi saat ini. Awalnya mungkin tidak berpikir melakukan FWB, tapi kalau dia melihat lingkungan sekitar melakukan itu, bisa jadi dia akan ikut,” ujarnya.

“Jadi kita harus tau, memahami dan mengerti apa yang benar benar kita mau. Jangan sampai kebutuhan itu diselesaikan dengan hal yang justru bisa menambah masalah,” tandasnya.

Reporter: M Sholeh
editor: jatmiko

Tags: Anak muda kota malangFriend with BenefitsFWBHeadlinekota malang

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
Aremania Mergosono tuntut keadilan korban Tragedi Kanjuruhan

Tuntutan Keadilan Bagi Korban Tragedi Kanjuruhan Digelorakan Kembali Aremania Mergosono

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.