Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Berita

Jelajah Perkebunan Sawit di Malang Selatan, Tumbuh Subur dan Sulit Ditebas

Redaksi by Redaksi
Mei 27, 2021 3:57 pm
in Berita
Perkebunan sawit di Malang. Foto: Rizal Adhi

Perkebunan sawit di Malang. Foto: Rizal Adhi

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Keberadaan sawit di Kabupaten Malang utamanya di Malang Selatan masih menjadi pro dan kontra. Banyak yang ragu jika pohon sawit pernah eksis di wilayah pesisir pantai selatan tersebut. Namun, beberapa aktivis juga membenarkan keberadaan tanaman asal Nigeria tersebut.

Oleh karena itu, tugumalang.id bersama Lembaga Konservasi Sahabat Alam Indonesia (Salam) bersama Dosen Jurusan Biologi Universitas Brawijaya (UB), Prof Luchman Hakim; serta 2 mahasiswa UB sekaligus Volunteer Salam, Agus Nurrofik dan Afina Aninnas; bersama-sama menguak bagaimana kenyataan di lapangan, apakah sawit benar-benar eksis di Malang Selatan atau tidak?

READ ALSO

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

Wilayah pertama yang didatangi adalah di wilayah Dusun Sumberrejo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Kami mendapatkan informasi bahwa beberapa perkebunan warga sudah ditanami pohon sawit sejak 2012.

Perkebunan sawit di Malang. Foto: Rizal Adhi

Saat kami sampai di Dusun Sumberrejo, ternyata benar ada berhektar-hektar tanah yang ditanami sawit. Warga tidak menjelaskan pasti berapa hektare total luas tanah mereka, yang pasti jika ditotal, ada lebih dari 5 hektare lahan yang ditanami sawit.

Tanah-tanah tersebut adalah milik warga yang mendapatkan bibit sawit secara gratis sejak 2012 lalu. “Saya dapat itu kalau tidak salah sejak 2012 lalu dari salah satu lembaga secara gratis. Katanya kalau kita mau menanam dijanjikan harganya bisa Rp 2.000 per Kg,” tutur salah satu mantan petani sawit, Parmin (50), di rumahnya di Dusun Sumberrejo, pada Rabu (26/05/2021).

Namun kenyataannya, harga sawit terus menurun hingga mencapai Rp 800 per Kg. Hal ini membuat Parmin tidak lagi mengurus perkebunan sawitnya. Tanaman tersebut dibiarkan tumbuh liar karena dia kesulitan memusnahkan tanaman tersebut.

Perkebunan sawit di Malang. Foto: Rizal Adhi

“Mau gimana lagi, harganya sudah anjlok gak sesuai yang dijanjikan. Mau saya tebang juga malah nambah biaya,” tuturnya.

Bahkan, di salah satu petak tanah di Dusun Sumberrejo yang dulunya adalah sawah basah yang ditanami padi, kini tanah tersebut mengering dan tidak ada lagi air mengalir seperti dulu.

Berlanjut ke wilayah lain, lahan sawit juga ditemukan di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Di sana, hamparan sawit juga sedikit lebih luas daripada yang ada di Dusun Sumberrejo.

Perkebunan sawit di Malang. Foto: Rizal Adhi

Tidak jauh berbeda dengan yang ada di Dusun Sumberrejo, sawit-sawit di sana juga sudah tidak diurus kembali. Bahkan, beberapa tanaman sawit nekat di tebang menggunakan gergaji mesin. Namun, tetap saja tanaman tersebut masih sulit disingkirkan dan batang-batangnya memutih tidak segera membusuk, sekilas terlihat seperti candi.

Founder Lembaga Konservasi Sahabat Alam Indonesia (Salam), Andik Syaifudin, mengatakan bahwa bukan tanpa alasan pihaknya menolak mentah-mentah rencana Bupati Malang, Muhammad Sanusi, untuk membuka lahan sawit di Kabupaten Malang.

“Sebenarnya kita para aktivis menolak sebuah kebijakan tergantung dampak positif dan negatif sosial lingkungan, mana yang lebih banyak positifnya dan mana yang kebih banyak negatifnya. Jadi, kita tidak serta merta menolak pembangunan, tapi jika kebijakan itu bagus kita dukung dan kalau jelek kita kritis dengan solusi,” terangnya.

Menurutnya, lebih banyak dampak sosial ekonomi yang dibuat oleh sawit daripada tanaman agroforestri yang lainnya.

“Sementara untuk sawit kenapa kita menolak, itu karena dampak sosial lingkungan lebih banyak daripada tanaman agroforestri yang lain seperti kopi, cengkeh, kelapa, karet, dan lainnya. Kita tidak pernah melihat aktivis menolak itu (kopi, cengkeh, dll), tapi ketika sawit mulai dari harga, dampak sosialnya, sampai dampak ekologisnya itu lebih banyak,” ungkapnya.

Menurutnya, Pulau Jawa dan Malang memiliki beban penduduk 65 persen lebih banyak daripada daerah lain di Indonesia.

“Belum lagi di Malang Selatan adalah kawasan karst atau airnya itu di bawah permukaan kapur. Itu juga akan mempengaruhi sosial ekonomi masyarakat,” bebernya.

“Oleh karena itu, kita selalu mempertanyakan kenapa harus sawit di Malang, kenapa tidak produk-produk agroforestri lain yang sudah ada di Malang seperti cengkeh, kopi, kelapa, dan buah-buahan lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, sawit hanya bisa dijual di pabrik sehingga rawan terjadi monopoli harga. Berbeda dengan komoditas lain seperti cengkeh, kopi, kelapa, dan lainnya yang bisa dijual secara bebas.

“Karena kalau itu (cengkeh, kopi, kelapa dan lainnya) dikembangkan, maka akan menjadi sebuah produk ciri khas di Malang itu sendiri. Jadi, ketahanan pangannya lebih kuat, dan akan mendekatkan antara petani dan pembeli. Sehingga para petani tidak akan dipermainkan oleh tengkulak,” paparnya.

“Sedangkan sawit tidak bisa dijual bebas secara umum, karena hanya terpaku kepada pabrik. Sehingga kalau itu menjadi perkebunan homogen dan dijual ke pabrik maka akan terjadi monopoli harga baik harga buah sawit, harga pupuk,” sambungnya.

Selain karena perawatan yang mahal dan melelahkan, untuk beralih dari sawit juga tidak kalah susah. Tanaman tersebut terkenal bandel untuk disingkirkan dan dijadikan lahan komoditas lain.

“Untuk merawat sawit hidup juga lumayan mahal, karena butuh tenaga, waktu, dan materi untuk membersihkan pelepahnya sampai mendekati buah pasir. Dan bagi mereka yang sudah kecewa terhadap harga sawit hancur dan lainnya, itu untuk memotong sawit memerlukan biaya yang lebih mahal,” beber pria ramah senyum ini.

“Kesulitan dari petani yang mau beralih dari sawit sendiri adalah karena yang bisa dimanfaatkan dari sawit hanya buahnya. Sedangkan dari batang sampai pelepahnya tidak bisa dimanfaatkan kecuali dibakar,” tambahnya.

Padahal menurutnya, jika warga menanam kelapa saja, seluruh bagian pohon tersebut bisa dimanfaatkan dan dijual. “Ini berbeda ketika mereka menanam kelapa, kelapa saja kalau sudah tidak produktif kayunya dipotong masih laku. Lalu proses dia tumbuh mulai dari janur, kelapa muda, kelapa tua, serabut kelapa, batok kelapa, daging kelapa, dan air kelapa semua bisa dipakai,” ungkapnya.

Menurutnya, kelapa biasa dalam sebulan bisa menghasilkan uang mencapai Rp 2,5 juta dengan memilih 50 pohon saja.

“Selain itu harganya juga lebih bagus, contohnya kalau warga memiliki 50 pohon mereka panen sebulan sekali dan ada yang 15 hari sekali itu bisa 500 buah pohon,” bebernya.

Sedangkan sawit hanya menghasilkan uang Rp 400 ribu dengan jumlah pohon yang sama, yaitu 50 pohon.

“Kalau sawit anggap saja buah segarnya Rp 800 per Kg, kalau mereka punya 50 pohon sawit katakanlah menghasilkan 10 Kg per pohon, makanya tinggal kalikan 50 dikali 10 Kg dikalikan lagi Rp 800,” jelasnya.

“Makanya itu tidak sebanding dengan tenaga, waktu, pemikiran dan pupuk yang mereka lakukan,” imbuhnya.

Terakhir, Andik mengatakan bahwa penanaman sawit di Kabupaten Malang cepat atau lambat akan menimbulkan bencana ekologi yang baru.

“Kita melawan sawit bukan hanya cocok tidak cocok, tapi dari dampak sosial, ekonomi, dan ekologisnya itu sudah tidak sebanding. Ketika ini sudah dimasifkan (penanaman pohon kelapa sawit), kita sudah bersiap-siap dengan ancaman bencana ekologi baru di Malang Selatan,” pungkasnya.

Reporter: Rizal Adhi

Editor: Lizya Kristanti

Related Posts

Ilustrasi Orang Menonton Video Pendek di Sosial Media (Foto: Pinterest)
Berita

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 8 Mei 2026
Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Wikipedia
Berita

Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

Selasa, 28 Apr 2026
Kubah Masjid At-Taqwa di Karangploso jatuh akibat terpaan angin kencang. Foto: BPBD Kabupaten Malang
Berita

Angin Kencang di Karangploso Rusak 10 Bangunan, Kerugian Total Rp119,5 Juta

Selasa, 7 Okt 2025
Yai Mim membeberkan rencana pindah rumah (M Sholeh)
Berita

Usai Jalani Pemeriksaan Polisi, Yai Mim Ungkap Rencana Pindah Rumah

Selasa, 7 Okt 2025
Kursi kursi yang dipersiapkan untuk audiens acara dakwah Dr Zakir Naik di Starion Gajayana, Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Berita

Panitia Siapkan 10 Ribu Kursi untuk Acara Dakwah Dr Zakir Naik di Stadion Gajayana Malang

Kamis, 10 Jul 2025
Jemaah haji asal Kepanjen, Sukardi dilaporkan hilang di Makkah. Foto: dok. Keluarga
Berita

Jemaah Haji Asal Kabupaten Malang Dilaporkan Hilang di Makkah

Selasa, 24 Jun 2025
Next Post
Dilema Mantan Petani Sawit: Ditebang Merepotkan, Tidak Ditebang Bikin Rugi

Dilema Mantan Petani Sawit: Ditebang Merepotkan, Tidak Ditebang Bikin Rugi

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.