MALANG, Tugumalang.id – Dunia pesantren di Kabupaten Malang tengah berduka. Sosok ulama sepuh, Nyai Hj Mamnunah Yahya dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum (RU) 1 Ganjaran, Gondanglegi, wafat pada Minggu (2/11/2025) dini hari di RSUD Kanjuruhan Malang akibat sakit yang dideritanya.
Ribuan pelayat dari berbagai daerah memadati prosesi pemakaman yang digelar pada pukul 07.00 WIB pagi hari. Almarhumah dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Asyafi’iyah, Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Kepergian beliau terjadi 38 tahun setelah wafatnya sang suami, KH Yahya Syabrawi, pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1, yang meninggal dunia pada tahun 1987.
Sosok Ulama Sepuh yang Dihormati
Di kalangan santri dan masyarakat, Nyai Hj Mamnunah Yahya dikenal dengan sebutan “Nyai Sepo” atau Nyai Sepuh. Beliau wafat di usia sekitar 110–115 tahun, meninggalkan teladan panjang dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
Baca juga: Everyday Greatness KH Yahya Syabrowi
Para pelayat yang hadir mayoritas merupakan santri, alumni pesantren, serta masyarakat sekitar Ganjaran. Karena jumlah pentakziyah yang sangat banyak, salat jenazah dilakukan beberapa kali secara bergelombang.
Selain dikenal sebagai istri pendiri pesantren, Nyai Hj Mamnunah juga merupakan putri dari KH Bukhori, ulama besar asal Ganjaran. Nasab beliau tersambung hingga Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), salah satu Walisongo yang menyebarkan Islam di Nusantara.
Dikenang Sebagai Ibu dan Guru Teladan

Semasa hidup, Bu Nyai Mamnunah dikaruniai sepuluh orang anak, lima di antaranya masih hidup hingga kini. Salah satunya adalah KH Mukhlis Yahya, pengasuh utama Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1.
Dalam sambutannya mewakili keluarga, KH Madharik Yahya mengajak para hadirin memberikan kesaksian atas kebaikan sang ibu.
“Apakah beliau orang baik?” tanyanya dalam bahasa Madura.
“Baik,” jawab serempak ribuan pelayat.
KH Madharik juga menceritakan bahwa beberapa hari sebelum wafat, Habib Segaf bin Hasan Baharun dari Darullughah Wadda’wah (Dalwa) Bangil, Pasuruan, sempat menjenguk almarhumah.
Baca juga: Mengenal KH Achmad Dachlan, Kiai Asal Sanan Kota Malang yang Hari Wafatnya Diperingati Tiga Hari Berturut-Turut
“Habib Segaf berkata, ‘Sudah Bu Nyai, insyaallah hidup jenengan sudah sempurna. Tidak kurang apa-apa lagi. Insyaallah jenengan akan bertemu dengan KH Yahya di akhirat,’” tutur KH Madharik.

Ia berharap ucapan tersebut benar adanya.
“Semoga Bu Nyai Hj Mamnunah dipertemukan kembali dengan Kiai Yahya dan Rasulullah SAW di akhirat,” imbuhnya.
Atas nama keluarga besar, KH Madharik juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh santri dan alumni yang telah membantu merawat almarhumah semasa sakit.
“Jika beliau memiliki kesalahan, kami mohon dimaafkan. Beliau manusia biasa yang tentu tidak luput dari khilaf,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko
























