Sabtu, Agustus 29, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Jundishapur dan Kedaulatan Intelektual: Refleksi Pendidikan dari Tanah Persia

Redaksi by Redaksi
April 6, 2026 7:52 am
in Catatan
Ilustrasi Iran. Foto/Pinterest

Ilustrasi Iran. Foto/Pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr. Aries Musnandar & Dr. Mehdi Soltanzadeh*

Tugumalang.id – Strategi politik luar negeri Barat baru-baru ini menghadapi tembok besar yang tak terduga. Asumsi bahwa hilangnya sosok pemimpin tertinggi akan meruntuhkan Iran ternyata hanyalah fatamorgana. Sebaliknya, rakyat Iran justru bersatu dalam duka yang transformatif, dan dalam waktu singkat, transisi kepemimpinan terjadi tanpa guncangan berarti.

READ ALSO

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Sebagai pendidik yang mengamati pengembangan SDM, kita perlu bertanya: kekuatan apa yang sebenarnya mengikat bangsa ini sehingga mereka begitu
tangguh menghadapi pengkhianatan diplomasi dan embargo puluhan tahun?

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini 10 Fakta Menariknya

Jawabannya tidak terletak pada peta politik hari ini, melainkan pada akar sejarah yang menghujam sedalam 2.000 tahun melalui tradisi pemuliaan ilmu pengetahuan.

Jundishapur: Akar Peradaban Sains Dunia

Kecerdasan bangsa Iran (dengan rata-rata IQ 106) bukanlah produk instan pascarevolusi. Akar kedaulatan intelektual ini bermula di tanah Khuzestan, pada era Kekaisaran Sassanid, melalui sebuah kota universitas bernama Jundishapur.

Dibangun oleh Raja Shapur I dengan memadukan keahlian insinyur Iran dan
perancang Yunani, Jundishapur tumbuh menjadi episentrum keilmuan pertama di dunia yang melampaui batas-batas geopolitik.

Di kota ini, filsafat Timur dan kedokteran Yunani bersatu. Jundishapur menjadi rumah bagi para dokter dan filsuf lintas bangsa—Suriah, Yunani, hingga Yahudi—yang bermigrasi untuk merajut pohon pengetahuan.

Warisan Jundishapur inilah yang kemudian hari berpindah ke Baghdad melalui Baitul Hikmah pada era Abbasiyah, yang pada gilirannya memicu Renaisans di Eropa. Tokoh-tokoh besar seperti Al-Khwarizmi hingga Ibnu Sina adalah produk dari atmosfer ilmiah yang dibangun oleh fondasi budaya Iran yang memuliakan ilmu di atas segalanya.

Militansi Intelektual: Belajar Hingga Nafas Terakhir

Ada sebuah kisah heroik tentang Abu Rayhan al-Biruni yang menggambarkan etos SDM Iran. Di jam-jam terakhir hayatnya, seorang teman mengunjunginya.

Al-Biruni tetap mengajukan pertanyaan ilmiah yang rumit. Ketika sang teman bertanya, “Apa gunanya bertanya di saat sakaratul maut?”, Al-Biruni menjawab: “Lebih baik aku mati dengan mengetahui jawaban ini, daripada mati dalam ketidaktahuan.”

Baca Juga: Konflik Iran Vs AS Picu Pembatalan Wisatawan Eropa ke Jawa Timur

Budaya “mengetahui hingga saat terakhir” inilah yang kami sebut sebagai Militansi Intelektual. Budaya ini tidak hilang oleh perang maupun embargo. Inilah alasan mengapa Iran hari ini mampu menguasai teknologi nuklir, nanoteknologi, hingga sistem pertahanan secara mandiri.

Intelektualitas bagi mereka adalah senjata bela negara. Ketika diplomasi dikhianati dan pemimpin mereka menjadi target, rakyatnya tidak gentar karena mereka dididik untuk menjadi subjek sejarah yang mandiri secara kognitif.

“Lesson Learnt” bagi Ilmuwan Indonesia Kasus Iran memberikan pelajaran fundamental (lesson learnt) bagi ilmuwan dan akademisi di Indonesia. Pertama, pentingnya membangun “Kedaulatan Pikiran” (Cognitive Sovereignty).

Ilmuwan tidak boleh hanya menjadi pengekor tren riset global yang sering kali tidak relevan dengan kebutuhan nasional. Kita harus berani menentukan agenda riset sendiri berdasarkan tantangan riil bangsa, sebagaimana ilmuwan Iran yang dipaksa berinovasi oleh keadaan embargo.

Kedua, integrasi karakter patriotik dalam kepakaran teknis. Kecerdasan akademik tanpa jiwa nasionalisme hanya akan melahirkan fenomena brain drain, di mana putraputri terbaik bangsa lebih memilih mengabdi pada korporasi asing demi kenyamanan material.

Ilmuwan Indonesia perlu meneladani etos Al-Biruni: melihat ilmu sebagai amanah peradaban, bukan sekadar komoditas pasar kerja. Di bawah naungan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, kita memiliki mandat untuk mencetak manusia mandiri.

Namun, kemandirian itu hanya akan terwujud jika ilmuwan kita memiliki keberanian intelektual untuk tidak sudi didikte oleh standar luar yang justru melemahkan posisi tawar bangsa.

Otokritik Pendidikan: Mengapa Kita Tertinggal?

Lantas, mengapa saat ini kita seolah kehilangan “taring” dalam mencetak SDM setangguh itu? Masalahnya terletak pada Inkonsistensi Implementasi dan Hilangnya “Sense of Crisis”.

Iran membangun SDM militan karena mereka merasa dalam kepungan (Siege Mentality). Sebaliknya, sistem pendidikan kita sering kali terjebak dalam formalitas administratif dan ketergantungan pada pengakuan internasional yang semu.

Pendidikan kita cenderung menghasilkan lulusan yang cerdas secara kognitif tetapi rapuh secara karakter. Di Iran, intelektualitas adalah benteng kedaulatan; di tempat kita, ia sering kali hanya menjadi alat untuk mencari posisi nyaman. Iran membuktikan bahwa kemandirian, inisiatif kreatif, dan tanggung jawab hanya akan tumbuh jika pendidikan diletakkan di atas fondasi harga diri peradaban.

Penutup: Memulihkan Ruh Kemerdekaan

Kisah Jundishapur dan ketangguhan Iran hari ini memberikan pelajaran fundamental: kedaulatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak investasi asing yang masuk, melainkan seberapa tinggi kedaulatan pikiran rakyatnya. Bangsa yang merdeka secara intelektual mampu menelanjangi kecurangan global dan tetap berdikari meski dunia berusaha mengucilkannya.

Embargo dan serangan fisik terhadap Iran terbukti hanya mempercepat langkah mereka menuju kemandirian. Ini adalah “pekerjaan rumah” bagi kita untuk mengembalikan ruh kemerdekaan sejati ke dalam ruang-ruang kelas.

Kita perlu mencetak generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, namun memiliki grit dan tanggung jawab sejarah untuk menjaga martabat bangsa, sebagaimana Al-Biruni yang memuliakan ilmu hingga nafas terakhirnya.

 


*Dr. Aries Musnandar Doktor Bidang Pendidikan, Praktisi Akademisi, dan
Pemerhati Pengembangan SDM. 


*Dr. Mehdi Soltanzadeh Ilmuwan Sejarah Iran, Pensyarah Kanan dan dosen senior di Universiti Malaya, Malaysia.

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: IranJundishapurperang

Related Posts

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Next Post
Daftar 10 SMP Islam Terbaik Malang tawarkan kecakapan akademik dan integrasi nilai-nilai keislaman. /Foto: Pinterest/Muh. Al-Haddar.

10 SMP Islam Terbaik di Kota Malang: Pilihan Pendidikan Islam Unggulan Tahun 2026

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.