Malang – Wabah demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di wilayah Kota Malang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat, Kecamatan Sukun menjadi wilayah dengan temuan penyebaran kasus DBD terbanyak di Kota Malang dalam tiga tahun terakhir.
Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengatakan bahwa penanganan DBD terus menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Hal tersebut disebabkan angka temuan kasus yang masih tergolong tinggi setiap tahunnya.
“Setiap tahun DBD masih ada dan jumlahnya cukup besar. Artinya, DBD masih menjadi ancaman kesehatan di Kota Malang,” kata Husnul, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan data Dinkes Kota Malang, jumlah kasus DBD sepanjang tahun 2023 mencapai 462 kasus. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 777 kasus pada tahun 2024, sebelum turun menjadi 715 kasus pada tahun 2025.
Dominasi Kasus DBD di Kecamatan Sukun
Dalam pemetaan per kecamatan, Kecamatan Sukun tercatat sebagai wilayah dengan kasus DBD terbanyak secara berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, temuan kasus DBD di Sukun mencapai 118 kasus. Angka ini meningkat menjadi 192 kasus pada 2024 dan kembali berada di angka 192 kasus pada 2025.
Sementara itu, posisi kedua ditempati Kecamatan Blimbing, disusul Kecamatan Kedungkandang dan Lowokwaru. Kecamatan Klojen tercatat sebagai wilayah dengan tingkat penyebaran DBD terendah di Kota Malang.
Baca juga: Kasus Penyebaran DBD Kabupaten Malang Tembus 637 Orang per Mei 2025
Angka Kematian dan Dampak Serius DBD
Tidak hanya dari sisi penyebaran, Kecamatan Sukun juga mencatat angka kematian akibat DBD tertinggi di Kota Malang dalam tiga tahun terakhir, yakni mencapai enam kasus kematian. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Kedungkandang dengan empat kematian, Blimbing dua kematian, Lowokwaru satu kematian, dan Klojen nihil kematian.
Data tersebut menunjukkan bahwa DBD bukan hanya persoalan jumlah kasus, tetapi juga berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat jika tidak ditangani secara optimal.
Anomali Cuaca dan Penguatan Edukasi Masyarakat
Husnul menjelaskan, anomali cuaca menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus DBD, terutama saat musim penghujan yang memicu munculnya genangan air di berbagai titik, seperti pot bunga, wadah bekas, hingga tempat penampungan air.
“Maret dan April biasanya menjadi puncak kasus. Untuk itu, mulai sekarang kami minta 16 puskesmas dan 33 pustu lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kunci utama pemberantasan DBD adalah menghilangkan sarang nyamuk Aedes aegypti. Menurutnya, pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M dan 3M Plus masih menjadi langkah paling efektif dalam memutus rantai penularan.
“Kalau perindukan nyamuknya hilang, maka perkembangan nyamuk dari telur sampai dewasa bisa ditekan. Kalau itu ditekan, rantai penularan DBD juga ikut turun,” urainya.
Baca juga: Tips Jitu Hindari Penyebaran Virus Demam Berdarah
Dinkes Kota Malang juga mendorong seluruh instansi di daerah untuk menggalakkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk, seperti melalui program Jumat Bersih dan kegiatan kebersihan lingkungan lainnya. Masyarakat juga diimbau untuk aktif menjaga kebersihan rumah dan lingkungan guna meminimalisir genangan air.
Husnul mengungkapkan bahwa Angka Bebas Jentik (ABJ) Kota Malang saat ini masih berada di angka 92 persen, sementara angka ideal berada di kisaran 95 persen. Selisih tiga persen tersebut dinilai menjadi salah satu faktor masih terus ditemukannya kasus DBD.
Dinkes Kota Malang pun menargetkan agar kasus DBD pada tahun 2026 tidak mengalami lonjakan.
“Harus kita tekan di tahun ini dan jangan sampai kasus melonjak,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























