Jumat, Juli 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Kuliner

Asal-usul Dawet, Sudah Eksis Sejak Ratusan Tahun Lalu

Redaksi by Redaksi
Mei 1, 2023 8:45 am
in Kuliner
dawet

Dawet yang dijual pedagang kaki lima. Foto: Unsplash.com

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Dawet atau cendol rupanya sudah disantap oleh masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu. Ini dibuktikan dengan adanya catatan tentang dawet di manuskrip Kakawin Kresnayana yang ditulis pada tahun 1100-an.

Dawet juga disebut-sebut di serat centini yang ditulis pada tahun 1814. Bahkan, dawet atau cendol masuk ke dalam kamus Bahasa Belanda yang diterbitkan pada tahun 1866.

READ ALSO

4 Makanan Penutup Asia Tenggara Berbahan Pandan yang Wangi dan Menggugah Selera

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Gula Aren dan Gula Merah yang Perlu Diketahui

Kakawin Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna yang hidup pada masa Kerajaan Kediri. Manuskrip tersebut bercerita tentang kisah cinta Prabu Kresna dan Rukmini. Kresna harus melakukan penculikan terhadap Rukmini yang pada saat itu akan dinikahkan dengan Suniti. Penculikan berhasil dilakukan dan keduanya pun melangsungkan pernikahan.

“Dawet telah disajikan di upacara-upacara yang ada di Jawa seperti ‘dodol dawet’ di upacara pernikahan dan juga di upacara tujuh bulanan (mitoni),” ujar Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman dalam video berjudul Origins of Cendol: Singaporean, Malaysian, or Javanese yang diunggah oleh CNA Insider beberapa waktu lalu.

Penyajian dawet dalam upacara pernikahan disebut dengan dodol dawet atau jualan dawet. Hingga saat ini, praktik dodol dawet masih dilakukan. Bahkan, Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi pernah melakukan odol dawet pada prosesi siraman pernikahan anak kedua mereka, Kahiyang Ayu.

Fadly mengatakan tradisi dodol dawet merefleksikan kehidupan masyarakat Jawa. Pada tradisi dodol dawet, orang tua dari mempelai berjualan dawet kepada para tamu undangan. Akan tetapi, bukan uang yang diberikan sebagai alat tukar, melainkan pecahan tembikar.

Menurut Fadly, pecahan tembikar ini adalah simbol Bumi. Dodol dawet dilakukan dengan tujuan agar kehidupan pemilik hajat diberi kelancaran.

“Dodol dawet juga merupakan cermin dari ketetapan hati atau kesiapan orang tua dari mempelai untuk merelakan anak-anak mereka dalam menjalani kehidupan yang baru,” kata Fadly.

Di dalam video yang sama, pakar kuliner William Wongso mengatakan bahwa saat ini cara membuat dan penyajian dawet dilakukan menurut interpretasi dan selera masing-masing orang. “Saya tidak tahu siapa yang membuat dawet untuk pertama kalinya,” ujarnya.

Secara umum, dawet disajikan bersama dengan santan dan gula aren. Namun, setiap warung dan restoran bebas menambahkan komponen lain agar membuat hidangan mereka lebih menarik.

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko

Tags: Dawetdodol dawetodol dawet

Related Posts

4 Makanan Penutup Asia Tenggara Berbahan Pandan yang Wangi dan Menggugah Selera
Kuliner

4 Makanan Penutup Asia Tenggara Berbahan Pandan yang Wangi dan Menggugah Selera

Rabu, 15 Jul 2026
Jangan Keliru, Ini Perbedaan Gula Aren dan Gula Merah yang Perlu Diketahui
Kuliner

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Gula Aren dan Gula Merah yang Perlu Diketahui

Selasa, 14 Jul 2026
Mengenal Decaf Coffee, Kopi Berkafein Rendah yang Tetap Menyimpan Cita Rasa Asli
Kuliner

Mengenal Decaf Coffee, Kopi Berkafein Rendah yang Tetap Menyimpan Cita Rasa Asli

Selasa, 14 Jul 2026
6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan
Kuliner

6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

Selasa, 14 Jul 2026
Kuliner

4 Kuliner dengan Aroma Paling Menyengat di Dunia

Sabtu, 11 Jul 2026
Cappuccino - Perbedaan Flat White, Latte, Cappuccino, dan Macchiato, Jangan Salah Pesan di Kafe
Kuliner

Perbedaan Flat White, Latte, Cappuccino, dan Macchiato, Jangan Salah Pesan di Kafe

Kamis, 9 Jul 2026
Next Post
Sepi, Peringatan hari buruh

Hari Buruh 2023 Tanpa Aksi Buruh di Malang, Kenapa?

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.