Kota Batu, Tugumalang.id– Tren penurunan okupansi hotel di Kota Batu dalam beberapa tahun terakhir mulai berdampak serius terhadap sektor perhotelan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu bahkan menyebut industri jasa akomodasi di kota wisata ini mulai limbung.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa kondisi ini tak hanya dipicu oleh efek pasca pandemi COVID-19, tetapi juga diperburuk oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. Dampaknya, daya beli masyarakat melemah drastis, yang berimbas langsung pada performa industri perhotelan.
“Situasi sekarang jauh lebih kompleks karena adanya kebijakan efisiensi. Operasional hotel kini harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar Sujud saat ditemui, Jumat (13/6/2025).
Sujud, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, menjelaskan bahwa kebijakan pemangkasan anggaran pemerintah telah mengurangi alokasi untuk sektor wisata dan perjalanan dinas. Alhasil, tingkat hunian hotel dan jumlah kegiatan yang biasanya digelar di hotel mengalami penurunan signifikan.
Baca juga: Okupansi Hotel di Kota Batu Turun Saat Lebaran 2025
“Belanja pemerintah yang tertahan otomatis menekan daya beli masyarakat. Ini berdampak luas, tak hanya di sektor hotel, tapi juga merembet ke sektor pendukung lainnya,” ungkapnya.
Kendati begitu, pihaknya menyambut baik adanya kelonggaran kebijakan dari Kementerian Dalam Negeri yang memberikan izin kegiatan rapat di hotel, selama tidak dilakukan berlebihan. Hanya saja hal ini tidak dibarengi dengan kebijakan pemberian uang saku untuk kegiatan rapat.
Menurut Sujud, jika pemerintah melepaskan belanjanya secara merata ke berbagai sektor, maka daya beli masyarakat akan terangkat. Jika itu terjadi, perhotelan juga ikut terdongkrak.
Saat ini, sekitar 30 persen pendapatan sektor perhotelan di Kota Batu berasal dari kegiatan instansi pemerintah. Sementara itu, dari sektor wisatawan, penurunan terjadi hingga lebih dari 50 persen, termasuk dari kalangan korporasi.
“Kita kehilangan sekitar 30 persen dari sektor pemerintahan, ditambah dari wisatawan dan korporat juga turun. Bahkan, daya beli wisatawan sendiri juga ikut melemah,” bebernya.
Baca juga: Okupansi Hotel di Kota Batu Capai 90 Persen Saat Pergantian Tahun Baru
Sujud memprediksi, kebijakan tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan okupansi hotel. ”Maka penting untuk pelepasan anggaran pemerintah, baik APBN maupun APBD, untuk menggerakkan sektor ekonomi lainnya” terang dia.
Ia berharap pemerintah tetap membuka sektor pariwisata dan terus mendukung promosi wisata, meskipun dengan efisiensi anggaran. Promosi, sambungnya, tetap dilakukan meski ikut dilakukan secara lebih efisien. ”Namun kalau daya beli lemah, hasilnya ya tetap segitu-segitu saja,” ungkapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























