MALANG, Tugumalang.id – Guru Besar Bidang Administrasi Publik dan Reformasi Birokrasi Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said, M.M, Ph.D menuangkan pemikirannya tentang penyelesaian konflik dan perdamaian dunia.
Buku berjudul Pengantar Studi Konflik, Perdamaian, dan Resolusi Konflik yang diterbitkan penerbit Kompas pada 2025 ini, dirasa sangat relevan dengan kondisi saat ini, di tengah konflik global yang melibatkan Iran dan koalisi Israel serta Amerika Serikat.
Dalam buku ini, Prof. Mas’ud menganalisis konflik yang sering terjadi di kawasan dunia dan konflik internal antar suku dan pemimpin agama. Buku sebanyak 9 bab ini juga menyangkut analisis konflik, pertentangan antar etnis dan perang, serta resolusi konflik.
Terilhami dari Gus Dur dan Tokoh Dunia
Prof. Mas’ud mengaku bahwa pemikiran yang dituangkannya dalam buku Pengantar Studi Konflik, Perdamaian, dan Resolusi Konflik terinspirasi dari pemikiran Presiden Keempat Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menurutnya pemikiran Gus Dur tentang perdamaian dan penyelesaian konflik sangat relevan dengan kondisi saat ini. selain Gus Dur, sosok Guru Besar yang bersahaja ini juga terinspirasi dari beberapa tokoh-tokoh perdamaian dunia, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Nelson Mandela.
“Dunia butuh sosok seperti mereka, kini sudah tidak ada lagi. Yang ada hari-hari ini pemimpin yang rakus kekuasaan yang mengatas. Namakan rakyatnya untuk perang, hipokrit, mengatakan ingin damai tapi membunuh orang tak bersalah di berbagai belahan dunia dan menguasai sumber-sumber strategis ekonomi secara tidak sah,” ungkapnya kepada Tugumalang.id, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Resilien, Kompetitif, dan Kontributif: Tiga Jurus Ampuh ala Prof. Mas’ud Said agar Bank Daerah Maju, Dituangkan dalam Bentuk Buku!
Kebutuhan Perdamaian dan Pendidikan Perdamaian
Lebih lanjut, Prof. Mas’ud menjelaskan dalam buku tersebut membahas tentang perang dan konflik internasional dan kemungkinan pengaruhnya di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Menurutnya dalam kaitan ini muncul kebutuhan perdamaian dan pendidikan perdamaian (peace education).
Ia menyebut bahwa secara alamiah, semua manusia hidup dalam konteks bersama atau berhubungan dengan orang lain atau lingkungan yang berbeda-beda. Dalam konteks hidup bersama, dapat dipastikan manusia berada dalam beberapa kesamaan (similarities) dan hidup dengan berbagai perbedaan (diferensiasi).
“Secara individual, manusia sebagian kecil saja yang memiliki kesamaan dalam banyak hal. Umumnya terkungkung dalam keadaan berbeda sifat, bermacam karakter dan perbedaan tujuan dengan beragam kepentingan politik atau interest keuntungan, bukan ideologi,” bebernya.
Perbedaan dan kesamaan inilah yang dirasa sebagai sesuatu yang natural, alamiah, dan manusiawi. Diferensiasi itu luas, dalam konteks kepribadian dalam struktur keluarga, dalam masyarakat, dalam organisasi bisnis, dalam lembaga pemerintahan maupun dalam konteks hubungan antar negara.
Baca juga: Direktur Pascasarjana Unisma Menjadi Penasehat Akademik Internasional The Global Business College Thailand
Dari sinilah muncul konflik, situasi perbedaan ini bagi Prof. Mas’ud sebagai tempat natural konflik. “Tak dapat dipungkiri, semua manusia ingin kedamaian, baik pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain,” ujar Prof. Mas’ud.
“Perdamaian juga didambakan dalam konteks sosial, dalam kaitan hubungan bisnis perusahaan serta hubungan antar negara,” imbuhnya.
Secara filsafati, perdamaian itu adalah terhindarnya konflik dan situasi tanpa pertentangan baik dalam dimensi personal dan dimensi sosial. Keluarga dipandang sebagai jantung pendidikan perdamaian.
Dalam ajaran agama, bahwa secara mendasar bahwa semua orang secara individu cinta hidup damai. Dalam istilah lain, manusia memiliki sifat hanif, cenderung suci dan halus. Perdamaian itu dinamis, tapi damai itu ada dalam gen kemanusiaan kita.
Cendekiawan dan ilmuwan maupun politikus dan pemimpin pemerintahan mau tidak mau, terpikir untuk mengajak pendidik, kepala keluarga dan membayangkan apabila generasi muda dan penduduk dunia dapat mengenyam pendidikan perdamaian sejak dini.
Paradoks Politik: Menginginkan Perdamaian tapi Memilih Jalan Perang
Tentang konflik yang melibatkan pemimpin politik dunia terdapat paradoks, di mana tim perdamaian bekerja dan melakukan resolusi ratusan kali, sesungguhnya dunia tidak sedang baik-baik saja.
Usaha-usaha diplomasi dibarengi dengan peluncuran senjata militer dan jatuhnya korban, termasuk mereka yang sedang belajar dan membina keutuhan dan ketentraman keluarga di rumah.
“Manusia itu disamping disebut sebagai penciptaan Tuhan yang paling sempurna, ahsani taqwiim, juga disebut sebagai insan yang penuh lupa dan suka bersaing dan bertengkar. Manusia adalah makhluk Tuhan yang penuh konflik, penuh pertentangan. Manusia itu homo conflictus,” terang Prof. Mas’ud.
Baca juga: Wujudkan World Class University Mission 2027, UNISMA Gandeng PCINU Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia
“Menurut para ahli, tidak semua konflik sifatnya negative. Ada sisi positifnya. Konflik tertentu yang terkendali dalam organisasi publik bisa mengundang kemajuan,” sambungnya
Berangkat dari pemikiran tidak ada manusia yang tidak ingin hidup damai, meski saat ini di tengah kehidupan masyarakat, beberapa unsur negara dan tatanan dunia sedang tidak baik-baik saja. Tetapi manusia tetap butuh hidup damai, tatanan masyarakat dan organisasi butuh harmoni.
Oleh karena itu, Prof. Mas’ud menilai cendekiawan di kampus maupun pemimpin organisasi memimpikan perdamaian. Inilah mengapa pendidikan perdamaian sangat penting untuk menanamkan komitmen dalam kesadaran manusia tentang pentingnya menjaga kedamaian dan kerukunan.
“Pendidikan perdamaian dengan demikian sangat penting. Pendidikan bertujuan untuk menanamkan komitmen dalam kesadaran manusia terhadap cara-cara hidup yang damai,” tegasnya.
Pentingnya Pendidikan Perdamaian
Sama seperti siswa dalam kelas pendidikan perdamaian diajarkan keterampilan untuk menyelesaikan masalah yang timbul akibat kekerasan. Kekerasan sosial dan peperangan dapat dipandang sebagai suatu bentuk patologi, laksana sebuah penyakit.
Di tingkat pendidikan formal, siswa dibekali dengan kemampuan untuk mengelola konflik secara non-kekerasan dan diarahkan untuk memiliki keinginan menyelesaikan konflik secara damai.
Menurut Prof. Mas’ud pendidikan ini berfungsi layaknya vaksin yang berupaya melindungi individu dari dampak buruk kekerasan. Dengan mengembangkan pemahaman bahwa kedamaian adalah landasan yang esensial untuk menciptakan kehidupan yang adil dan berkelanjutan.
Hal tersebut juga mencerminkan bahwa dalam pendidikan perdamaian sama pentingnya dengan investasi dalam bidang kesehatan.
“Jika masyarakat bersedia menghabiskan sumber daya untuk melatih dokter demi menyembuhkan penyakit fisik, maka seharusnya mereka juga berkomitmen untuk mendidik warganya agar mampu menjalankan kehidupan tanpa kekerasan,” ucap Prof. Mas’ud
Para pendidik perdamaian memanfaatkan berbagai metode pengajaran untuk mengembangkan kesadaran damai yang menjadi kunci bagi masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Mereka tidak hanya mengajarkan keterampilan penyelesaian konflik, tetapi juga membangun pola pikir yang menghargai dialog, saling pengertian, dan empati.
Dapat dipahami bahwa pendidikan perdamaian tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan tentang cara mencapai perdamaian, tetapi juga mendorong penerapan pedagogi yang mencerminkan praktik yang damai dan demokratis.
Perdamaian Dunia Harus Terwujud
Prof. Mas’ud menilai perdamaian dapat terwujud apabila komponen pentingnya terpenuhi, sebagaimana pendapat Senghaas (2004) yang mengajukan 6 (enam) komponen perdamaian dari pembelajaran dalam pendidikan perdamaian.
Pertama, yakni mengacu pada tanggung jawab negara dalam mengelola penggunaan kekuatan secara sah dan terkendali untuk melindungi warganya serta menjamin ketertiban sosial.
“Hal ini menekankan pentingnya negara sebagai aktor utama dalam mencegah kekerasan, memastikan keamanan, dan menjamin keadilan tanpa penggunaan kekuatan yang sewenang-wenang,” jelas Prof. Mas’ud
Baca juga: Kisah Sukses Prof M Mas’ud Said, Doa Orang Tua dan Berguru pada Orang Hebat
Kedua, menekankan bahwa semua individu, termasuk pemimpin negara, tunduk pada hukum yang adil dan transparan. Prinsip ini menjadi dasar untuk memastikan keadilan, melindungi hak asasi manusia, dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.
Hukum yang ditegakkan secara adil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penyelesaian konflik melalui jalur damai dan menjamin bahwa perdamaian dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Ketiga, pentingnya saling ketergantungan dan kemampuan individu atau kelompok untuk mengendalikan emosi dalam situasi konflik. Hal ini mengajarkan bahwa masyarakat yang damai dibangun melalui kesadaran akan kebutuhan kolektif dan hubungan yang harmonis antar individu maupun antar negara.
Keempat. prinsip penting yang memastikan semua individu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Pendidikan perdamaian mendorong siswa untuk memahami bahwa partisipasi demokratis tidak hanya memperkuat legitimasi kebijakan, tetapi juga menciptakan ruang bagi penyelesaian konflik secara dialogis.
Kelima mengurangi kesenjangan sosial dan ketidakadilan, karena kesenjangan sosial adalah salah satu sumber konflik itulah mengapa usaha perdamaian itu dengan memastikan akses yang setara terhadap sumber daya, dan menciptakan masyarakat yang inklusif, di mana tidak ada pihak yang merasa terpinggirkan.
Keenam sosialisasi budaya damai dan pendidikan perdamaian sejak dini. Melalui pendidikan perdamaian, nilai-nilai ini diajarkan sebagai cara untuk membangun masyarakat yang lebih adil, empatik, dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Dialog dan Mendidik Diri
Dalam konteks ini,pendidikan tidak hanya berfokus pada upaya menciptakan manajemen konflik yang konstruktif, tetapi juga melibatkan dimensi partisipasi aktif dari berbagai pihak dalam keluarga.
Hal ini menciptakan kesadaran bahwa transformasi konflik tidak cukup hanya dengan menghilangkan kekerasan, melainkan juga harus mencakup penguatan kerangka partisipasi dan penegakan hukum yang mendukung.
Baca juga: Hadir di MUI Kota Batu, Prof M. Mas’ud Said: Kunci Kerukunan Bangsa Itu Letaknya pada Kehendak untuk Bersatu
Dalam praktik pendidikan perdamaian, uswah hasanah dan partisipasi merupakan langkah strategis untuk berdialog dengan individu yang belum sepenuhnya mengerti rasa damai.
Pendidikan perdamaian seringkali didahului oleh pengamalan individu-individu. Pendidikan pertama yang paling mendasari generasi muda adalah contoh teladan pimpinan keluarga termasuk ayah. Pendidikan perdamaian (peace education) dan praktek perdamain tak bisa dihasilkan dalam rapat dan resolusi tingkat tinggi.
“Harus ada dasarnya pendidikan perdamaian harus fokus dalam proses yang kontinu dalam keluarga, mengembangkan kebiasaan untuk damai dan terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman edukasi Ibu selama hidup dalam keluarga,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko





























