Oleh: Jatmiko, Redaktur Tugumalang.id
Tugumalang.id – Kalau orang Jawa bilang, “urip iku mung mampir ngombe” — hidup itu cuma numpang minum. Tapi kalau minumnya pakai air dari Kabupaten Malang yang lari ke Kota Malang, wah, bisa jadi minumannya terasa nano-nano.
Apalagi setelah tahu harga belinya cuma Rp150, tapi dijual sampai Rp14 ribu. Ini air, atau kopi kekinian ya?
Belum lama ini DPRD Kabupaten Malang naik pitam (bukan naik motor ya), karena merasa Pemkab Malang seperti “ibu tiri” dalam urusan air.
Baca Juga: Pasokan Air Bersih ke Kota Malang Akan Distop?
Masa iya, sumber air di Kabupaten Malang, yang debitnya melimpah ruah, malah lebih banyak ngalir ke Kota Malang? Warganya sendiri banyak yang masih nunggu tangki air datang tiap musim kemarau.
Air dari Pakis, Untungnya di Ijen
Jadi begini ceritanya. Kota Malang beli air dari Sumber Wendit cuma Rp200 per meter kubik, dan dari Sumber Pitu Rp150. Tapi begitu nyampe ke pelanggan, air ini dijual mulai Rp3.400 buat rumah tangga, bahkan sampai Rp14.300 buat industri.
Warga Kota Malang sih cuma tahu air ngalir lancar, padahal DPRD Kabupaten Malang mulai hitung-hitungan dan hasilnya bikin ngelus dada (sambil megang kalkulator).
Baca Juga: Dana Desa 2025 di Kota Batu Cair Rp22 Miliar
“Kalau untungnya 17 kali lipat, ya wajar dong kalau kami minta bagi hasil yang lebih masuk akal,” kata Pak Zulham dari DPRD Kabupaten Malang. Eh, beliau ini bukan tukang dagang loh, tapi sudah kayak konsultan bisnis air.
“Eh, Kami Ini Kan Sahabat…”
Sementara dari pihak Kota Malang, Direktur Perumda Tugu Tirta, Pak Priyo, mencoba adem ayem. Katanya, “Nggak mungkin lah kami setop-setopan.
Kita ini sahabat. Sahabat sejati takkan menyetop aliran… air.”
Wah, kalau pakai prinsip persahabatan, mungkin sebaiknya ditambah prinsip “bagi hasil adil dan setara ya, bestie”.
Pak Priyo juga bilang, mungkin ini cuma salah paham. Ya bisa jadi sih. Tahu sendiri, kadang kalau baca chat terlalu cepat bisa salah tangkap. Apalagi kalau bahas kontrak air lintas wilayah, yang isinya bukan cuma “kapan makan bakso?” tapi pasal-pasal yang bikin pening kepala.
Jangan Lupa, Air Itu Nggak Ngalir Sendiri
Nah ini, yang sering lupa dibahas. Menyalurkan air itu tidak seperti ngisi ember pakai gayung. Ada pipa-pipa yang butuh dipasang (dan mahal), meteran yang kudu dicek, pompa yang harus nyala 24 jam, dan petugas yang nggak bisa dibayar pakai terima kasih doang. Jadi kalau Kota Malang jual air lebih mahal, ya sebagian duitnya juga buat nutup biaya operasional itu.
Tapi yaa… kalau Kabupaten Malang cuma dapat “recehan”, sementara Kota Malang bisa beli tangki buat siram taman-taman indah, wajar dong kalau yang punya sumber air mulai merasa kayak hanya kebagian cucian piringnya doang.
Air ini sumber kehidupan. Tapi kalau nggak hati-hati, bisa juga jadi sumber pertengkaran. Yuk, duduk bareng lagi, hitung bareng lagi. Biar semua warga Malang Raya, baik di kota maupun di desa, bisa minum dengan tenang — tanpa harus baca berita air tiap minggu sambil ngelus dada.
Dan buat warga, tetaplah minum air putih cukup tiap hari. Jangan sampai dehidrasi… apalagi dehidrasi logika.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























