Malang, Tugumalang.id – Rokok elektrik atau vape sering dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat dibanding rokok konvensional. Klaim ini muncul karena vape tidak melalui proses pembakaran tembakau yang menghasilkan ribuan zat kimia berbahaya. Namun, benarkah vaping lebih aman bagi kesehatan?
Kandungan Berbahaya dalam Rokok dan Vape
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), rokok konvensional mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk tar, karbon monoksida, formaldehida, hidrogen sianida, dan logam berat seperti kadmium yang bisa merusak paru-paru serta jantung.
Sementara itu, rokok elektrik bekerja dengan memanaskan cairan yang mengandung nikotin dan bahan kimia lainnya. Dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, dr. Erlina Burhan, Sp.P, menjelaskan bahwa uap dari vape tetap mengandung senyawa berbahaya seperti formaldehida, akrolein, logam berat, serta partikel kecil yang bisa masuk ke paru-paru.
Dampak Kesehatan Vape
Menurut laporan American Lung Association, penggunaan vape dalam jangka pendek bisa menyebabkan batuk, nyeri dada, sesak napas, dan peningkatan detak jantung. Bahkan, kasus cedera paru akut atau EVALI pernah dilaporkan akibat penggunaan rokok elektrik yang tidak aman.
Dalam jangka panjang, nikotin dalam vape dapat merusak paru-paru, meningkatkan risiko penyakit jantung, serta mempengaruhi perkembangan otak remaja. Penggunaan jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.
Baca juga: Berhenti Merokok ! Ini 5 Cara Ampuh Hidup Sehat
Mana yang Lebih Berbahaya?
Laporan dari World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa meskipun bahan kimia dalam vape lebih sedikit dibanding rokok biasa, bukan berarti vape lebih aman. Dalam kondisi tertentu, kadar formaldehida dalam vape justru bisa lebih tinggi dibanding rokok konvensional. Selain itu, paparan logam berat seperti nikel dan timah juga ditemukan dalam cairan vape.
Bisa Membantu Berhenti Merokok?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik dapat membantu perokok berhenti. Namun, studi lain memperingatkan risiko penggunaan ganda (vape dan rokok biasa) yang justru meningkatkan paparan zat berbahaya dan risiko kanker.
Baca juga: Kesadaran Warga Kota Batu Tidak Merokok di KTR Diklaim Tinggi
Hingga kini, Food and Drug Administration (FDA) belum mengakui rokok elektrik sebagai metode yang aman dan efektif untuk berhenti merokok. Risiko kecanduan nikotin tetap besar, terutama bagi remaja dan ibu hamil.
Kesimpulan
Rokok elektrik bukanlah alternatif sehat dari rokok konvensional. Meskipun mengandung lebih sedikit zat kimia berbahaya, dampaknya terhadap kesehatan tetap signifikan. Risiko penyakit paru, jantung, kanker, dan kecanduan nikotin tetap ada. Solusi terbaik adalah berhenti sepenuhnya dari semua produk tembakau dan nikotin dengan bantuan medis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Veri Adrianto I / Magang
redaktur: jatmiko
























