Sabtu, Juli 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Catatan Mudik (20): Museum Percandian Muarajambi Punya Arca Dwarapala Berwajah Lucu

Redaksi by Redaksi
Mei 23, 2022 10:12 am
in Pilihan Redaksi
catatan mudik

Patung atau arca Dwarapala di Ruang Pamer Pusat Informasi Kawasan Percandian Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Sabtu petang, 7 Mei 2022. Foto: Abdi Purmono

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Saya bersama Ramond dan Hidayat memasuki Ruang Pamer Pusat Informasi Kawasan Percandian Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, pada Sabtu, 7 Mei 2022, saat hari menjelang gelap.

Ruang pamer itu terlanjur populer dengan sebutan Museum Percandian Muarajambi, yang berlokasi sangat dekat dengan Candi Gumpung.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Jam operasional museum tinggal sekitar 45 menit lagi. Kami pun lekas mengedarkan pandangan. Ramond sempat berbincang dengan petugas museum yang sedang memperbaiki kamera pengawas. Lalu ia menjelaskan sejumlah koleksi museum, salah satunya sebuah arca atau patung yang menggemaskan.

catatan mudik
Catatan Mudik Abdi Purmono

“Kalau di candi-candi di Pulau Jawa kan umumnya arca seperti ini dibuat besar macam raksasa berwajah sangar, tapi di sini arcanya unik dan lucu,” kata Ramond, seraya menunjuk arca Dwarapala.

Arca Dwarapala itu merupakan satu dari 1.507 benda kuno yang dikoleksi Museum Percandian Muarajambi. Mayoritas koleksi berupa artefak keramik sebanyak 670 unit. Lalu ada koleksi 254 bata lepas hasil pengupasan pemugaran candi-candi di Kompleks Percandian Muarajambi.

catatan mudik
Koleksi bata dan batu di Ruang Pamer Pusat Informasi Kawasan Percandian Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Sabtu petang, 7 Mei 2022. Foto: Abdi Purmono

Berdasarkan teknik dan ragamnya, bata-bata ini dapat dikelompokkan sebagai bata bercap yang berupa cap kaki kecil manusia dan kaki binatang, bata berelief berbentuk mata kala, dan bata berukir sulur-sulur daun.

Selain itu, terdapat 107 koleksi berupa batu yang mencakup 38 arca, 57 batu bukan arca, dan 12 batu bukan artefak.

Koleksi lainnya berupa 19 jenis logam yang ditemukan di Candi Gumpung, Candi Tinggi, dan Candi Kembar Batu.

Arca Dwarapala biasa disebut patung penjaga bangunan suci atau candi. Arca penjaga ini umumnya berpasangan atau dua buah, berposisi di depan sisi kanan dan kiri gerbang atau gapura pintu masuk candi.

catatan mudik
Arca Dwarapala ini ditaruh di depan foto besar Candi Gedong Dua. Foto: Abdi Purmono

Umumnya lagi, anatomi tubuh dan atribut yang melekat pada arca Dwarapala di Pulau Jawa maupun di pura-pura agama Hindu di Bali memancarkan aura garang, seram, dan menakutkan. Kaliber arca dibuat besar, berbadan gemuk, mata melotot, gigi taring menonjol yang keluar dari mulut, dan memegang gada atau pentungan batu besar. Tampilannya makin sangar berkat tampilan ornamen berbentuk gelang ular, kalung tengkorak, dan bentuk sejenis lainnya.

Arca Dwarapala model begitu, misalnya ada di Candi Singosari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Ada sepasang arca Dwarapala di sebelah barat Candi Singasari. Arca ini terbuat dari batu monolitik setinggi 3,70 meter. Posisi kedua arca laksana sedang menjaga kawasan candi.

Sedangkan perwujudan arca Dwarapala di Museum Percandian Muarajambi sebaliknya. Arca Dwarapala itu ditemukan pada tahun 2002 oleh Abdul Haviz alias Ahok, pemuda Desa Muarajambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, yang kini jadi Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Jambi.

Ahok bercerita, arca Dwarapala Muarajambi ditemukan utuh dalam timbunan reruntuhan dengan posisi telungkup pada kedalaman satu meter di sisi kiri gerbang Candi Gedong Dua. Makanya, sebagai penanda lokasi temuan, arca Dwarapala di dalam museum diposisikan tegak di depan sisi kiri foto besar gapura Candi Gedong Dua.

Menurut Ahok, arca Dwarapala temuannya berwujud pria kecil berdiri dengan kedua kaki sedikit tertekuk. Ekspresi wajahnya tenang dan ramah dengan senyum terkulum, sehingga ekspresinya lebih menyerupai patung pria yang lucu dan menggemaskan. Arca mungil setinggi 1,50 meter yang terbuat dari batu andesit ini memegang gada dan perisai.

Diamati dari dekat kelihatan sosok arca Dwarapala Muarajambi mengenakan cawat. Bibirnya tebal. Tangan kirinya memegang gada yang ujungnya telah rumpang atau tanggal dan tangan kanan memegang perisai atau tameng.

Ada sedikit hiasan di bagian kepala sehingga tampak memakai penutup kepala, dengan bendolan kecil di belakangnya—mungkin gelungan rambut yang diikat. Sedangkan di telinga kiri terdapat anting besar berbentuk teplok bunga dan bagian telinga kanan patah.

“Para arkeolog masih menyelidiki apakah arca Dwarapala Muarajambi memang sepasang karena umumnya arca Dwarapala memang ada dua. Kalau benar ada dua, pasangannya itu yang belum ditemukan,” kata Ahok.

Selain arca Dwarapala, koleksi lain yang menonjol ialah arca Dewi Prajnaparamita. Patung yang terbuat dari batu andesit ini ditempatkan persis di sisi kiri pintu masuk museum. Kepalanya hilang dan kedua lengan terpotong, tapi detail seni pahatan masih terlihat jelas.

catatan mudik
Arca atau patung Dewi Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan dalam ajaran Buddha Tantrayana. Gaya seni arca Prajnaparamita ini mirip dengan gaya seni pada arca Prajnaparamita dari Candi Singasari yang sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Foto: Abdi Purmono

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi selaku pengelola museum memberi keterangan pada secarik kertas kecil persegi panjang yang ditaruh di bawah arca. Disebutkan bahwa Dewi Prajnaparamita menempati kedudukan tertinggi sebagai Dewi Kebijaksanaan dalam Buddhisme Tantra Mahayana, dengan sikap tangan dharmacakramudra atau memutar roda darma. Dewi Prajnaparamita duduk di atas lapik tertutup kain panjang dengan sikap kaki padmasana, kedua kaki disilangkan di atas paha (bersila) dengan telapak kaki kanan menghadap ke atas.

Gaya seni arca Prajnaparamita serupa dengan arca Prajnaparamita dari Candi Singasari, yang dikenal dengan nama arca Ken Dedes dan kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Arca Prajnaparamita Muarajambi dan Prajnaparamita Singasari kemungkinan dibuat pada periode yang sama yaitu sekitar abad ke-13 Masehi. Kesamaan gaya seni kedua arca Prajnaparamita mengingatkan hubungan antara Kerajaan Singasari dan Kerajaan Melayu Kuno, ketika adanya pengiriman misi Pamalayu Raja Kartanegara pada 1275 Masehi.

Patung Prajnaparamita Muarajambi ditemukan di areal Candi Gumpung, bersama dengan tempat kedudukan berupa bunga padma atau padmasana dari batu. Kedua artefak ditemukan saat bangunan induk Candi Gumpung dipugar oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala pada 1978.

Kawasan Percandian Muarajambi diperkirakan dibangun sepanjang abad 7-12 Masehi, dengan luas keseluruhan areanya 3.981 hektare. Tinggalan arkeologis yang paling sering dibicarakan dan diteliti di kawasan percandian ini adalah reruntuhan bangunan kuno yang diidentifikasi sebagai candi dan menapo-menapo—sebutan masyarakat Desa Muarajambi terhadap gundukan tanah atau reruntuhan bata kuno sisa kegiatan manusia.

Dari sekian banyak reruntuhan bangunan kuno itu, sembilan bangunan candi telah diekskavasi dan dipugar yaitu Candi Gumpung, Candi Tinggi Satu, Candi Tinggi Dua, Candi Kembarbatu, Candi Astano, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Kedaton, dan Candi Kotomahligai, serta Danau Telagarajo.

“Itu belum termasuk data artefak lepas berupa relik bangunan, keramik, manik-manik, dan artefak properti religi lainnya. Jumlah artefak di Kompleks Percandian Muarajambi sangat banyak dan bahkan tidak terhitung,” kata Ramond.

Jadi, kata Ramond dan Ahok, mengunjungi Kompleks Percandian Muarajambi belum afdal rasanya tanpa mengunjungi museumnya.

Reporter: Abdi Purmono

Editor: Lizya Kristanti

 

 

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: catatan mudikcatatan mudik 2756 kilometerEkowisata MangroveJambiKabupaten Tanjung Jabung BaratmuarajambiMudik Malang-Medan dengan Bersepeda Motormuseum percandian muarajambiProvinsi Jambi

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
arema fc

Pertandingan Arema FC vs PSIS Semarang Tembus 1 Juta Penonton di YouTube

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.