Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Asli Malang

5 Makam Wali dan Ulama di Malang, Mulai Ki Ageng Gribig hingga Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih

Redaksi by Redaksi
November 15, 2023 1:55 pm
in Asli Malang
Beberapa makam wali dan ulama di Malang sebagai destinasi wisata religi.

Beberapa makam wali dan ulama di Malang sebagai destinasi wisata religi. (Foto/Google Local Guide)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Keberadaan makam wali dan ulama di Malang membuat kota ini tak hanya dikenal sebagai kota wisata dengan pesona alamnya. Namun juga kota dengan wisata religi yang memiliki sejarah peradaban islam di masa lampau. Selain beberapa destinasi wisata di Kota Malang, juga terdapat beragam situs religi yang juga tak kalah ramai pengunjung.

Malang memang tidak berada di wilayah pesisir seperti Gresik dan Surabaya yang menjadi pusat kegiatan syiar pada masa awal penyebaran agama islam. Namun terdapat beberapa tokoh ulama pada masa lampau seperti Ki Ageng Gribig, Mbah Mbatu, dan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang memberi kontribusi besar bagi peradaban Islam di Malang.

READ ALSO

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi

Daftar Makam Wali dan Ulama di Malang

Berikut ini beberapa makam wali dan ulama di Malang yang rutin dikunjungi peziarah untuk memanjatkan doa sekaligus menjadi destinasi wisata religi di Malang.

1. Makam Ki Ageng Gribig

Wisata religi makam Kyai Ageng Gribig di Madyopuro Malang.
Wisata religi makam Kyai Ageng Gribig di Madyopuro Malang.
(Foto/Google Local Guide Makam Ki Ageng Gribig)

Makam Ki Ageng Gribig, yang terletak di kampung Gribig, Madyopuro, Kedungkandang, Kota Malang, membentuk kompleks dengan makam Bupati Malang 1-3 dan keluarganya. Kompleks pemakaman tersebut dikelilingi oleh pohon rindang yang membuat wisatawan dan peziarah makin merasa teduh.

Baca Juga: Berapa Luas Panen dan Produksi Padi di Kabupaten Malang 2023?

Banyak versi mengenai identitas Ki Ageng Gribig. Beberapa narasi masyarakat menyebutnya sebagai adik dari Syekh Maulana Ishaq (Sunan Giri), sementara sumber lain menyatakan bahwa Ki Ageng Gribig adalah cicit dari Kerajaan Majapahit dan murid kesayangan Raden Said (Sunan Kalijaga). Ada pula yang mengaitkannya sebagai cucu Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, putra dari R.M. Guntur atau Prabu Wasi Jolodoro.

Ki Ageng Gribig, seorang ulama pada zaman Mataram, terkenal sebagai penyebar agama Islam di Jatinom dan Malang serta sekitarnya. Nama “Gribig” konon berasal dari istilah bahasa Arab “Al Maghribi,” terkait dengan nisan mirip Kesultanan Demak, meski asal usulnya masih belum pasti.

Dalam setiap perayaan haul Ki Ageng Gribig, warga setempat biasa melakukan tradisi Saparan Yaqowiyu. Dimana masyarakat membagikan kue apem pada pengunjung atau peziarah. Tradisi ini biasa berlangsung pada tanggal 15 bulan Safar kalender Hijriah.

Selain berperan dalam menyebarkan agama Islam, Ki Ageng Gribig juga turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan Islam di Malang. Salah satu upayanya adalah dengan mendirikan pondok pesantren sebagai tempat belajar mengaji dan ilmu-ilmu agama.

2. Makam Mbah Jago Pati

Makam ulama Mbah Jago Pati terletak di Desa Jatisari, Kertowinangin, Tangkilsari, Kecamatan Tajilan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Nama asli Mbah Jago Pati adalah Syekh Muhammad Mahmudi bin Yusuf, dan dalam silsilah keturunannya, beliau merupakan keturunan dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang berasal dari Banten.

Pada generasi pertama yang membuka lahan di Desa Jatisari, terdapat Buyut Sareh, Buyut Marwi, dan Buyut Timah yang berasal dari daerah Pati, Jawa Tengah. Mereka memiliki tugas utama untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Baca Juga: 1.485 Rumah Warga Kota Malang Masuk Kategori Tak Layak Huni

Ketika awal pembukaan lahan, Desa Jatisari masih berupa hutan yang dipenuhi dengan pohon jati. Mereka melakukan penanaman dan menebang pohon jati tersebut hingga mendapatkan sari dari pohon tersebut. Dari perjuangan tersebut, desa ini kemudian diberi nama Desa Jatisari sebagai tanda dari awal perjalanan dakwah dan pembukaan lahan yang penuh makna.

3. Makam Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih

Kompleks makam Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih di Kampung Kramat Malang.
Kompleks makam Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih di Kampung Kramat Malang.
Foto/Google Local Guide M. Rizal

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, seorang ulama besar asal Hadratulmaut, muncul sebagai figur yang memiliki misi dakwah Islam saat tiba di Surabaya pada tahun 1919. Niat tulusnya untuk menyebarkan ajaran Islam menjadikan jejak perjalanan dakwahnya sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah keislaman.

Pada tanggal 19 November 1962, dalam usia 62 tahun, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih menghembuskan nafas terakhirnya. Makamnya terletak di Pekamakaman Umum Jalan Masjid, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, dan menjadi bagian dari kompleks bernama Qubah Imamain. Keberadaan makam tersebut membuat warga pun berisiniatif menamakan kampungnya sebagai Kampung Kramat.

Selain aktif dalam berdakwah, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih juga menunjukkan peranannya sebagai pendidik. Setelah menjabat sebagai Direktur Madrasah Al-Khoiriyah di Surabaya, beliau mendirikan Madrasah Ar Robithoh pada tahun 1938.

Tak berhenti di situ, pada tahun 1945, Habib Abdul Qadir kembali mendirikan lembaga pesantren yang bernama Pesantren Darul Hadis Al-Faqihiyah dan Ma’had Aly di kota Malang. Perjalanan dakwah dan kontribusi pendidikannya menciptakan warisan keislaman yang terus dihormati dan diwariskan.

4. Makam Mbah Batu

Makam Mbah Batu sebagai salah satu penyebar agama islam di lereng Panderman Batu.
Makam Mbah Batu sebagai salah satu penyebar agama islam di lereng Panderman Batu. (Foto/Google Local Guide)

Makam Mbah Mbatu terletak di Jalan Masjid, Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Batu, Kota Batu. Di kompleks makam Mbah Wastu ini, kita juga dapat menemukan tiga makam lainnya, yaitu makam Pangeran Rojoyo, makam Dewi Mutmainah, dan makam Kyai Naim.

Mbah Mbatu alias Mbah Wastu bukan hanya seorang tokoh penyebar agama Islam, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kota Batu. Ulama yang memiliki nama asli Syekh Abdul Ghonaim disebut-sebut sebagai sosok yang terlibat dalam pembukaan lahan di kawasan tersebut.

Awalnya, masyarakat akrab memanggilnya Mbah Tu, dan dari situlah, seiring berjalannya waktu, panggilan tersebut bermetamorfosis menjadi Mbatu, yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal nama Kota Batu.

Mbah Wastu dikenal sebagai murid dari Pangeran Rojoyo, anak dari Sunan Kadilangu, yang merupakan cicit dari Sunan Kalijogo. Kehadirannya di tempat tersebut bermula dari upaya pelarian dari kejaran pasukan Belanda bersama istrinya, Dewi Condro Asmoro, yang notabene adalah putri Prabu Suito dan Dewi Anjasmoro dari Kerajaan Majapahit.

Perjalanan panjang membawa Mbah Wastu menetap di kaki Gunung Panderman. Di sana, ia mendirikan padepokan untuk memulai penyampaian ajaran agama Islam kepada masyarakat setempat.

5. Makam Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih

Makam Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih terletak di samping makam ayahnya di Pekamakaman Umum Jalan Masjid, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kedua makam tersebut membentuk sebuah kompleks yang dikenal dengan nama Qubah Imamain.

Habib Abdullah, yang meninggal pada tanggal 30 November 1991 pada usia 56 tahun, merupakan anak dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Sejak usia tujuh tahun, dia telah mendapatkan pendidikan agama Islam dari sang ayah, bahkan hingga menghafal Al-Quran serta dua kitab hadis shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Setelah wafatnya ayahnya, Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih meneruskan perjuangan dalam berdakwah dan mengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Perjalanan dakwahnya dan kepemimpinan di pondok pesantren menjadi bagian dari warisan spiritual yang terus dijaga dan dilanjutkan.
Itulah beberapa lokasi makam wali dan ulama di Malang yang rutin dikunjungi para peziarah. Tak hanya sebagai tempat berdoa, kompleks makam tersebut juga menjadi destinasi wisata religi untuk meneladani perjuangan para tokoh penyebar agama Islam di Malang.

Penulis: Imam A. Hanifah
Editor: Herlianto. A

Tags: Ki ageng GribigMakam UlamaMakam WaliMakam Wali di Malang

Related Posts

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah
Asli Malang

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Minggu, 2 Agu 2026
Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi
Asli Malang

Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi

Selasa, 14 Jul 2026
Jangan Salah Terminal, Ini Fungsi Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari
Asli Malang

Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

Minggu, 12 Jul 2026
5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter
Asli Malang

5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter

Rabu, 8 Jul 2026
Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari
Asli Malang

Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari

Senin, 6 Jul 2026
Ilustrasi kawasan unik dan bersejarah Kota Malang (Foto: Pinterest/@Sugimin Tukijan)
Asli Malang

Jejak Empat Kawasan Unik di Malang, Permukiman Kolonial hingga Kampung Moderasi Beragama

Senin, 6 Jul 2026
Next Post
job fair

22 Perusahaan Mengikuti Job Fair Digelar Pemkot Batu

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.