Aksi International Women’s Day di Stadion Gajayana Berujung Ricuh

  • Whatsapp
Massa aksi demo pada International Women's Day di kawasan Stadion Gajayana Malang berujung ricuh, pada Senin (8/3/2021). Foto: Ulul Azmy
MALANG – Aksi demonstrasi memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Womens Day di Malang berujung ricuh. Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Perempuan Bersama Rakyat (GEMPUR) turun jalan.
Dari informasi yang dihimpun, massa aksi sebenarnya diberi waktu untuk tetap menyampaikan aspirasi soal keperempuanan. Namun, massa tak hanya membentangkan spanduk soal gerakan perempuan, tapi juga terbentang spanduk aspirasi terkait gerakan Papua Merdeka.
Hal ini yang membuat polisi mengimbau agar massa membubarkan diri. Mereka diminta untuk naik truk Dalmas yang disediakan polisi. Namun sebagian massa menolak hingga sempat terjadi kericuhan. Bahkan, saat di dalam truk, didapati ada oknum demonstran yang memecahkan kaca truk Dalmas.
Dalam aksi itu, Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, bersama Dandim 0833/Kota Malang, Letkol Arm Ferdian Primadona, memimpin langsung pengamanan di lapangan. ”Kami sudah berikan waktu orasi. Sudah cukup, saya minta bubar untuk naik ke truk. Saya juga minta baik-baik tanpa paksaan,” ungkap Leo, saat itu.
Usai kondusif, Leo menjelaskan bahwa langkah yang dilakukan pihaknya dalam pengamanan ini sudah sesuai protap. Namun dalam faktanya, Leo mengklaim bahwa aksi ini hanya tipu-tipu karena ada dijumpai bentangan spanduk ‘Menolak Otsus’, bukan tentang gerakan perempuan.
Saat diimbau membubarkan diri, tambah Leo, massa aksi membelot dan tidak kooperatif. Mulai menolak naik truk hingga tetap bandel untuk beraksi. Hingga kemudian kericuhan pun tak dapat terhindarkan.
”Sudah jelas ini agenda hari perempuan ini hanya akal-akalan, hanya tipu-tipu. Aslinya ya gerakan Papua Merdeka itu. Mereka terus melakukan aksi provokasi bahkan melakukan kekerasan,” ucapnya, usai pembubaran massa aksi.
Lebih lanjut, pihaknya juga sudah mengamankan pelaku pemecahan kaca truk Dalmas untuk diproses hukum sesuai pasal 170 KUHP tentang Pengrusakan Barang dengan ancaman penjara bisa di atas 5 tahun.
Mantan Waka Polrestabes Surabaya ini menambahkan, dirinya tidak akan lagi mengizinkan aksi unjuk rasa. Mengingat pandemi COVID-19 belum berakhir. ”Kami fokus untuk menyelamatkan rakyat karena keselamatan rakyat adalah hukum yang utama,” pungkasnya.
Reporter: Ulul Azmy
Editor: Lizya Kristanti
Baca Juga  Kapolres Malang sebut Terduga Teroris Pakis Tokoh Jemaah Islamiyah Jatim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *