Sabtu, Juni 6, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Insight

Menemukan Panggilan Hidup di Dunia Kedokteran: Perjalanan dr. Mohammad Syarif sebagai Dokter Sekaligus Pendidik

Redaksi by Redaksi
November 15, 2025 10:15 am
in Insight
Kisah dr Mohammad Syarif, Sp.OT, dokter sekaligus dosen FK UMM yang menaruh cinta besar pada dunia kedokteran sejak muda. /Foto: Dok. Pribadi for Tugumalang.id

Kisah dr Mohammad Syarif, Sp.OT, dokter sekaligus dosen FK UMM yang menaruh cinta besar pada dunia kedokteran sejak muda. /Foto: Dok. Pribadi for Tugumalang.id

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Dari seorang anak muda yang penuh rasa ingin tahu dengan dunia kedokteran, khususnya bedah hingga kini menjadi seorang dokter spesialis orthopedi sekaligus pendidik di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kisah dr. Mohammad Syarif, Sp.OT adalah cermin nyata dari pengabdian dan kecintaan terhadap ilmu kedokteran. Melalui perjalanan panjang, tantangan, dan pengalaman berharga, ia membuktikan bahwa impian besar dapat diraih dengan tekad dan dukungan yang kuat.

READ ALSO

Mahasiswa Ini Raup Cuan sambil Kuliah Melalui UB Mager

The Whisperer, Art Toys Horor yang Terinspirasi dari Sosok Astral Penunggu Jembatan Cangar

Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur itu mengungkapkan bawa sejak dari usia remaja ia menyukai dunia kedokteran. Ia mengaku tertarik dengan adegan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter dalam menangani pasien dan juga saat melakukan pembedahan.

Ketertarikan pada Dunia Kedokteran Sejak Muda

Rasa ketertarikan itu muncul ketika Syarif, begitu dirinya akrab disapa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan mulai mengenal Kedokteran. Ketertarikan yang terus berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Larang Thrifting Ilegal, Ini Kata Dosen FEB UMM Malang

“Dari awal memang senang bidang kedokteran, tepatnya dari SMP. Setelah SMP dan masuk SMA, rasa inginnya lebih tinggi untuk masuk kedokteran, jadi memang suka sejak dulu,” tuturnya kepada Tugumalang.id, Sabtu (15/11/2025).

 dr. Mohammad Syarif, Sp.OT. /Foto: Dok. Pribadi for Tugumalang.id.
dr. Mohammad Syarif, Sp.OT. /Foto: Dok. Pribadi for Tugumalang.id.

“Yang membuat saya suka kedokteran, karena saya senang melihat adegan dokter memeriksa, serta pembedahan itu saya suka sedari awal,” kenangnya.

Syarif menambahkan rasa cintanya terhadap dunia kedokteran juga karena ia merasa menjadi dokter memiliki misi sosial untuk membantu orang lain yang sedang diuji dengan penyakit dan rasa sakit.

Bagi alumni FK UMM tahun 2005 itu, membantu pasien untuk sembuh dan kembali beraktivitas seperti semula, termasuk ibadah menjadi kepuasan tersendiri baginya.

“Kedokteran ini punya misi sosial, membantu orang di mana kita bisa bekerja tetapi juga bisa bersosial, nah itu amalnya bisa terus,” ujarnya.

“Seperti sekarang, saya spesialis tulang ketika bisa berjalan kembali, apabila muslim dia bisa ibadah lagi, otomatis saya dapat pahalanya juga karena dia bisa kembali bergerak. Jadi itu dari awal memang suka kedokteran,” ungkap Syarif.

Dorongan utama yang berasal dari rasa empati mendalam terhadap orang lain. Ia merasa terpanggil untuk membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Hal itu melekat hingga ia menentukan pendidikan dan kariernya, memilih studi kedokteran dengan fokus pada bidang orthopedi, yang menangani masalah tulang dan otot.

Setelah menyelesaikan studi Sarjana Kedokteran pada tahun 2011, Syarif sempat bekerja di beberapa rumah sakit, sebelum akhirnya menempuh pendidikan spesialis di Universitas Brawijaya Malang pada tahun 2018.

Saat bekerja sebagai seorang dokter di beberapa rumah sakit di Banyuwangi, Syarif juga sebagai seorang pendidik di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) yang ada di sana.

Dukungan Orang Tua dan Merasakan Mengencangkan Ikat Pinggang

Di balik perjalanan panjangnya meraih gelar dokter spesialis orthopedi, Syarif mengakui bahwa peran besar kedua orang tuanya yang mendukung dan memberi semangat begitu penting dalam perjalanan kariernya.

Ia merasa sejak usia muda telah mendapatkan dukungan dari keluarga untuk memilih melanjutkan studi ke ilmu kedokteran. Meskipun di awal, dia sempat diberi beberapa opsi pilihan oleh ayahanda-nya antara bekerja atau melanjutkan studi.

Baca Juga: Mendikdasmen Ajak Kampus Muhammadiyah Kolaborasi Bangun Pendidikan Nasional Unggul dan Inklusif

“Dikasih tiga pilihan sama ayah, pilih bekerja, menikah, atau kuliah. Terus ditanya, kalau kuliah milih apa?, saya bilang Kedokteran,” ucap bapak tiga orang anak itu.

Walaupun tidak tumbuh dari keluarga dengan latar belakang sebagai seorang dokter, tetapi Syarif begitu yakin dengan pilihannya.

Dengan latar belakang orang tua sebagai seorang pedagang dan juga pengusaha kulit. Syarif mengaku perjalanan menempuh studi kedokteran tidaklah mudah dan melewati pasang surut karena kondisi ekonomi orang tua.

Untuk mengakali keterbatasan yang ada, Syarif sempat ikat pinggang yakni hidup berhemat. Sebagai seorang mahasiswa rantau yang paling penting baginya adalah bagaimana kuliah tetap lancar tanpa terganggu masalah biaya.

“Orang tua sangat mendukung karena kita punya niat ke sana (menjadi dokter), sehingga terpacu dan totalitas lah. Walaupun di perjalanannya, ekonomi sempat naik turun, bahasa saya ikat pinggang. Dalam perjalanan usaha kan enggak selalu lancar, ada fasenya turun, apalagi usaha perusahaan kulit,” terang Syarif.

“Saya sempat merasakan kulit harganya turun, sehingga terpaksa ikat pinggang dengan hemat sekali dan dialihkan ke kuliah kedokteran. Makanya saya ketika kuliah agak berbeda dengan teman-teman saya, sangat berhemat sekali dan paling untuk beli bensin, makan, dan kos,” bebernya.

Dia pun menepis anggapan bahwa kuliah kedokteran hanya untuk dari keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Syarif menyebut tidak semua mahasiswa kedokteran berasal dari keluarga yang berkecukupan.

“Enggak semua anak kedokteran background-nya orang kaya, ada juga yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Pengalaman Berkesan Menangani Pasien

Sebagai seorang dokter spesialis orthopedi yang juga aktif mengajar, pengalaman menangani pasien menjadi bagian penting yang menguatkan rasa cintanya kepada profesi ini.

Ia menyebutkan ada beberapa momen yang sangat membekas, terutama saat berhasil membantu pasien dengan kondisi emergency yang apabila telat melakukan tindakan akan berdampak pada hidup pasien tersebut.

Syarif menceritakan dengan detail bagaimana ia harus mengambil tindakan pembedahan dengan cepat dan melakukan operasi di tengah malam. Di mana ada dua kasus dalam penanganan pasien yang membekas dalam benaknya.

Peristiwa tersebut terjadi saat Syarif melaksanakan tugas di Rumah Sakit Sumber Sentosa Tumpang, Kabupaten Malang. Selain rumah sakit tersebut, ia juga tercatat sebagai salah satu dokter di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen Malang.

“Saya selama jadi orthopedi dapat dua kasus emergency. Pertama perempuan usia 17 tahun, waktu itu kejadiannya malam. Saya kerjakan antara jam 11 sampai jam 1 satu pagi, operasi selesai jam 2 atau setengah tiga, dengan risiko amputasi. Alhamdulillah berhasil dan orang tuanya nangis di depan ruang operasi,” kenang pria berusia 38 tahun itu.

“Kejadian trauma kecelakaan yang menyebabkan patah tulang tungkai. Kalau IGD (Instalasi Gawat Darurat) pada prinsipnya harus 24 jam dan ketika ada situasi dan kondisi emergency memang harus kita kerjakan saat itu juga,” jelasnya.

“Targetnya, kita mengusahakan bagian tubuh harus tetap hidup. Kalau kita terlambat mengerjakan bisa banyak yang terjadi, bisa rusak ototnya, bisa rusak saraf, bahkan sampai bisa amputasi. Di malam hari itu kita kerjakan, alhamdulillah kita ikhtiar dan Allah yang menentukan, pasien sudah bisa berjalan dan bahkan mendaki gunung,” tambah Syarif.

Pasca operasi, Syarif melakukan follow up terhadap kondisi pasien dan akrab dengan keluarga pasien sampai-sampai ia sempat dikasih sate dan gule ke tempat praktiknya. Pengalaman ini menjadi sesuatu hal yang begitu istimewa bagi Syarif selama menjadi seorang dokter spesialis orthopedi.

Sebagaimana slogan “Kamu yang Mematahkan, Kita Rangkai Kembali” dan “Kamu Hancurkan, Kita Tata Lagi” menjadi semangat baginya dalam melaksanakan tugas dan pengabdian sebagai seorang dokter.

Antara Dosen, Dokter, dan Waktu bagi Keluarga

Selain aktif praktik medis, Syarif juga memang peran penting sebagai dosen di FK UMM, tempatnya mengajar saat ini. Bagi dirinya, menjadi dosen bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan dan generasi penerus profesi kedokteran.

“Dua hal yang berbeda, jadi kalau kita sebagai dokter melakukan operasi adalah adrenalin, berhadapan dengan tulang yang patah dan darah. Sedangkan ketika mengajar, kita berhadapan dengan mahasiswa. Dua hal yang berbeda, mengajar kita membagikan ilmu, dosen tugasnya membagikan ilmu, nanti kalau ilmunya bermanfaat, kita yang dapat (pahala),” ungkap dokter yang hobi berenang tersebut.

Di tengah kesibukannya, Syarif membagi waktu secara proporsional antara pekerjaan, keluarga, dan melakukan interaksi sosial. Ia berupaya semuanya bisa berjalan dengan seimbang, meskipun tugas sebagai seorang dokter harus siap bekerja sewaktu-waktu saat mendapati pasien membutuhkan pertolongan cepat.

“Menyeimbangkan kehidupan, olahraga, menghilangkan stres ketemu dengan teman kemudian ngobrol-ngobrol biar enggak stres,” ujarnya.

“Karena tantangannya kita berhadapan dengan situasi yang berbeda dengan waktu yang padat. Kadang kurang tidur saat malam harinya,” imbuh Syarif.

Sementara untuk ambisi pribadi, Syarif mengaku tidak ada ambisi tertentu dan memilih mengikuti alur kehidupan. Baginya yang paling penting adalah berpedoman pada Khoirunnas Anfa’uhum Linnas, yakni sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

“Target enggak ada, yang penting berjalan saja, mengalir bisa memberi manfaat. Sesuai dengan motto sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,”. Pungkasnya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Bagus Rachmad Saputra

Editor: Herlianto. A

Tags: Dokter Spesialis OrthopediDosen FK UMMdr Mohammad SyarifFakultas Kedokteran UMMFK UMMKisah Inspiratif Dokterumm

Related Posts

Rachel Ruwaida, mahasiswa UB yang raih cuan melalui Komunitas UB Mager (Foto: Nathasya Amalia)
Insight

Mahasiswa Ini Raup Cuan sambil Kuliah Melalui UB Mager

Kamis, 4 Jun 2026
Penampakan 'The Whisperer', art toys karya Rino Adi Mardika yang terinspirasi dari hantu penunggu jembatan cangar. Foto: Azmy
Insight

The Whisperer, Art Toys Horor yang Terinspirasi dari Sosok Astral Penunggu Jembatan Cangar

Selasa, 5 Mei 2026
mie cendana
Insight

Tak Lupa Akar, Owner Mie Cendana Viral di Malang Buka Peluang Gandeng Produk UMKM Lokal

Sabtu, 2 Mei 2026
Sam HC (Heri Cahyono) bersiap mengelilingi dunia melintasi 14 negara. (Foto/M Sholeh)
Insight

Berbekal Tekat, Sam HC Tantang Diri Kelilingi Dunia dari Malang Naik Motor

Jumat, 1 Mei 2026
Proses pembuatan batik di Batik Seng. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Insight

Pengolahan Limbah Batik Seng, Dari Sisa Produksi Menjadi Sumber Daya Berkelanjutan

Kamis, 30 Apr 2026
Kisah CEO sekaligus Founder Thursina IIBS, Nur Abidin yang juga alumni Unisma tentang nilai dan karakter di kampus menjadi inspirasi mengembangkan lembaga pendidikan bertaraf global. /Foto: Tangkapan layar YouTube Unisma.
Insight

Jejak Gemilang Alumni Unisma: Tanamkan Nilai dan Karakter Islam Modern Melalui Lembaga Pendidikan Bertaraf Global

Rabu, 29 Apr 2026
Next Post
Prakiraan cuaca Malang hari Sabtu 15 November 2025 diperkirakan terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra

Prakiraan Cuaca Malang Sabtu 15 November 2025: Waspada Hujan Ringan Hingga Sedang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.