Cetak Generasi Baru Kritikus Film, Jurusan Sastra Inggris UM Gelar Workshop Film Cricitism

  • Whatsapp
Workshop Film Criticism yang dihelat oleh sivitas akademika Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang secara virtual, Rabu (14/4/2021). Foto/Azmy

MALANG – Kritik film dalam ekosistem perfilman di Indonesia memiliki peran vital. Tak hanya sekedar kritik gagah-gagahan, seorang kritikus film, perlu memiliki dasar pengetahuan, keterampilan dan wawasan yang luas sebelum menulis ulasan film. Hal itu tersaji dalam workshop Film Criticism yang diselenggarakan Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra (FS), Universitas Negeri Malang (UM), (Rabu (14/4/2021).

Workshop Film Criticism yang dihelat oleh sivitas akademika Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang secara virtual, Rabu (14/4/2021). Foto/Azmy

Workshop virtual tersebut diikuti ratusan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris. Mayoritas peserta adalah mahasiswa yang saat ini mengambil mata kuliah Film Studies. Workshop tersebut menghadirkan kritikus film dan dosen Binus University, Ekky Imanjaya Ph.D dan Heri Purwoko M.Hum. Kedua narasumber menjelaskan ihwal kritik film, hingga teknik dan ketrampilan menulis atau memberikan ulasan film yang baik.

Bacaan Lainnya

Bank BNI

Ketua Panitia Penyelenggara Film Criticism Workshop, Evi Eliyanah Ph.D, berharap kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan ini bisa mencetak generasi baru kritikus film dari UM. Apalagi menurutnya, dunia perfilman saat ini berhadapan dengan perkembangan teknologi informasi.

“Dimana posting hasil ulasan film jauh lebih mudah, baik di media massa maupun di blog pribadi,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Hubungan Internasional UM tersebut.

Jurusan Sastra Inggris berharap dari workshop semacam ini, akan lahir kritikus beserta karya ulasan film yang berkualitas. Untuk itu, mahasiswa perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan menulis kritik film yang baik – memiliki argumen dan struktur yang jelas, menggunakan bahasa yang baik dan santun, serta menguasai konsep dan teori yang baik. Budaya kritik film yang buruk berpotensi melemahkan industri perfilman. Kritik film memberikan evaluasi dan analisis terhadap film dan medium film itu sendiri.

Baca Juga  Silaturahim: Jejaring Fans, Imunitas, dan Harapan Hidup di Tengah Pandemi

“Penonton film memerlukan insights itu untuk memahami film dengan baik, baik sebagai karya seni maupun produk budaya. Bagi pembuat film, insights yang didapat dari kritik film bisa digunakan sebagai pijakan produksi film berikutnya,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *