Oleh: Agnes Dewiyanti Amu
Tugumalang.id – Media adalah sinetron; sekadar layar lebar yang tayang dengan prediksi audiens telah diperkirakan. Pemberitaan sudah menjadi alat dalam mempresentasikan skenario yang dirancang penulis demi memenangkan egosentrisme. Oleh karena itu, menjadikan berita sebagai fakta otentik hanya menimbulkan bias dari berita itu sendiri.
Opini publik saat ini dijadikan bahan bakar untuk menggoreng fakta yang kebenarannya masih menguap atau tahap berjalan. Contohnya, berita yang menyoroti kasus kebohogan Ratna Sarumpaet yakni penyebaran berita bohong dirinya mengalami penganiayaan, sepanjang proses penyelidikan tersebut netizen sibuk memberi dukungan dan afirmasi positif padahal kasus belum menyentuh hilir.
Baca Juga: MBG Bukan Solusi bagi Masalah Pendidikan
Hal itu terjadi akibat narasi penindasan yang sengaja dibuat untuk memantik amarah simpatisan. Padahal realitasnya media hanya sedang mempertontonkan lakon buatan untuk menempatkan emosi penonton didepan logika. Bagai menelan pil obat tanpa dikunyah, menimbulkan efek simultan.
Makan Bergizi Gratis (MBG) di Mata Media
Makan Bergizi Gratis (MBG) dipenuhi headline berita megecewakan dan buruk. Saya sudah mencoba menelusuri internet dan menemukan sekitar kurang lebih 23.900 artikel berita negatif sejak 2025-2026 yang didominasi oleh berita kasus keracunan.
Adapun, 2.700 unit dapur menjadi sorotan dalam pemberitaan buruk padahal terdapat 24.368 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhian Gizi (SPPG) yang tersebar diberbagai daerah.
Artinya, hanya sekitar 11.08% Disfungsi dari program MBG ini yang terus dimuat dalam berbagai artikel berulang hingga berubah menjadi momok menakutkan dimasyarakat.
Fokus hanya pada sisi ‘bermasalah’ dan mengabaikan 88,2% unit yang produktif bukanlah sebuah kritik, melainkan upaya cherry-picking untuk menciptakan narasi kegagalan semu.
Pada akun sosial media pribadi di X, Tiktok, Instagram di mana data Drone Emprit menunjukkan adanya 2.800-3.300 mention positif per hari selama periode stabil, atau per 70 hari diestimasikan ada 196.000-231.000 postingan/mention positif yang berasal dari akun pribadi masyarakat.
Baca Juga: Lagi, Menu MBG Berisi Pisang Busuk di Kota Malang
Bahkan angka ini jauh lebih besar dibanding unit SPPG yang mengalami disorder. Artinya. sebagai audiens tayangan kita telah di untuk menelan fakta yang direka secara fantastis demi menarik kecaman dan sifat apatis terhadap kinerja pemerintah.
Pada akun pribadi milik @2fast2farious di tiktok yang mem-posting menu MBG yang ia terima dengan total 24 slide foto menu makanan bergizi mendapat rating yang baik. Kemudian akun @icannnn di media sosial tiktok yang hanya menampilkan video diirinya menikmati MBG dengan caption “Untung ada MBG”, menuai komentar positif dengan opini serupa.
@Yugata_Sora: Berkat MBG gw bisa nabung 10-15 ribu sehari karena gk jajan dan akhirnya bisa beli hp impian; @classy’bezzy: MBG itu program yg ga bisa kita lihat hasilnya sekarang, tapi orang Indonesia rata-rata butuh hasil yang instan; @japoyy: BB aku naik 3 kg gara-gara mbg, benerr-benerr senenggg mana menunya enakk enakkk. @Lunatic: Aku juga survei evaluasi mbg, ternyata banyak anak yang kebantu.
MBG Menghabiskan Banyak Dana
Apakah ketika MBG ditiadakan lapangan kerja meningkat?. MBG menghabiskan banyak dana, menjadi kecaman yang dilontarkan atas dasar program ini telah menghabiskan Rp335 triliun dana APBN (Anggaran Pendapatan Negara).
Eksistensi MBG adalah menekan angka stunting yang diperkirakan mencapai 2%-3% PDB (Produk Domestik Bruto) pertahun karena rendahnya produktivitas pekerja di masa depan.
Jika kita berusaha melihat MBG dari perspektif Human Capital Inverstment maka sebenarnya tidak ada dana yang mubadzir sebab skema ini hanyalah mengubah alur pengeluaran menjadi lebih praktis dan tepat guna.
Selanjutnya jikapun dana MBG yang terbilang besar itu ditiadakan apakah dana itu akan tetap ada? Menarik sekali jika kita menillik historis program subsidi BBM yang berlangsung selama 10 tahun dan membakar ribuah triliun rupiah dengan imbas 70-8% kecurangan subsidi.
Program ini pada akhirnya hanya berujung pada uap dan polusi tanpa berhasil menyentuh elemen masyarakat terkecil. Saya tidak mengatakan MBG jauh lebih baik, tetapi setidaknya program ini berhasil menyentuh masyarakat terpencil, dimana pengalihan subsidi menjadi lebih transparan dalam dapur gizi yang dinikmati tanpa memandang kasta kaya dan miskin.
Menghidupkan program yang bersih dan minim korupsi, saya mengatakan minim sebab oknum licik yang bersembunyi dalam jas profesi adalah faktor eksternal (diluar kendali), yang mampu dilakukan adalah mempersempit ruang korupsi.
Program MBG terlalu sederhana, terlalu terbuka, dan masyarakat terlalu mudah untuk mencium bau kecurangan dalam piring makan anak. Misalnya anggaran mereka harusnya daging tapi yang disajikan adalah tahu, maka semua pun akan mengerti ada kejahatan di dapur ini.
Membuka lapangan kerja kesehatan massal
Menempuh pendidikan di bidang kesehatan sering terdengar bercanda, sebab dalam mencapai 1 gelar saja kita sudah pontang-panting dengan anggaran kurikulum yang bukan main!
Lantas, setelah lulus pun mereka masih harus menempuh praktek lain sebagai validasi dirinya untuk berprofesi, namun apakah setelah pengabdian itu mereka sudah mendapatkan hak setimpal?
MBG menjadi gerbang tanpa gembok yang merangkul secara massal para tenaga kesehatan yang kompeten tapi masih belum beruntung mencari karir dan bergantung pada kesempatan kecil.
Mereka yang belum memiliki kesempatan untuk melanjutkan S2 kini diberi wadah untuk mengabdi, mengaplikasikan keahlian dalam pekerjaan yang bisa dibayar secara professional oleh negara.
MBG menjadi harapan untuk pengangguran intelektual, sebab dapur MBG tidak sekadar mencari juru masak tetapi ahli gizi yang mampu menakar akal dalam setiap suapan anak-anak.
Kita memiliki ribuan sarjana kesehatan terkhusus gizi yang akan berperan penting sebagai Quality of Control untuk mengolah sumber pangan dari petani menjadi satu misi penentasan stunting yang tertangani.
Bukan MBG yang Salah!
Setelah membedah framing MBG di media sosial, menelaah anggaran program, hingga peluang lapangan kerja massal yang disediakan, mari kembali merenung mengapa program ini menjadi anak tiri.
Apakah karena ia ‘baru?’, apakah karena ia ‘berbeda?’, atau apakah karena ia ‘tidak sempurna’. Ketiga alasan ini benar, lantas perlu adanya catatan evaluasi demi mengoptimalkan kinerja program, diantaranya.
1. Menciptakan pelaporan real-time untuk menindaklanjuti kasus penyelewengan dapur MBG yang dapat dengan mudah diakses masyarakat, seperti contoh kasus di SMA Pamekasan yang menolak MBG berupa lele Mentah, kasus tersebut menjadi viral lantas bagaimana dengan kasus lainnya? Diperlukan platform pendukung untuk mengatasi kendala ini.
2. Perekrutan peran Ahli Gizi yang kompeten, hal ini menjadi krusial setelah Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut bahwa program MBG tidak perlu ahli gizi dan posisinya dapat diisi oleh lulusan SMA yang dilatih selama 3 bulan. Opini ini menjadi viral dan memicu kecaman. MBG haruslah berjalan secara professional, dan tidak menyepelekan tanggungjawab sebuah profesi.
3. Menindaklanjuti dengan sigap setiap disfungsi pada unit dapur, terutama pada masalah keracunan makanan yang sering menjadi “bahan bakar” utama media, harus ditangani dengan protocol darurat yang transparan dan mampu mematikan ruang spekulasi
Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis bukan tentang memenangkan opini di layar kaca, melainkan tentang memenangkan masa depan di dalam piring makan anak bangsa.
Setiap oknum hanyalah residu yang selalu mampu kita kikis dengan kompetensi dan integritas yang jujur. Sesungguhnya perubahan besar memang tidak pernah datang dengan cara instan.

Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
























