Jumat, September 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Menjadi Manusia Berperikemanusiaan

Redaksi by Redaksi
Juli 31, 2021 9:21 am
in Ruang Cendekia
Muhammad Farhan Azizi/tugu malang

Muhammad Farhan Azizi. (Foto: Dokumen)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Muhammad Farhan Azizi*

Tugumalang. id – Baru-baru ini tindakan ‘tidak berperikemanusiaan’ lagi-lagi dipertontonkan ke hadapan masyarakat luas dunia maya.

READ ALSO

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Salah satu unggahan video yang tersebar di media sosial menunjukkan oknum anggota TNI AU sedang menginjak kepala seorang pria di Merauke. Ini adalah bentuk tindakan ‘tidak berperikemanusiaan’ yang dimaksud.

Berdasarkan berita yang dimuat di beberapa media (27/07/2021), alasan oknum TNI itu melakukan tindakan yang ‘tidak berperikemanusiaan’ itu, karena berniat mengamankan seorang pria yang dilihat sedang cekcok dengan penjual bubur ayam lantaran mabuk.

Namun netizen berkomentar bahwa berita tersebut tidak benar, karena pria itu hanya juru parkir alias jukir penyandang cacat atau difabel.

Bahkan, sejumlah netizen mengatakan bahwa seantero Merauke pun mengenal pria tersebut sebagai jukir difabel. Itu sebabnya, netizen mengeklaim tindakan tersebut sebagai tindakan yang ‘tidak berperikemanusiaan’.

Prinsip Dualitas

Apa yang dikatakan netizen, benar. Terlepas jukir difabel yang terkenal seantero Merauke itu mabuk atau tidak, Jukir difabel juga manusia. Inilah kata yang terlintas dalam pikiran saya setelah menyaksikan unggahan video kejadian tersebut.

Pikiran itu terlintas karena mengingat istilah dualitas, prinsip dualitas, yang kemudian mengilhami pikiran saya untuk mengatakan, “sungguh, tindakan itu tidak berperikemanusiaan.”

Prinsip dualitas acap kali menjadi worldview atau pandangan hidup manusia dalam merespon permasalahan tanpa melihat bangsa atau agama. Karena itu, prinsip dualitas merupakan salah satu perspektif yang relevan digunakan untuk melihat masalah ini lebih lanjut.

Meminjam istilah prinsip dualitas salah seorang cendikiawan muslim asal Palestina Ismail Raji Al-Faruqi (1989), prinsip dualitas adalah pandangan hidup manusia yang memandang dunia hanya memiliki dua kenyataan, yaitu “Pencipta” dan “ciptaan”.

Pencipta hanya satu, yaitu Tuhan (Maha segalanya), dan ciptaan adalah banyak, yakni berupa alam semesta yang berarti seluruh alam dan se-isinya.

Meletakkan perhatian pada pengertian ciptaan berdasarkan prinsip dualitas, maka didapatkan kesimpulan bahwa semua manusia itu sama. Sama, karena sama-sama ciptaan, bahkan manusia dengan hewan sekalipun. Maka siapa pun dan apa pun itu, selama mereka adalah ciptaan, maka mereka sama.

Pada hakikatnya, prinsip dualitas memandang bahwa tidak ada manusia yang bermartabat dan bernilai lebih dari manusia yang lain. Karenanya, seluruh ciptaan hanya tunduk dan pasrah kepada kenyataan yang berbeda dari mereka atau di luar mereka, yaitu Tuhan.

Karena itu, manusia tidak bisa semena-mena bertindak. Apalagi bertindak menyerupai Tuhan, seperti menghakimi, menjatuhkan, atau menyakiti manusia lain.

Namun, ada satu aspek yang membedakan manusia satu dengan yang lain, yaitu fungsi. Mereka memiliki fungsinya masing-masing.

Contohnya, juru parkir memiliki fungsi mengamankan kendaraan yang ditinggal pemiliknya, penjual bubur ayam memiliki fungsi membuat bubur ayam kemudian menjualnya, TNI AU memiliki fungsi mempertahankan dan mengamankan NKRI melalui sektor udara, dan demikian seterusnya.

Manusia sangat disarankan untuk menjadi manusia yang fungsional. Fokus terhadap fungsi masing-masing menjadi sikap yang ditekankan prinsip dualitas ini. Dengan fokusnya kepada fungsi masing-masing, setiap manusia tidak akan sibuk mengurus fungsi manusia lain.

Itulah prinsip dualitas. Diperlukan kesadaran penuh terhadap kenyataan bahwa semua manusia itu sama, dan hanya dibedakan oleh fungsi. Terlebih, kesadaran itu dijadikan pandangan hidup setiap manusia.

Dengan pandangan hidup yang memandang manusia itu sama akan mewujudkan manusia yang mempunyai perikemanusiaan (suka menolong dan bertimbang rasa) atau berperikemanusiaan. Dan dengan berperikemanusiaan itu manusia akan menuju pergaulan hidup yang lebih baik (sejahtera).

Paham Kemanusiaan

Humanisme (paham yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia) atau paham kemanusiaan juga dapat dijadikan perspektif melihat masalah ini.

Mengutip Ali Syari’ati (1996), humanisme memandang manusia sebagai makhluk (ciptaan) mulia yang memiliki prinsip pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokonya dengan keselamatan.

Itu artinya, manusia adalah ciptaan mulia yang menjadikan keselamatan sebagai prinsip untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan, minum, jual-beli, kerja, nikah, tidur, dan lain sebagainya. Inilah yang kemudian membedakan manusia dengan ciptaan lain.

Juga disebutkan dalam humanisme, kemuliaan manusia adalah disebabkan harkat, martabat, dan rohaninya. Sebagaimana Mangun Harjana dalam bukunya Isme-Isme dari A sampai Z (1997), manusia mempunyai kedudukan yang istimewa dan kemampuan lebih dari makhluk lain karena harkat, martabat, dan rohaninya.

Maka dapat dipahami, harkat, martabat dan rohani yada ada dalam diri manusia menjadi ukuran seorang manusia dikatakan makhluk yang istimewa.

Di samping itu, manusia juga akan menggunakan harkat dan martabat itu sebagai upaya dalam meningkatkan kepedulian antar sesama.

Seperti Franzs Magnis Suseno (2007), martabat (dignity) dan nilai (value) yang dimiliki setiap manusia merupakan upaya mereka untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan alamiah atau disebut sikap spiritual yang diarahkan kepada humanitarianisme (moral dan simpati yang ditujukan kepada seluruh manusia).

Untuk itu, humanisme tidak menyarankan setiap manusia untuk tidak peduli sesama, apalagi menyakiti. Ketika manusia tidak peduli satu sama lain, maka dia menurunkan posisinya sebagai makhluk istimewa. Karena lagi-lagi, yang membuat manusia mempunyai kedudukan istimewa adalah harkat, martabat, dan rohani.

Dengan demikian, paham kemanusian ini akan memperkokoh landasan pergaulan hidup setiap manusia dalam upaya menyempurnakan aspek kemanusiaan (harkat, martabat, dan rohani), untuk mewujudkan pergaulan hidup yang lebih baik (sejahtera). Inilah paham kemanusiaan.

*Pegiat Literasi

Redaktur : Herlianto. A

Tags: DifabelMeraukeOknumpapuaTNI

Related Posts

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer
Ruang Cendekia

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer

Jumat, 4 Sep 2026
Siapa yang Berhak Disebut NU?
Ruang Cendekia

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Kamis, 3 Sep 2026
Karya Surya Burhanuddin, 50 Tahun Perjalanan Kasih: Surya & Sjenny (1976-2026). Foto/dok
Ruang Cendekia

Makna Hidup dan Kasih Sayang dalam Puisi

Kamis, 3 Sep 2026
Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan
Ruang Cendekia

Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan

Rabu, 2 Sep 2026
Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Ruang Cendekia

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Ruang Cendekia

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Next Post
Singapura ubah sampah jadi energi listrik/tugu malang

Sukses! Singapura Ubah Sampah Jadi Listrik

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.