Malang, Tugumalang.id-Nyai Hj. Mamnunah Yahya dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, wafat pada usia sekitar 110 tahun. Wafatnya beliau membuat para santri, alumni, dan masyarakat terpukul. Hal itu terbukti dari ribuan orang yang hadir dalam pemakaman serta bertakziah.
Jika pada edisi sebelumnya Tugumalang.id membahas tentang amalan harian beliau, kali ini akan membahas pertanyaan mendasar: mengapa beliau bisa berusia begitu panjang?
Selain karena takdir dari Allah SWT, menurut salah satu putra beliau, KH. Madharik Yahya, setidaknya ada tiga hal yang diduga menjadi penyebab beliau berumur panjang.
Pertama, kata KH. Madharik, adalah keimanan yang kuat. Beliau selalu menyandarkan semua urusan kepada Allah SWT, meskipun tetap berusaha semaksimal mungkin. “Beliau selalu bilang, semua karena Allah SWT,” kata KH. Madharik dalam sebuah wawancara, Senin malam (3/11/2025).
Sepengetahuannya, hampir tidak pernah Nyai Hj. Mamnunah mengalami kesedihan yang terlalu dalam. Beliau selalu ridha terhadap segala ketentuan Allah SWT. “Saya terakhir melihat beliau menangis saat KH. Khozin Yahya, anak pertama beliau, wafat,” katanya. Untuk diketahui, KH. Khozin wafat pada tahun 2000 atau 25 tahun silam.
“Jadi keimanan beliau memang mantab, ini faktor pertama beliau bisa panjang umur,” imbuhnya.

Penyebab kedua, kata dia, soal makanan. Makanan Nyai Hj Mamnunah, sangat berbeda dengan makanan generasi sekarang yang cenderung suka lezat.”Jadi makanan beliau itu tawar, tidak terlalu suka asin,” katanya.
Baca juga: Wafatnya Ditangisi Ribuan Orang, Berikut Amalan Harian Nyai Hj Mamnunah Yahya
Ya, berdasarkan artikel yang diunggah alodokter.com, tubuh seseorang memang butuh makanan asin karena tinggi natrium. Namun, terlalu banyak makanan asin atau gurih juga berbahaya bisa menyebabkan hipertensi, dehidrasi, gagal ginjal, gagal jantung, stroke, demensia vaskular, hingga kanker lambung.
KH Madharik melanjutkan, pernah suatu ketika ada tamu yang dikasih makan sama beliau, tamu tersebut tidak makan banyak.”Karena memang tidak enak,” imbuhnya.
Selain itu, beliau juga begitu sederhana dalam makanan.”Misalnya terong dibakar satu buah, lalu ada sambel kacang, itu terong di makan pagi hari, lalu sore beliau makan sama menu itu juga,” ucapnya.
“Misal pelengkap terong ada ikan pindang, itu ikan pindang satu, separuh buat pagi, separuh buat sore, jadi memang pola makan beliau beda,” imbuh pria yang juga pengajar di Universitas IAI Al Qolam ini.
Sedangkan untuk gula, beliau mengkonsumsi gula standar karena beliau ngopi pakai gula.”Baru akhir-akhir ini beliau sering ngajak putra dan cucu-cucunya ngopi di kafe, dan beliau pasti membayari, beliau memang sangat suka sedekah serta beliau suka makan bareng,” katanya.
Sedangkan hal terakhir, beliau sangat suka silaturahim. Bisa dibilang, beliau ekstrem bersilaturahim jika dibandingkan manusia pada umumnya.
“Saya sangat sering saat ke alumni, mereka bilang begini, kalau Nyai Hj Mamnunah sangat sering ke sini, jadi beliau ke sini sudah, ke sini sudah, padahal itu jauh tempatnya,” katanya.
Baca juga: Dunia Pesantren Berduka, Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Nyai Hj Mamnunah Yahya
Ya, dalam Islam memang dianjurkan untuk bersilaturahim. Dalam sebuah hadist, silaturahim bisa mengakibatkan dua hal yakni panjang umur dan banyak rezeki.
Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (H.R Bukhari & Muslim).
Untuk diketahui, diberitakan sebelumnya, Nyai Hj Mamnunah Yahya wafat berjarak 38 tahun dari sang suami pendiri PPRU 1 KH Yahya Syabrawi. Beliau wafat diperkirakan saat berumur 110 tahun.
Selain dikenal sebagai istri pendiri pesantren, Nyai Hj Mamnunah juga merupakan putri dari KH Bukhori, ulama besar asal Ganjaran. Nasab beliau tersambung hingga Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara. (bersambung).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko
























