BATU – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GeKrafs) Kota Batu mencanangkan Gerakan Nandur Gunung sebagai ikhtiar bersama merestorasi alam. Berbeda dengan kegiatan penghijauan pada umumnya yang hanya menanam, gerakan ini akan melakukan perawatan atau restorasi setiap bulannya.

Insiator Gerakan Nandur Gunung, Tamsil Ainnur Rizal ini menuturkan, gerakan penghijauan bertajuk Raboisasi ini nantinya akan melakukan penanaman setiap satu bulan sekali. Setiap penanaman, mereka juga akan melakukan perawatan pohon yang sudah ditanam di bukan sebelumnya.
“Gerakan kami berbeda dengan giat penghijauan yang selama ini dilakukan. Setelah tanam pohon ini, setiap minggu akan kami lakukan restorasi atau perawatan melibatkan masyarakat setempat,” jelas Rizal, Rabu (8/12/2021).
Dalam upaya restorasinya ini nanti dijelaskan dia akan menerapkan penggunaan teknologi digital. Sehingga indikator sukses tidaknya pertumbuhan pohon tersebut bisa terus dipantau dengan mudah.
“Kami akan memantau perkembangan pohon yang telah ditanam, proses pemupukan hingga menjaga kesehatan pohon agar tumbuh hingga besar seperti yang diharapkan,” katanya.

Pohon yang ditanam, kata Rizal, memilih jenis pohon buah yang mudah tumbuh sekaligus hasil buahnya bisa dimanfaatkan. Seperti pohon jenis sukun, durian, nangka, dan petai. ”Masa tumbuh jenis pohon ini cepat, juga bagus untuk resapan air,” jelas dia.
Dalam gerakan penghijauan ini menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, seperti Ormas Pemuda Pancasila, Paguyuban Hiburan Kota Batu (Pahiba), Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Kaliwatu Rafting, PDAM Kota Batu dan BPBD Kota Batu.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Aries Setiawan mengatakan bahwa apa yang telah digagas GeKrafs adalah komitmen yang luar biasa dalam menjaga alam. Terlebih pasca bencana banjir bandang yang melanda Kota Batu pada 4 November 2021 lalu.
“Secara pribadi kami di DLH tidak ingin kegiatan ini jadi sekedar seremonial belaka, harus berkelanjutan. Terutama dalam perawatan bibit pohon yang ditanam agar tumbuh,” jelas dia.
Beberapa instansi atau lembaga yang ada, masih kata Aries, juga masyarakat sekitar dilibatkan untuk menunjang sistem pengawasannya. Sebab pemulihan lahan tidak hanya jadi tanggung jawab Perhutani, tapi semua elemen masyarakat.
“Isu hari ini adalah alih fungsi lahan, pengelolaan sampah, dan tranfsormasi digital. Nah Rabuisasi ini merupakan gerakan nyata dalam isu alih fungsi lahan,” papar Aries.

Dukungan juga lahir dari Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, dan memberikan apresiasi juga berterima kasih dengan adanya kegiatan ini.
“Desa kami ini merupakan salah satu dari beberapa desa penyangga gunung selain Desa Sumber Brantas, Punten, dan Bulukerto. Semoga kegiatan ini terus berkelanjutan demi sinergitas merawat lingkungan demi mencegah bencana alam terjadi dan bisa termanfaatkan,” katanya.
Suliono berharap, desa lain juga bisa melakukan hal yang sama, dengan menganggarkan melalui Dana Desa (DD) untuk mendukung atau melakukan upaya serupa.
“Kami mendukung penuh inisiasi mulia ini, dan kmai akan terbitkan SK untuk warga yang melakukan perawatan pohon, agar bisa kami keluarkan insentif. Jadi tidak cuma ditanam terus dibiarkan, namun diawasi dan dirawat,” pungkas dia.
























