Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Dua Dokter UB Relawan Medis di Gaza: Kisah Haru dari Tanah Konflik

Redaksi by Redaksi
Agustus 6, 2025 6:14 pm
in Pilihan Redaksi
Dokter UB tengah melakukan pembedahan tulang pada warga Palestina di Rumah Sakit An Nasr. Foto: Dok

Dokter UB tengah melakukan pembedahan tulang pada warga Palestina di Rumah Sakit An Nasr. Foto: Dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Dua dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang menjalankan misi kemanusiaan sebagai relawan medis di Gaza, Palestina, selama hampir tiga pekan. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman medis—namun juga kisah inspiratif tentang kemanusiaan, keberanian, dan ketegaran di tengah zona konflik.

Berangkat dari Tanggung Jawab Moral

Dua dokter UB tersebut adalah Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes., MMR., Sp.OT dan Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp.M.N.(K), FIPP. Keduanya merupakan dosen Fakultas Kedokteran UB yang tergabung dalam tim relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang berkolaborasi dengan Rahmah Worldwide.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Selama misi kemanusiaan yang berlangsung dari 21 Juli hingga 5 Agustus 2025, mereka bertugas di dua rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza: Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Dr. Mohammad Kuntadi pada Rabu (6/8/2025). Ia menegaskan bahwa kehadiran, bahkan tanpa tindakan medis, bisa menjadi penghibur bagi warga yang sedang kehilangan.

Melayani di Tengah Kekacauan dan Krisis Kemanusiaan

Bersama relawan lainnyaSelama bertugas, mereka menyaksikan langsung realitas memilukan yang membalut tanah Gaza—kelaparan, kehancuran, trauma mendalam, dan semangat bertahan hidup yang luar biasa dari warga Palestina.

Bagi Dr. Kuntadi, pengalaman ini menjadi titik paling emosional dalam karier medisnya selama hampir 40 tahun. Ia menceritakan betapa menyayat hati melihat anak-anak kecil tergeletak di lantai rumah sakit, tubuh mereka bersimbah darah, dan napas mereka tersengal-sengal.

Salah satu momen paling membekas adalah ketika ia menangani seorang balita perempuan berusia kurang dari dua tahun yang tertembak. Dalam keterbatasan fasilitas dan pasokan medis, mereka tetap berusaha memberikan pertolongan terbaik.

Baca juga: Universitas Brawijaya Kirim Dokter Relawan Medis di Gaza, Wujud Nyata Kepedulian untuk Palestina

Rumah Sakit Darurat dengan Kapasitas Membeludak

Dr. Ristiawan menggambarkan situasi rumah sakit di Gaza sebagai sesuatu yang jauh dari standar medis normal. Kapasitas ruang perawatan meningkat drastis hingga 250%, sementara sebagian besar fasilitas rusak akibat serangan bom—termasuk blok hemodialisis.

“Pasien dirawat di tenda-tenda darurat. Obat-obatan minim, air bersih terbatas, dan alat medis seadanya,” ungkap Dr. Ristiawan. Mereka bahkan harus menggunakan obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai karena pasokan baru tidak tersedia.

Suasana kerja pun tak luput dari ancaman, dengan dentuman bom dan asap yang menjadi latar harian mereka.

Kelaparan Lebih Menghantui daripada Peluru

Menurut Dr. Ristiawan, masalah terbesar yang mereka hadapi bukan hanya luka akibat perang, tetapi kelaparan masif. Bahkan tenaga medis pun tumbang karena tak makan selama dua hari.

“Saya melihat sendiri seorang dokter spesialis harus diinfus karena kelaparan. Anaknya menangis semalaman. Kami sendiri tidak tega makan di depan mereka. Bahkan sebutir permen Kopiko kami bagi bersama, dan mereka menerimanya dengan syukur luar biasa,” kisahnya.

Baca juga: Guru Besar Fakultas Kedokteran UB Malang Demo Menkes Budi Gunadi

Pengalaman Menggetarkan Batin

Sebagai dokter yang terbiasa menghadapi situasi darurat, Dr. Kuntadi mengakui bahwa pengalaman di sana menggetarkan batinnya.

“Hingga semalam saya tiba-tiba menangis. Teringat kami cuma dua minggu. Tapi, mereka di sana bertahun-tahun, tenaga medis pun tetap bekerja walau situasi dan makan sulit,” tuturnya.

Dr. Ristiawan juga mengisahkan ketika dalam perjalanan mereka melihat kerumunan warga sipil kurus, lemah, keluar dari lorong bangunan lalu meminta makanan di pinggir jalan. ’’Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry,” ujar Dr. Ristiawan.

Selain penjemputan dan pemulangan, selama dua minggu di sana mereka tidak pernah keluar dari rumah sakit, karena ancaman sniper yang bisa menembak kapan saja. Mengambil foto atau membuka ponsel pun sangat berisiko.

Semua Aktivitas Diawasi

Mereka harus berhati-hati bahkan dalam menyebut nama organisasi. Semua aktivitas diawasi ketat dan dikawal oleh militer, membuat mereka harus menyesuaikan diri sepenuhnya dengan situasi yang serba dibatasi.

Menurut Dr. Kuntadi, perjalanan ke Gaza ini bukanlah keputusan mendadak, melainkan rezeki yang dikabulkan. Keinginan untuk terlibat dalam misi kemanusiaan ini telah menjadi bagian dari niat dan tekad yang terus disimpan. Ketika kesempatan itu datang, ia menerimanya tanpa ragu, dengan keyakinan bahwa ini adalah panggilan yang sudah dipersiapkan sejak lama.

“Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir, jadi saya menerima tawaran ini bahkan sebelum izin ke keluarga,” ujar Dr. Kuntadi.

Ajak Masyarakat Peduli Palestina

Keduanya turut mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap kondisi Palestina. Dr. Kuntadi dan Dr. Ristiawan menekankan bahwa bahwa bantuan tidak selalu harus berupa materi atau keahlian. Dalam kondisi serba terbatas, kehadiran, kepedulian, doa, bahkan satu tindakan kecil pun bisa menjadi kekuatan besar bagi mereka yang bertahan.

Dari reruntuhan Gaza, dua dokter UB kembali membawa cermin bagi dunia bahwa harapan, keikhlasan, dan keberanian adalah bentuk tertinggi dari ilmu yang mengabdi pada kemanusiaan. Kisah mereka mengingatkan bahwa profesi bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan untuk memberi makna. Dan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat tumbuhnya keberanian, empati, dan tanggung jawab global.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko

Tags: 2 dokter ub dikirim ke palestinaFakultas KedokteranGazarelawan medis palestinaUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
Ketahanan Pangan Nasional

Dukung Ketahanan Pangan, Irwasum Polri dan Wamentan Panen Jagung di Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.