Oleh: Masbahur Roziqi*
Tugumalang.id – Selamat hari kesehatan mental sedunia. Peringatannya jatuh pada Jumat (10/10/2025) kemarin. Tonggak yang memang selalu banyak orang tandai tiap tahun. Penandaan ini perlu sikap. Tidak hanya sekedar lewat. Atau hanya sekedar mengenang rutin.
Salah satunya bisa melalui menjaga pendidikan. Menjaga pendidikan berarti merawat kesehatan mental personel di dalamnya. Baik murid maupun guru.
Pentingnya menjaga kesehatan mental bukan pilihan. Itu merupakan kewajiban. Abainya menjaga kesehatan mental dapat membawa malapetaka. Tidak hanya jangka pendek, melainkan juga jangka panjang.
Ketika muncul luka akibat kesehatan mental, dampaknya memang tidak serta merta terlihat. Walau pun ada tanda-tanda pada sikap individu. Namun ada pula yang tanpa tanda-tanda. Ini yang menjadi alarm.
Baca Juga: Pendidikan Bahasa Inggris Unisma Tegaskan Kiprah Global di Dunia Pendidikan setelah Raih Akreditasi Unggul dan Miliki Guru Besar ICT in ELT
Salah satu upaya pertama yang tiap individu lakukan lihat sekeliling. Lihat orang sekitar anda. Lihat orang-orang terdekat anda. Jika itu murid, lihat dan amati kesehariannya.
Ada kah sikap berbeda? Apakah murid tiba-tiba menarik diri? Apakah murid tiba-tiba banyak memandangi gambar atau foto sesuatu? Atau mungkin dia menyampaikan kekecewaan terkait sesuatu secara terus menerus?
Semua perubahan sikap yang berlangsung secara berangsur-angsur apalagi mendadak yang berbeda dari biasanya kemungkinan mengarah pada apa yang sedang dia rasakan.
Kepedulian pada perubahan sekecil apa pun sangat perlu individu tumbuhkan. Bukan berniat memelihara keyakinan irasional. Melainkan bentuk kepedulian.
Kita tidak berarti ingin terlalu masuk mencampuri kehidupan orang lain. Tentu tidak. Tiap orang memiliki hak privasi kehidupannya masing-masing. Namun pemosisian untuk peduli terhadap kondisi orang lain adalah fitrah manusia.
Makhluk sosial, saya kira istilah ini cukup banyak kita kenal. Ya peduli sebagai makhluk sosial. Kita cukup melihat, mengamati dan merasakan tanpa perlu mengucapkan. Apalagi mencerca orang lain.
Baca Juga: Memahami Coping dan Healing: Strategi Menjaga Kesehatan Mental yang Seimbang
Kepedulian dengan merasakan dan memunculkan empati pada diri telah cukup menjadi bagian pemenuhan fungsi sebagai makhluk sosial.
Seiring berkembangnya teknologi memang berdampak pada bentuk relasi interpersonal individu. Tidak terkecuali pada insan pendidikan.
Murid dan guru juga sudah mulai tumbuh dalam interaksi dengan berbagai gadget. Tenggelam pada era interaksi media sosial. Info-info tumbuh begitu cepat. Berbagai jenis gaya hidup juga mulai bermunculan.
Termasuk interaksi sehari-hari juga berpindah ke media sosial baik percakapan whatsapp maupun instagram. Kedua media sosial yang banyak guru dan murid pakai. Baik untuk pelaksanaan kegiatan akademik maupun penguatan personal dalam dunia maya.
Ada kalanya interaksi itu tak berjalan mulus. Kerentanan rawan muncul. Seperti kemungkinan munculnya perundungan pada postingan yang guru atau murid unggah. Kesempurnaan citra diri yang dituntut muncul pada citra guru dan murid di media sosial bisa berimbas ganda.
Satu sisi jika memaknai dari sisi rasional akan menjadi bagian dari warna dinamika pendapat orang lain terhadap sesuatu. Namun sisi lain ketika sudah masuk ranah keyakinan irasional, maka akan menjadi serangan personal atas sebuah ekspresi diri guru atau murid.
Belum lagi jika memang komentar-komentar tersebut menjadi bagian dari perundungan sistematis yang dilakukan orang atau kelompok tertentu. Maka menjadi makin jelas lah imbas penggunaan media sosial bagi guru dan murid.
Sangat mungkin guru dan murid tergerus kesehatan mental nya ketika mereka berinteraksi melalui media sosial. Guru misalnya ketika mereka melakukan postingan yang menurut banyak khalayak tidak sesuai jati diri sebagai seorang pendidik, tentu akan mendapat banyak kritik.
Saat sudah viral, maka kritik akan menjadi tekanan perubahan yang besar. Mereka pun menjadi konten media sosial itu sendiri. Tentu dengan tagar yang menjadi sasaran kritik atas tindakannya.
Semakin besar perhatian, maka akan semakin tinggi pula keingintahuan para pengguna media sosial atas apa yang dia unggah atau fenomena dia terunggah di media sosial.
Jika keyakinan irasional guru terus menumpuk dan dia tidak bisa mengendalikannya maka kesehatan mentalnya juga akan terganggu.
Begitu pula ketika guru mengalami kesulitan dalam finansialnya. Bisa saja karena tidak tercukupinya kebutuhan pokoknya. Sementara penghasilan yang dia peroleh melalui profesinya sebagai guru juga tidak mampu menutupi kebutuhan dia dan keluarganya.
Saat dia berada pada posisi harus memastikan dapur tetap ngebul, profesional dalam pekerjaannya, dan mungkin tuntutan tugas profesional yang tentu harus dia laksanakan dengan maksimal, ini juga akan berdampak pada kesehatan mentalnya.
Demikian pula dengan yang terjadi pada murid. Interaksi pada grup WA misalnya. Tidak jarang murid memiliki grup WA tersendiri. Isi penghuni grup hanya mereka dan teman-temannya.
Media sosial instagram juga sama. Ada IG yang memang untuk mereka perlihatkan pada orang tua dan guru nya. Namun ada juga IG yang hanya khusus mereka saja. Ciri nya dengan privasi akun atas orang-orang yang tidak dia kehendaki untuk dapat melihat isi postingan IG nya.
Potensi adanya perundungan, peretasan, bahkan terjadinya pemerasan seksual bisa saja terjadi. Misalnya ada orang-orang asing yang mengunduh atau mengambil layar foto murid pada media sosialnya.
Kemudian foto itu diedit menjadi gambar-gambar porno. Setelah itu si pelaku mengancam murid untuk membayar sejumlah uang agar gambar tidak disebar.
Atau bisa juga pelaku merayu murid untuk mengirimkan video atau foto tanpa busana dengan iming-iming uang. Setelah itu mereka memerasnya. Bisa dengan meminta uang atau meminta lebih banyak foto untuk mereka salah gunakan pada orang lain.
Potensi kerugian yang akan guru dan murid alami melalui media sosial tersebut sangat rawan menjadi gangguan pada kesehatan mentalnya.
Bagaimana menjaga agar fenomena itu bisa dikendalikan agar tidak menjadi ganggan kesehatan mental berkelanjutan? Dukungan sosial orang-orang terdekat dan di sekitarnya.
Salah satu wujud dukungan sosial yakni kita mendengarkan tanpa menghakimi. Tidak semua orang bisa. Tapi bukan berarti tidak bisa. Silakan melatih diri dengan membiasakan mendengarkan orang lain tanpa menghakimi apa yang telah dia lakukan.
Dengarkan dan berikan bahasa tubuh penerimaan atas apa yang murid/guru sampaikan. Tidak memotong pembicaraannya. Atau bahkan memakinya dalam pembicaraan.
Tunjukkan bahwa dengan mendengarkan kita ada untuk mereka. Terlepas apa yang mereka sampaikan sesuai dengan prinsip kita atau tidak. Tapi hadirkan diri kita untuk mendengarkan tanpa menjadi hakim yang menvonis benar salah guru/murid tersebut.
Melalui cara itu setidaknya kita telah menyampaikan pesan bahwa ya saya ada untuk mendengarkan kamu, kamu berharga, dan kamu aman bercerita pada kami.
*Penulis merupakan guru bimbingan dan konseling SMAN 1 Kraksaan kabupaten Probolinggo
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























