MALANG, Tugumalang.id – UMKM batik kerapkali dihadapkan dengan tantangan pengolaham limbah. Sisa lilin yang digunakan untuk membatik bisa mencemari lingkungan apabila tidak diolah dengan baik.
Batik Seng yang berada di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang telah menyadari risiko tersebut dan menerapkan pengolahan limbah agar bisnis mereka tetap ramah lingkungan. Mereka telah mendaur ulang limbah padat sejak lama dan akan menerapkan pengolahan limbah cair dalam waktu dekat.
Proses daur ulang limbah padat
Penanggung jawab Batik Seng, Evi Wahyu Astutik mengatakan, limbah padat batik yang dihasilkan dari proses produksi dikumpulkan terlebih dahulu hingga mencapai jumlah tertentu. Setelah itu, limbah tersebut diolah melalui proses pemanasan ulang dengan cara dimasukkan ke dalam air panas.
Baca Juga: Batik Kamulyan Bulukerto Angkat Elang Jawa sebagai Ikon Wastra Konservasi Kota Batu
Tahapan ini menghasilkan bahan yang dikenal sebagai malam lerop, yaitu malam hasil daur ulang. Malam lerop ini diolah dengan mencampurkan beberapa bahan tambahan seperti gondorukem, damar, sedikit minyak, dan parafin.

“Malam lerop itu hasil malam (lilin) daur ulang yang nantinya akan ditambahkan beberapa bahan,” ujar Evi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Komposisi bahan tersebut disesuaikan melalui resep tertentu, tergantung pada kebutuhan produksi. Batik tulis dan batik cap memiliki karakteristik berbeda, sehingga formulasi malamnya pun tidak sama.
Kualitas tetap terjaga
Salah satu kekhawatiran dalam daur ulang adalah penurunan kualitas. Namun, Evi memastikan kualitas malam hasil daur ulang tetap dapat dijaga. Kunci utamanya terletak pada komposisi resep yang digunakan.”Kualitas itu bisa diatur, tergantung resepnya,” kata Evi.
Baca Juga: Advokasi Belajar Membatik Bareng Penyandang Disabilitas: Langkah Kecil Celina dan Komunitas BBF
Ia menambahkan, perbedaan wilayah juga memengaruhi formulasi karena faktor suhu lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, setiap proses daur ulang selalu melalui tahap uji coba untuk memastikan kualitas tetap optimal.
Sebulan hasilkan 1 kuintal limbah padat
Dalam satu bulan, Batik Seng mampu memproduksi ratusan lembar kain batik. Dari proses tersebut, dihasilkan sekitar 100 kilogram limbah padat.
Limbah ini kemudian diolah dua kali dalam sebulan. Setelah melalui proses daur ulang dan penambahan bahan lain, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 150 hingga 200 kilogram malam siap pakai.
“Kami menunggu bahan-bahan terkumpul, baru kami lakukan daur ulang,” ucap Evi.
Tantangan limbah cair
Meskipun pengelolaan limbah padat telah berjalan baik, Batik Seng masih menghadapi tantangan limbah cair. Sisa air dari proses pewarnaan bisa mencemari lingkungan apabila tidak diolah terlebih dahulu.
Evi mengatakan, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada saat ini sudah tidak memadai. Oleh karena itu, Batik Seng tengah membangun fasilitas IPAL baru di lokasi produksi yang akan dipindahkan ke Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupatem Malang.
“Dalam waktu dekat ini sudah mulai beroperasi,” kata Evi.
Melalui IPAL baru ini, Evi berharap produksi batik di Batik Seng bisa lebih ramah lingkungan. Ia juga berharap limbah cair yang dihasilkan dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A


















