Selasa, Oktober 13, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Jundishapur dan Kedaulatan Intelektual: Refleksi Pendidikan dari Tanah Persia

Redaksi by Redaksi
April 6, 2026 7:52 am
in Ruang Cendekia
Ilustrasi Iran. Foto/Pinterest

Ilustrasi Iran. Foto/Pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr. Aries Musnandar & Dr. Mehdi Soltanzadeh*

Tugumalang.id – Strategi politik luar negeri Barat baru-baru ini menghadapi tembok besar yang tak terduga. Asumsi bahwa hilangnya sosok pemimpin tertinggi akan meruntuhkan Iran ternyata hanyalah fatamorgana. Sebaliknya, rakyat Iran justru bersatu dalam duka yang transformatif, dan dalam waktu singkat, transisi kepemimpinan terjadi tanpa guncangan berarti.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Sebagai pendidik yang mengamati pengembangan SDM, kita perlu bertanya: kekuatan apa yang sebenarnya mengikat bangsa ini sehingga mereka begitu
tangguh menghadapi pengkhianatan diplomasi dan embargo puluhan tahun?

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini 10 Fakta Menariknya

Jawabannya tidak terletak pada peta politik hari ini, melainkan pada akar sejarah yang menghujam sedalam 2.000 tahun melalui tradisi pemuliaan ilmu pengetahuan.

Jundishapur: Akar Peradaban Sains Dunia

Kecerdasan bangsa Iran (dengan rata-rata IQ 106) bukanlah produk instan pascarevolusi. Akar kedaulatan intelektual ini bermula di tanah Khuzestan, pada era Kekaisaran Sassanid, melalui sebuah kota universitas bernama Jundishapur.

Dibangun oleh Raja Shapur I dengan memadukan keahlian insinyur Iran dan
perancang Yunani, Jundishapur tumbuh menjadi episentrum keilmuan pertama di dunia yang melampaui batas-batas geopolitik.

Di kota ini, filsafat Timur dan kedokteran Yunani bersatu. Jundishapur menjadi rumah bagi para dokter dan filsuf lintas bangsa—Suriah, Yunani, hingga Yahudi—yang bermigrasi untuk merajut pohon pengetahuan.

Warisan Jundishapur inilah yang kemudian hari berpindah ke Baghdad melalui Baitul Hikmah pada era Abbasiyah, yang pada gilirannya memicu Renaisans di Eropa. Tokoh-tokoh besar seperti Al-Khwarizmi hingga Ibnu Sina adalah produk dari atmosfer ilmiah yang dibangun oleh fondasi budaya Iran yang memuliakan ilmu di atas segalanya.

Militansi Intelektual: Belajar Hingga Nafas Terakhir

Ada sebuah kisah heroik tentang Abu Rayhan al-Biruni yang menggambarkan etos SDM Iran. Di jam-jam terakhir hayatnya, seorang teman mengunjunginya.

Al-Biruni tetap mengajukan pertanyaan ilmiah yang rumit. Ketika sang teman bertanya, “Apa gunanya bertanya di saat sakaratul maut?”, Al-Biruni menjawab: “Lebih baik aku mati dengan mengetahui jawaban ini, daripada mati dalam ketidaktahuan.”

Baca Juga: Konflik Iran Vs AS Picu Pembatalan Wisatawan Eropa ke Jawa Timur

Budaya “mengetahui hingga saat terakhir” inilah yang kami sebut sebagai Militansi Intelektual. Budaya ini tidak hilang oleh perang maupun embargo. Inilah alasan mengapa Iran hari ini mampu menguasai teknologi nuklir, nanoteknologi, hingga sistem pertahanan secara mandiri.

Intelektualitas bagi mereka adalah senjata bela negara. Ketika diplomasi dikhianati dan pemimpin mereka menjadi target, rakyatnya tidak gentar karena mereka dididik untuk menjadi subjek sejarah yang mandiri secara kognitif.

“Lesson Learnt” bagi Ilmuwan Indonesia Kasus Iran memberikan pelajaran fundamental (lesson learnt) bagi ilmuwan dan akademisi di Indonesia. Pertama, pentingnya membangun “Kedaulatan Pikiran” (Cognitive Sovereignty).

Ilmuwan tidak boleh hanya menjadi pengekor tren riset global yang sering kali tidak relevan dengan kebutuhan nasional. Kita harus berani menentukan agenda riset sendiri berdasarkan tantangan riil bangsa, sebagaimana ilmuwan Iran yang dipaksa berinovasi oleh keadaan embargo.

Kedua, integrasi karakter patriotik dalam kepakaran teknis. Kecerdasan akademik tanpa jiwa nasionalisme hanya akan melahirkan fenomena brain drain, di mana putraputri terbaik bangsa lebih memilih mengabdi pada korporasi asing demi kenyamanan material.

Ilmuwan Indonesia perlu meneladani etos Al-Biruni: melihat ilmu sebagai amanah peradaban, bukan sekadar komoditas pasar kerja. Di bawah naungan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, kita memiliki mandat untuk mencetak manusia mandiri.

Namun, kemandirian itu hanya akan terwujud jika ilmuwan kita memiliki keberanian intelektual untuk tidak sudi didikte oleh standar luar yang justru melemahkan posisi tawar bangsa.

Otokritik Pendidikan: Mengapa Kita Tertinggal?

Lantas, mengapa saat ini kita seolah kehilangan “taring” dalam mencetak SDM setangguh itu? Masalahnya terletak pada Inkonsistensi Implementasi dan Hilangnya “Sense of Crisis”.

Iran membangun SDM militan karena mereka merasa dalam kepungan (Siege Mentality). Sebaliknya, sistem pendidikan kita sering kali terjebak dalam formalitas administratif dan ketergantungan pada pengakuan internasional yang semu.

Pendidikan kita cenderung menghasilkan lulusan yang cerdas secara kognitif tetapi rapuh secara karakter. Di Iran, intelektualitas adalah benteng kedaulatan; di tempat kita, ia sering kali hanya menjadi alat untuk mencari posisi nyaman. Iran membuktikan bahwa kemandirian, inisiatif kreatif, dan tanggung jawab hanya akan tumbuh jika pendidikan diletakkan di atas fondasi harga diri peradaban.

Penutup: Memulihkan Ruh Kemerdekaan

Kisah Jundishapur dan ketangguhan Iran hari ini memberikan pelajaran fundamental: kedaulatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak investasi asing yang masuk, melainkan seberapa tinggi kedaulatan pikiran rakyatnya. Bangsa yang merdeka secara intelektual mampu menelanjangi kecurangan global dan tetap berdikari meski dunia berusaha mengucilkannya.

Embargo dan serangan fisik terhadap Iran terbukti hanya mempercepat langkah mereka menuju kemandirian. Ini adalah “pekerjaan rumah” bagi kita untuk mengembalikan ruh kemerdekaan sejati ke dalam ruang-ruang kelas.

Kita perlu mencetak generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, namun memiliki grit dan tanggung jawab sejarah untuk menjaga martabat bangsa, sebagaimana Al-Biruni yang memuliakan ilmu hingga nafas terakhirnya.

 


*Dr. Aries Musnandar Doktor Bidang Pendidikan, Praktisi Akademisi, dan
Pemerhati Pengembangan SDM. 


*Dr. Mehdi Soltanzadeh Ilmuwan Sejarah Iran, Pensyarah Kanan dan dosen senior di Universiti Malaya, Malaysia.

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: IranJundishapurperang

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Daftar 10 SMP Islam Terbaik Malang tawarkan kecakapan akademik dan integrasi nilai-nilai keislaman. /Foto: Pinterest/Muh. Al-Haddar.

10 SMP Islam Terbaik di Kota Malang: Pilihan Pendidikan Islam Unggulan Tahun 2026

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.