Malang, Tugumalang.id – Sebanyak 121 kasus kekerasan melanda perempuan dan anak di Kota Malang sepanjang Januari–Agustus 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mendorong pendampingan untuk memulihkan trauma para korban.
Kepala Dinkes Kota Malang dr. Husnul Muarif menegaskan, pemulihan korban tidak cukup hanya dengan menangani luka fisik. Kondisi psikologis korban juga harus menjadi perhatian agar proses pemulihan berjalan optimal.
Pihaknya telah melakukan asesmen terhadap setiap korban. Asesmen dilakukan untuk memetakan penanganan lebih lanjut, termasuk kebutuhan pemulihan secara psikologis.
“Secara keperawatan nanti kami lihat, kami asesmen lagi, apakah perlu perawatan tindak lanjut untuk recovery secara fisiknya ataupun secara psikologisnya,” kata Husnul, Selasa (15/9/2026).
Menurut dia, pemulihan psikologis penting dilakukan agar dampak kekerasan tidak berpengaruh negatif secara berkepanjangan terhadap kesehatan mental. Luka fisik mungkin dapat ditangani melalui layanan medis. Namun, tekanan psikologis membutuhkan proses pemulihan yang berbeda dan waktu yang tidak singkat.
Baca juga: Hampir 200 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Malang, Dinsos Masifkan Berani Speak Up
Untuk memperkuat pendampingan psikologis, Dinkes Kota Malang telah menggandeng asosiasi psikologi yang ada di Kota Malang. Layanan psikolog klinis juga telah tersedia melalui puskesmas.
Psikolog melakukan kunjungan secara berkala, sekitar dua kali dalam sebulan di masing-masing puskesmas.
“Kalau psikologisnya kami merangkul asosiasi psikologi yang ada di Kota Malang. Kami sudah kerja sama dengan asosiasi itu, di puskesmas itu juga sudah ada kunjungan dari psikolog klinis,” jelasnya.
Pendampingan tidak hanya diarahkan kepada korban. Keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Sebab, lingkungan terdekat korban memiliki peran besar dalam memberikan rasa aman dan dukungan setelah terjadi kekerasan.
“Tentu yang kami sampaikan adalah untuk memberikan semacam penyuluhan, motivasi, baik kepada keluarga maupun pada yang bersangkutan,” ujarnya.
Kekerasan Anak Dipengaruhi Banyak Faktor
Husnul menilai kekerasan, terutama terhadap anak, merupakan persoalan yang didasari sejumlah faktor. Mulai kondisi pribadi anak, karakter, pola pembinaan orang tua, sosial ekonomi, lingkungan, hingga media sosial.
“Penyebabnya itu banyak, multifaktor untuk kekerasan seksual pada anak. Kondisi anak tersebut, karakternya anak tersebut, pembinaan orang tua di dalam keluarga, kemudian sosial ekonomi, lingkungan dan yang lebih penting lagi adalah media sosial. Itu sangat mempengaruhi,” jelasnya.
“Kami memastikan aspek psikologis harus masuk dalam proses penanganan, bukan menjadi persoalan yang baru diperhatikan setelah kondisi korban memburuk,” imbuhnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






























