MALANG, Tugumalang.id – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern dan derasnya arus budaya luar, masih ada sosok muda yang konsisten menjaga jati diri dan kearifan lokal. Ia adalah Ihwanudin Ahmad, S.Pd, seorang guru sekolah dasar yang tak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga mendidik masyarakat melalui panggung-panggung adat sebagai Pranata Adicara atau pemandu upacara adat Jawa.
Lahir di Kabupaten Tulungagung, Ihwanudin kini menetap di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Dari tanah kelahirannya yang sarat dengan budaya, ia membawa semangat untuk terus nguri-uri kabudayan Jawa—melestarikan adat dan nilai-nilai luhur yang mulai jarang disentuh oleh generasi muda.
“Bagi saya, budaya Jawa itu bukan sekadar tradisi. Ia adalah jati diri. Kalau tidak dijaga, bisa hilang tanpa terasa,” ujarnya sambil tersenyum di sela-sela persiapan sebuah upacara adat di Malang.
Baca juga: Perjalanan Inspiratif Mochammad Ali Yasin, Modal Rp600 Ribu ke Lembaga Olimpiade Nasional Yayasan Intan Mulia
Dari Panggung Adat ke Ruang Kelas Ajarkan Budaya Jawa
Sebagai MC adat Jawa, Ihwanudin sudah malang melintang di berbagai acara adat di wilayah Malang Raya-mulai dari temu manten, siraman, mitoni, hingga khaul desa. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia memandu prosesi dengan bahasa Jawa alus yang sarat makna dan doa.
Namun di balik panggung yang penuh simbol dan tata nilai itu, Ihwanudin tetap seorang pendidik sejati. Setiap pagi, ia mengenakan seragam guru dan berdiri di depan murid-muridnya di sekolah dasar, mengajarkan bukan hanya pelajaran akademik, tetapi juga nilai-nilai budaya dan moral.
“Saya ingin anak-anak mengenal budayanya sendiri sebelum mengenal budaya lain. Dari situ mereka akan tahu asal-usul dan jati dirinya,” tutur Ihwanudin.
Mendidik Lewat Pendidikan dan Kebudayaan
Bagi Ihwanudin, menjadi guru dan menjadi Pranata Adicara bukan dua peran yang berbeda, melainkan dua jalan untuk tujuan yang sama—mendidik dan melestarikan nilai-nilai luhur kehidupan. Ia percaya, lewat pendidikan dan kebudayaan, generasi muda bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat berakar namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.
Baca juga: Anak Sopir Menjadi Guru Besar Unisma, Kisah Inspiratif Prof Istirochah Pujiwati
Kini, di setiap upacara adat yang ia pandu, di setiap tutur kata dan senyum lembut yang terucap, terselip semangat seorang guru yang ingin memastikan budaya Jawa tidak hanya dikenang, tetapi juga dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama masih ada yang mau njaga lan nguri-uri, budaya Jawa ora bakal ilang,” tutupnya dengan nada penuh keyakinan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis
redaktur: jatmiko





























