Tugumalang.id – Wafatnya Nyai Hj Mamnunah Yahya, istri dari pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 (PPRU 1) pada minggu dini hari (2/11/2025) membuat ribuan orang sedih karena sudah ditinggal ‘sang guru kehidupan’.
Selain ribuan orang menghadiri prosesi pemakaman beliau, video soal pemakamannya cukup viral di media sosial @tugumalangid. Di TikTok, saat berita ini ditulis, sudah dilihat sedikitnya 426 ribu orang, dengan like 15.300 orang dan 469 komentar. Sedangkan di Instagram, sudah ditonton hampir 49 ribu orang, dengan 2.227 like serta 325 posting ulang.
Penulis yakin, orang hebat yang menjadi panutan, pasti mempunyai rutinitas harian yang dilakukan secara konsisten. Karena hal inilah, penulis mewawancarai Mashudi, santri yang mengabdi kurang lebih 14 tahun lamanya.
Baca Juga: Puluhan Pesantren Malang Raya Ikuti Pelatihan ’Santri Bangun Desa’
Dalam tradisi pesantren, memang ada santri yang memilih untuk mengabdi saat di pesantren. Selain ikut proses belajar memgajar, santri yang mengabdi itu membantu keluarga ndalem atau pengasuh pesantren seperti memasak, menjadi sopir, bersih-bersih dan lain sebagainya.
Ini seperti yang dilakukan Bupati Malang H Sanusi ketika nyantri di PPRU 1 yang pernah menjadi sopir kiai. Semua dilakukan tanpa paksaan, dan yang diharapkan adalah keberkahan dari guru atau pengasuh pesantren.
Mashudi menjelaskan, dalam kesehariannya, meskipun sudah sepuh, Nyai Hj Mamnunah Yahya sangat rajin beribadah. Beliau, nyaris tidak pernah absen salat malam atau salat tahajud. ”Setahu saya, beliau sudah salat malam pada setengah empat dini hari,” kata Mashudi yang kini sudah berstatus sebagai alumni.

Pria asal Pontianak, Kalimantan Barat ini menjelaskan, sejak sebelum subuh hingga setengah enam pagi, Nyai Hj Mamnunah melakukan ibadah.
”Seperti baca Alquran, baru setelah setengah enam, beliau ikut bantu memasak,” imbuh pria yang kini menjabat sebagai Komisioner KPU Mempawah, Kalimantan Barat ini.
Meski sudah sepuh, saat masih hidup, Nyai Hj Mamnunah memang aktif ikut memasak, meski dibantu santri-santrinya. ”Seperti beliau bantu mengiris bawang, dan memasak pada umumnya, tapi yang membereskan sampai jadi tetap saya,” imbuhnya.
Baca Juga: Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI
Bagi Mashudi, Nyai Hj Mamnunah adalah pribadi yang memimpin dengan keteladanan. Jadi, beliau tidak hanya menyuruh, tapi juga mencontohkan langsung.
”Seperti menyapu yang benar itu kayak apa, membungkus nasi yang benar itu kayak apa, beliau contohkan langsung,” katanya.
Selain itu, Mashudi juga pernah mendapatkan bacaan ijazah langsung dari Nyai Hj Mamnunah. Ijazah itu juga rutin dibaca oleh Alm KH Yahya Syabrawi yang tak lain adalah suami beliau.
Ijazah itu adalah membaca ‘la ilaha ila anta ya hayyu ya qoyyum’ sebanyak 41 kali dan assolatu wassalama alaika ya roshulallah sebanyak 10 kali. ”Ini dibaca sebelum salat subuh tapi setelah azan, baru setelah baca ini melakukan iqomah dan salat subuh,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Nyai Hj Mamnunah Yahya juga sangat rajin bersilaturahmi baik kepada alumni dan saudara. ”Beliau juga bilang, bahwa semua santrinya selalu dia maafkan dan semuanya dimaafkan, karena kata beliau kalau gak memaafkan bisa jadi sulit nanti di akhirat,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Nyai Hj Mamnunah Yahya juga rutin membaca surat-surat dalam Alquran setiap selesai salat. Ini juga rutin dibaca oleh santri pada selesai salat. Yakni, surat Yasin habis salat subuh dan magrib, surat Ar-Rahman habis salat zuhur, surat Al-Waqiah setelah salat asar dan surat Al-Mulk setelah isya.
“Beliau juga rutin membaca selawat yakni shalallahu ala muhammad,” katanya.
Demikian sedikit aktivitas keseharian Nyai Hj Mamnunah Yahya yang diketahui Mashudi. Bisa jadi, ada aktivitas dan kebiasaan lain yang baik, yang tidak diketahui Mashudi.
Cerita lain disampaikan alumni asal Madura Nur Kholis Muadz yang dia ceritakan di Facebook pribadinya. Intinya, dia pernah mengalami kesusahan dan masalah-masalah. Nur Kholis bercerita agar didoakan oleh Nyai Hj Mamnunah Yahya.
Setelah bercerita, Nur Kholis justru dikasih uang oleh Nyai Hj Mamnunah Yahya. ”Ini sedekah orang tua kepada anaknya,” kata beliau.
Kata-kata ini benar-benar terngiang di hati Nur Kholiz Muadz dan mendorong air matanya menetes sangat deras karena perlakuan seorang guru kepada dirinya.
Untuk diketahui, diberitakan sebelumnya, Nyai Hj Mamnunah Yahya wafat berjarak 38 tahun dari sang suami pendiri PPRU 1 KH Yahya Syabrawi. Beliau wafat diperkirakan saat berumur 110 tahun.
Selain dikenal sebagai istri pendiri pesantren, Nyai Hj Mamnunah juga merupakan putri dari KH Bukhori, ulama besar asal Ganjaran. Nasab beliau tersambung hingga Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
Editor: Herlianto. A


























