Malang, Tugumalang.id – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan mengajak puluhan siswa SDN 2 Tambakasri belajar konservasi di kawasan Pantai Bajulmati, Kabupaten Malang. Melalui kegiatan Sekolah Alam, para siswa mengikuti pelepasan tukik dan penanaman mangrove sebagai edukasi pelestarian lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-Kamis (22-23/7/2026) itu digelar bekerja sama dengan Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC). Program tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Rektor Unikama Prof Sudi Dul Aji mengatakan, tema lingkungan dipilih karena sejalan dengan komitmen kampus mewujudkan green campus. Menurutnya, pendidikan tentang kepedulian terhadap lingkungan perlu dikenalkan sejak anak-anak agar menjadi kebiasaan hingga dewasa.
“Proses pelepasan tukik yang melibatkan anak-anak SD ini adalah upaya edukasi tentang bagaimana melestarikan lingkungan hidup kita,” ujar Sudi.

Baca juga: Unikama dan BSTC Lepasliarkan 100 Tukik, Libatkan Siswa SD di Pantai Bajulmati
Pantai Bajulmati di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang dipilih karena memiliki kawasan konservasi penyu yang aktif melakukan penangkaran dan pelepasan tukik. Momentum Hari Anak Nasional dinilai tepat karena bertepatan dengan jadwal pelepasan tukik.
“Pelepasan tukik tidak dilakukan sewaktu-waktu, jadi ini momennya pas,” kata Sudi.
Selain melepas tukik, peserta juga menanam mangrove sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir. Menurut Sudi, keberadaan mangrove menjadi faktor penting dalam menjaga habitat penyu tetap lestari.
“Kami ingin tukik berkembang dengan baik di lingkungan yang juga baik,” katanya.

Ketua BSTC Sutari menyambut baik keterlibatan anak-anak dalam kegiatan konservasi tersebut. Menurutnya, pengalaman belajar langsung di alam menjadi cara efektif mengenalkan pentingnya menjaga ekosistem pesisir kepada generasi muda.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya senang melepas tukik, tetapi juga memahami bahwa penyu dan lingkungan pantai harus dijaga bersama,” ujar Sutari.
Baca juga: Unikama dan BSTC Tanam Mangrove di Pantai Bajulmati, Edukasi Siswa Jaga Ekosistem Pesisir
Ia menjelaskan, Sekolah Alam merupakan program edukasi yang dikembangkan BSTC sejak 2018. Adapun kegiatan konservasi yang dijalankan komunitas tersebut telah berlangsung sejak 2009.
Menurut Sutari, program itu lahir dari keinginan menyelamatkan generasi melalui pendidikan lingkungan sejak dini. Generasi muda perlu memahami pentingnya peran penyu bagi ekosistem laut.
“Laut merupakan penghasil oksigen terbanyak, sehingga ekosistemnya harus kita jaga,” ucapnya.

Sutari menambahkan, Sekolah Alam tidak hanya ditujukan bagi anak-anak. Program tersebut terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang usia maupun jabatan karena masih banyak masyarakat yang belum memahami dasar-dasar konservasi.
“Sekolah alam tidak mengenal usia dan jabatan. Kadang-kadang orang dewasa pun belum mengerti perbedaan penyu, kura-kura, dan labi-labi, atau belum memahami apa itu bakau dan mangrove. Karena itu, edukasi harus dilakukan bersama-sama,” pungkas Sutari.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























