MALANG, Tugumalang.id – Buku Mata Air Keteladanan yang diterbitkan untuk mengenang Hj Mamnunah Yahya, tokoh pesantren dan Wali Allah SWT dari Desa Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, resmi diluncurkan pada Senin, 10 Februari 2026. Peresmian digelar di Aula Hj Mamnunah, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putri, Ganjaran, bertepatan dengan peringatan 100 hari wafatnya beliau.
Momentum ini menjadi penanda penting untuk kembali menghidupkan keteladanan sosok Nyai Hj Mamnunah di tengah umat, khususnya kalangan pesantren dan masyarakat luas.
Prosesi Launching dan Pesan Istiqomah
Prosesi peluncuran ditandai dengan penyerahan plakat desain cover buku oleh Irhan Thoriq dari Tugu Media Group dan Kota Tua selaku penerbit kepada Pengasuh Utama Pesantren Raudlatul Ulum 1, KH Muchlis Yahya.

Dalam taushiyahnya, KH Mukhlis Yahya menekankan pentingnya istiqomah dalam beribadah serta menjaga keikhlasan. Ia menuturkan, pendiri pesantren sekaligus suami Nyai Hj Mamnunah, KH Yahya Syabrowi, dikenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa. Keteladanan itu, menurutnya, menular kepada sang istri.
“Contohnya dalam shalat dhuha, Nyai Hj Mamnunah selalu melaksanakan dengan lengkap, yakni 12 rakaat setiap hari,” ujar KH Mukhlis Yahya, salah satu putra pasangan KH Yahya Syabrowi dan Nyai Hj Mamnunah Yahya.
Baca juga: Diperkirakan Berusia 110 Tahun, Berikut Tiga Hal yang Bisa Menjadi Penyebab Nyai Hj Mamnunah Yahya Panjang Umur!
Bedah Buku dan Pesan Spiritual
Acara dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang menghadirkan sejumlah narasumber.
Rektor IAI Al-Qolam, Dr. Muhammad Adib, berharap kehadiran buku ini mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sosok Nyai Hj Mamnunah sekaligus memperdalam pemahaman atas nilai-nilai keteladanannya.

“Kita harus mencintai untuk bisa meneladani,” ujarnya.
Narasumber kedua, Irham Thoriq, menegaskan buku Mata Air Keteladanan layak dibaca umat Islam Indonesia karena sarat pesan spiritual dan teladan kehidupan.
“Kalau jenengan ingin jadi wali Allah, baca dan praktikkan buku ini,” katanya.
Ia mengungkapkan, ide penyusunan buku ini terinspirasi dari seorang rekannya yang rutin menulis biografi guru-gurunya yang telah wafat. Kepergian Nyai Hj Mamnunah yang begitu membekas bagi keluarga, santri, dan alumni lintas generasi Pesantren RU 1 yang kini berusia 77 tahun, semakin menguatkan tekad tersebut.
“Media kita memposting video wafatnya beliau, dan sampai saat ini sudah dilihat 1,1 juta orang,” ujarnya.
Baca juga: Wafatnya Ditangisi Ribuan Orang, Berikut Amalan Harian Nyai Hj Mamnunah Yahya
Keteladanan dalam Laku Sehari-hari
Buku ini mengulas berbagai sisi keteladanan Nyai Hj Mamnunah. Selain dikenal istiqomah dalam ibadah dan rajin bersilaturahmi, beliau juga tidak pernah mengeluh, bahkan saat sakit tetap bersyukur.
“Ada yang nulis, saat ada yang hutang kepada beliau, beliau membiarkan ketika tidak bayar-bayar. Beliau bilang kalau yang hutang itu takut pada Allah SWT, nanti akan dibayar,” kata Irham.
Muhammad Mahrus, narasumber ketiga, memaparkan proses kreatif penyusunan hingga pengeditan buku agar pesan keteladanan Nyai Hj Mamnunah tersampaikan kuat kepada pembaca.
“Beliau menjadikan Islam sebagai tindakan sehari-hari yang nyata, bukan sebagai diskusi,” ujarnya.
Kesaksian Keluarga dan Harapan ke Depan

Nyai Hj Muflihah Mukhlis, menantu Nyai Hj Mamnunah sekaligus salah satu dari sekitar 33 penulis dalam buku tersebut, menyampaikan masih banyak sisi keteladanan yang belum sepenuhnya terungkap.
“Salah satunya beliau marah kalau ada yang membuang makanan, seperti saat saya membersihkan sayur kacang lalu ada yang terbuang sedikit sekali. Beliau marah, kamu bisa tah bikin ini, kalau tidak bisa jangan dibuang,” katanya.
“Tidak membuang makanan ini adalah wujud syukur beliau atas rezeki yang diperoleh,” lanjutnya.
Baca juga: Dunia Pesantren Berduka, Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Nyai Hj Mamnunah Yahya
Peluncuran buku ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk mengenal lebih dekat sosok Nyai Hj Mamnunah serta meneladani nilai-nilai kehidupan yang diwariskannya. Acara launching dan bedah buku ini pun meninggalkan kesan mendalam, sekaligus membuka ruang lahirnya lebih banyak biografi kiai dan nyai, khususnya dari RU 1, yang dapat ditulis dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Wartawan: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko





























