BMKG Tegaskan Suara Dentuman Itu Fenomena Badai Petir

  • Whatsapp
ilustrasi

MALANG – Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Malang, menduga suara dentuman itu bersumber dari aktivitas petir. Mengingat, kondisi cuaca ekstrem yang tengah berlangsung.

Kepala Stasiun  BMKG Karangkates – Malang, Makmuri pun masih mendalami terkait sumber suara itu. Dugaan sementara, bahwa suara itu bersumber dari aktivitas petir.

Bacaan Lainnya

Bank BNI

“Kalau melihat  cuacanya kan hujan turun cukup lebat juga ada angin kencang. Bisa jadi, dugaan kami, cuaca ekstrem itu yang menimbulkan petir dan menghasilkan suara seperti dentuman,” terangnya, Kamis (4/2/2021).

Hingga kini suara dentuman misterius masih terjadi di Malang Raya hingga Kamis (4/2/2021) dini hari. Meski frekuensinya sudah tak serapat sebelumnya.

Makmuri menambahkan, bahwa prekdisinya cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Jadi, fenomena alam itu juga, akan sering terjadi.

Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Pusat, Daryono mengatakan, suara dentuman itu muncul dari fenomena Thunderstorm atau badai petir.

”Soal itu kami  sudah pegang peta datanya. Jelang tengah malam sekitar jam 01.00 WIB hingga 04.00 WIB. Pada jam 01.00 WIB itu peta (intensitas) petirnya memang banyak,” ungkapnya.

Rinciannya, gelombang petir mulai terjadi pukul 00.00 WIB di timur laut sekitaran Bangil, Jatim. Pada jam 02.00 WIB, petir juga berada di wilayah Lawang, Kabupaten Malang, Kota Malang hingga Mojokerto.

Terkait sebab gelombang petir hingga menimbulkan suara gema dentuman, kata dia juga akibat cuaca ekstrem. Saat ini, adalah puncak-puncaknya.

Baca Juga  Meskipun Diterpa Pandemi dan Gempa, Warga Tetap Berbondong-bondong Tarawih di Masjid Jami' Gondanglegi

”Kalau malam itu kan hening. Itu kalau dari kondisi cuaca dan jarak tertentu memang bisa terjadi dentuman petir. Jadi lebih jelas, apalagi dari jauh terdengarnya seperti dentuman yang menggema,” paparnya.

Dia menambahkan, memang ada kemungkinan lain. Tapi kemungkinan yang ada itu bukan jawaban. Mulai meteor jatuh, letusan gunung, gempa dangkal hingga bahan peledak militer.

”Meteor jatuh seperti pernah terjadi di Bali, itu ada lintasannya terlihat di seismograf. Gempa dangkal juga pernah di Jogja tahun 2006, di Merbabu tahun 2014. Yang paling sering memang karena petir,” tegasnya.

Sebab itu, Daryono mengimbau masyarakat tidak panik dan khawatir. ”Itu sudah pasti badai petir (thunderstorm). Ada aktivitas kelistrikan udara,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *