Malang, Tugumalang.id – Di tengah menjamurnya ruang kreatif di Kota Malang, pameran seni bertajuk INTERSECTION hadir sebagai upaya mendobrak sekat antara seni tradisi dan seni media baru. Pameran ini menjadi titik temu gagasan lintas generasi yang lahir dari kolaborasi dua sosok dengan latar belakang berbeda, namun bertemu dalam visi yang sama.
Digelar pada 16–18 Januari 2026 di Astaloka Coffee, INTERSECTION tidak sekadar menghadirkan karya sebagai pajangan visual. Pameran ini justru menjadi ruang dialog yang mengubah keresahan personal menjadi pertemuan ide, menghubungkan kedalaman konsep dengan realitas publik yang lebih luas.
Di balik inisiasi pameran tersebut, terdapat dua figur kunci yang berperan sebagai arsitek pertemuan gagasan. Keduanya merepresentasikan pertemuan antara kuratorial yang menjaga kedalaman konsep dan pendekatan akademik yang menjembatani kampus dengan ruang publik.

Pertemuan Kurator dan Akademisi dalam Satu Gagasan
Dua sosok tersebut adalah Didit Prasetyo, kurator lintas disiplin, dan Adita Ayu Kusumasari, akademisi dari Universitas Bhinneka Nusantara (UBHINUS). Keduanya datang dari jalur berbeda, namun bertemu pada satu pemahaman bahwa seni seharusnya tetap berpikir, sekaligus tetap terhubung dengan publiknya.
Baca juga: Gelar Pameran Seni, Universitas Negeri Malang Pertegas Komitmen Dukung SDGs
Didit Prasetyo yang juga berprofesi sebagai dosen seni di Malang menekankan bahwa pameran bukan sekadar soal estetika ruang. Menurutnya, gagasan harus menjadi fondasi utama sebelum membicarakan lokasi, visual, maupun audiens.
Bagi Didit, salah satu persoalan klasik dalam pendidikan seni adalah jebakan estetika visual. Banyak mahasiswa dinilai terlalu berfokus pada hasil akhir yang tampak indah, tetapi kurang kuat secara makna. Ia menegaskan bahwa proses konseptual harus dibangun sejak awal agar karya memiliki kedalaman.
“Harus ada gagasan dulu. Ruang itu nanti mengikuti,” tegas Didit.
Pengalaman Didit sebagai pengajar dengan latar belakang mahasiswa yang beragam membentuk cara pandangnya dalam membaca karya. Ia terbiasa menilai karya bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari proses berpikir yang melatarbelakanginya.
“Setiap mahasiswa punya karakter dan karya yang berbeda. Dari situ saya belajar memahami bagaimana mereka membentuk karya. Itu menjadi pelajaran baru bagi saya,” katanya.
Menjaga Kedalaman Konsep di Tengah Eksplorasi Medium
Didit juga menyoroti kecenderungan mahasiswa yang lebih memikirkan hasil dibanding proses konseptual. Menurutnya, hal tersebut bukan persoalan teknis, melainkan berkaitan dengan kedewasaan berpikir.
“Biasanya mereka lebih memikirkan hasil. Proses dan konsep kadang dipikir belakangan. Padahal kami melatih agar semuanya dikonsep sejak awal, supaya ketika karya jadi, itu sudah matang,” paparnya.
Baca juga: Designholic 11.0 x Navastra, Pameran Seni Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
Dalam konteks seni media baru, tantangan tersebut semakin terasa ketika mahasiswa mengangkat tema tradisi. Didit menilai pengambilan tema kerap masih berada di permukaan karena fokus lebih banyak tercurah pada eksplorasi medium dan visual.
“Sering kali konsep tradisional hanya diambil di permukaan karena mereka fokus ke medium visual. Di situ peran saya membantu agar pemaknaannya lebih dalam. Untuk visual dan teknis, saya serahkan ke mereka,” jelasnya.
Pameran sebagai Jembatan Akademik dan Ruang Publik
Jika Didit berperan menjaga “ruh” karya, Adita Ayu Kusumasari memastikan karya-karya tersebut memiliki ruang hidup yang lebih panjang dan mampu menyentuh publik. Sebagai Ketua Program Studi DKV UBHINUS, Adita tidak ingin karya tugas akhir mahasiswa hanya berakhir sebagai arsip akademik.
Adita yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di ISI Bali membawa riset disertasinya mengenai Media Art dan seni tradisi ke dalam praktik nyata. Ia membimbing kelompok mahasiswa Gangcallslow untuk menguji gagasan mereka langsung di hadapan audiens publik.
Menurut Adita, pameran ini sekaligus menjadi penolakan terhadap dikotomi antara galeri dan ruang alternatif. Ia menilai ruang seperti kafe justru relevan untuk mendekatkan seni media baru dengan keseharian anak muda.
“Kalau di galeri eksklusif bisa saja. Tapi untuk sekarang, justru tempat kafe seperti ini lebih kena ke anak muda yang nongkrong,” ujarnya.
Baginya, INTERSECTION berfungsi sebagai laboratorium hidup. Mahasiswa tidak hanya diuji secara akademik, tetapi juga dihadapkan langsung pada respons audiens.
“Ini jembatan dari dunia akademik ke publik. Anak-anak dapat pengalaman pameran, ketemu audiens, dan melihat langsung respon orang,” katanya.
Kolaborasi Didit Prasetyo dan Adita Ayu Kusumasari menjadi penanda dinamika baru dalam praktik seni hari ini. Didit hadir menjaga kedalaman konseptual di tengah euforia medium dan teknologi, sementara Adita membuka jalur agar praktik tersebut tidak berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar diuji di ruang sosial.
INTERSECTION sendiri merupakan pameran lintas disiplin yang mempertemukan seni media baru, musik, dan ruang sosial. Selain menghadirkan karya interaktif yang dapat dimainkan, pameran ini juga diisi berbagai program pendukung, mulai dari pertunjukan audio-visual, DJ set, hingga pop-up art merchandise.
Tak hanya menjembatani seniman, akademisi, dan publik, INTERSECTION juga menjadi roadshow pembuka menuju Swarnaloka 2026 yang direncanakan akan segera bergulir dalam waktu dekat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























