BATU, Tugumalang.id – Pemerintah Kota Batu terus berinovasi memperkuat sektor agrikultur sebagai pilar utama ekonomi daerah. Terbaru, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu (Distan KP Kota Batu) mulai mendalami kajian penerapan Smart Integrated Farming (Pertanian Terpadu Cerdas).
Program ini diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk mensukseskan visi dan misi Wali Kota Batu dalam hal kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Heru, menjelaskan bahwa konsep ini merupakan sistem pertanian holistik yang menggabungkan berbagai sub-sektor dalam satu kawasan yang saling berkesinambungan.
Baca Juga: Dilengkapi Aplikasi Pengawas, Angkot Gratis Pelajar di Kota Batu Kembali Beroperasi
Menurut Heru, Smart Integrated Farming bukan sekadar bercocok tanam biasa. Di dalamnya, terdapat integrasi penuh antara peternakan, perikanan, hingga budidaya tanaman yang dikelola secara mandiri.
“Seluruh aktivitas sektor pertanian, mulai dari hulu hingga hilir, ada dalam satu kawasan. Jadi, di sana ada peternakannya, ada perikanannya, dan ada budidaya tanamannya. Semuanya dikelola secara terpadu,” terang Heru.
Tak hanya soal produksi, sistem ini juga mencakup pengolahan hasil pertanian agar memiliki nilai tambah (added value) sebelum dilempar ke pasar, serta pengelolaan limbah yang mumpuni. Salah satu poin krusial dalam kajian ini adalah penerapan prinsip Zero Waste (nol limbah).
Baca Juga: Libur Nataru 2026, Volume Sampah di Kota Batu Naik Rata-rata 12,5 Ton per Hari
Dalam ekosistem pertanian terpadu, limbah dari satu sektor akan menjadi sumber daya bagi sektor lainnya. Misalnya, kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman, dan sisa hasil panen dapat diolah kembali menjadi pakan ternak.
“Muaranya adalah efisiensi dan kemandirian. Kita ingin mengurangi ketergantungan petani pada pasar, baik untuk urusan pupuk maupun pakan. Dengan begitu, biaya produksi bisa ditekan,” tambah Heru.
Meski saat ini masih dalam tahap kajian mendalam, Heru optimistis bahwa Smart Integrated Farming akan menjadi solusi bagi tantangan pertanian modern di Kota Batu.
Program ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan tingkat lokal, tetapi juga menjadi model pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
“Ini adalah upaya kita untuk memastikan petani kita lebih berdaya. Dengan sistem yang terintegrasi, ketahanan pangan daerah akan lebih kokoh karena rantai produksinya berputar di dalam satu ekosistem yang mandiri,” harapnya.
Lebih lanjut, Distan KP sendiri sudah mulai menjalankan konsep ini sejak lama. Hingga kini, sudah ada 3 kawasan yang diproyeksikan menjadi kawasan Integrated Farming yakni Desa Torongrejo, Desa Dadaprejo dan Desa Sumberbrantas.
”Yang di Desa Sumberbrantas sudah jalan meski belum optimal. Insya Allah 2026 ini akan kita maksimalkan sesuai visi misi Mbatu Sae,” tandas Heru.
Sebelumnya, Wali Kota Batu Nurochman juga telah menjalin kerja sama strategis lintas stake holder guna memperkuat pelaksanaan integrated farming di lapangan. Salah satunya dengan memberikan bimtek peningkatan kapasitas petani dan peternak dengan menggandeng Poltekad.
Poltekad dalam hal ini dinilai menghadirkan terobosan yang relevan dengan kebutuhan lapangan, mulai dari sistem pakan ayam otomatis berbasis smart digital hingga pengolahan kotoran ternak yang diintegrasikan dengan budidaya ikan, teknologi yang telah diuji sejak 2016 dan akan diperluas hingga tingkat desa.
“Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menghadirkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah akan terus mendorong penerapannya agar menjadi solusi nyata,” kata Nurochman.
Nurochman menekankan pentingnya partisipasi masyarakat serta dukungan lintas sektor, termasuk Polres Batu, terutama dalam pengembangan teknologi pertanian berwawasan lingkungan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























