Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Menata Kembali Aktivitas Anak

Redaksi by Redaksi
Oktober 16, 2022 10:15 am
in Catatan
Akhmad Mukhlis.

Akhmad Mukhlis. Foto/dok TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Akhmad Mukhlis*

Sampai pada rumah sakit ketiga, tidak ada ruang kosong untuk rawat inap anak saya. Khawatir, jangan ditanya. Kami tidak melanjutkan mencari tempat rawat inap, karena kabarnya akhir-akhir ini sulit mendapatkan ruang rawat inap anak. Akhirnya kami memutuskan untuk datang ke dokter berbeda untuk mendapatkan opsi lain (second opinion). Syukur, kami diperbolehkan membawa anak kami untuk rawat jalan dan diberi kesembuhan. Sampai beberapa waktu kemudian, satu pertanyaan terus saja mengganggu isi kepala saya. Mengapa begitu sulit menemukan ruang rawat inap untuk anak? Terlebih, mengapa begitu banyak anak-anak sakit?

READ ALSO

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Jawabannya bisa sangat liar, mulai isu pencemaran lingkungan, kualitas makanan, sampai pada aktivitas anak. Untuk dua jawaban awal, saya memilih melewatinya. Bukan menyepelekannya, namun hal tersebut di luar kendali yang kami miliki sebagai keluarga. Saya lebih fokus pada jawaban yang ketiga. Menata ulang aktivitas anak-anak adalah hal yang bisa kami kendalikan sebagai keluarga. Jadwal tidur, makan, bermain dan sekolah coba kami lihat. Memang aktivitas anak saya terlalu padat, pulang sekolah setelah ashar, langsung berangkat mengaji dan saat malam sisa tenaga mereka gunakan untuk persiapan sekolah esok harinya. Kami memberanikan diri untuk membuka komunikasi dengan pihak sekolah dan tempat anak-anak mengaji. Pihak sekolah menyepakati untuk memberi jam istirahat lebih panjang dengan jam tidur siang. Di tempat mengaji, juga sama.

Setelahnya, alhamdulillah anak-anak terlihat lebih berenergi, ceria dan yang paling penting adalah mereka lebih mudah diajak komunikasi karena memiliki rentang perhatian (fokus) yang lebih baik.

Tidur dalam studi

Hal pertama yang saya lakukan adalah melihat secara ilmiah, apakah waktu istirahat dan jam tidur anak-anak saya telah tercukupi. Berbagai lembaga riset telah merilis waktu tidur terbaik yang harus dipenuhi manusia. American Academy of Sleep Medicine misalnya, merekomendasikan tidur selama 9 hingga 12 jam untuk anak-anak usia 6 hingga 12 tahun. Tidak jauh beda dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Sleep Foundation dan The Sleep Doctor sekitar 9-12 jam sehari. Gambar berikut adalah rekomendasi tidur mulai dari bayi sampai orang dewasa.

Sumber: Sleep Foundation

Dalam berbagai penelitiannya, tidur dengan jumlah jam yang direkomendasikan secara teratur dikaitkan dengan hasil kesehatan yang lebih baik, termasuk juga peningkatan perhatian, perilaku, pembelajaran, memori, regulasi emosional, kualitas hidup, dan kesehatan mental dan fisik. Sebaliknya, tidur secara teratur kurang dari jumlah jam yang direkomendasikan dikaitkan dengan kurangnya perhatian, perilaku memburuk, dan masalah belajar. Kurang tidur bagi orang dewasa juga meningkatkan risiko kecelakaan, cedera, hipertensi, obesitas, diabetes, dan depresi. Kurang tidur pada remaja dikaitkan dengan peningkatan risiko melukai diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, dan upaya bunuh diri.

Bagaimana bagi mereka yang terlalu banyak tidur? Riset menyebut kebanyakan tidur (melebihi rekomendasi) dapat dikaitkan dengan hasil kesehatan yang merugikan seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan masalah kesehatan mental.

Selain itu, para peneliti juga ingin mengetahui berapa lama dampak tidur tersebut berlangsung. Ze Wang dan kedua koleganya melakukan penelitian bertajuk Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) yang melibatkan lebih dari 8.000 anak usia 9 hingga 10 tahun. Mereka dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu anak-anak dengan jam tidur cukup dan mereka yang terus menerus kurang tidur. Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health tahun 2022 ini. Temuannya menunjukkan dampak neurokognitif negatif yang disebabkan oleh kurang tidur. Apakah itu? Peneliti menyatakan bahwa kurangnya jam tidur berdampak secara langsung pada struktur otak, konektivitas, perilaku, kognisi, dan kesehatan mental. Jangan heran jika prestasi akademik sekolah sangat terpengaruh akibat pola tidur anak. Efeknya bisa berlangsung selama dua tahun bahkan dapat saja menjadi permanen, jika jam tidur tidak diperbaiki segera. Kesehatan yang memburuk pada usia dewasa juga dikaitkan dengan pola tidur yang tidak teratur saat masih anak-anak.

Membantu anak

Meskipun cukup menarik melihat bukti yang mendukung terkait ketercukupan jam tidur, seringkali hal ini sulit dilakukan. Padatnya jam sekolah dan monitoring keluarga setelah mereka pulang sekolah adalah dua hal utama. Belum lagi jika anak-anak juga membutuhkan waktu bermain, baik itu bermain secara langsung maupun bermain dengan gawai di rumah. Jika menengok hasil penelitian terkait manfaat tidur yang cukup, kita patut khawatir. Orang tua perlu untuk menciptakan batasan-batasan terkait aktivitas sebaik mungkin untuk membantu menetapkan harapan untuk masa depan.

Jika sekolah mereka adalah sekolah full day, ini adalah PR menarik bagi kita untuk mengkomunikasikan kepadatan aktivitas anak-anak dengan pihak sekolah. Saya sendiri mensyukuri karena pihak sekolah membuka diri untuk berdiskusi dan akhirnya menyediakan waktu untuk tidur siang.

Membantu anak-anak memahami pentingnya prioritas dan penjadwalan tidak hanya membantu untuk mendapatkan cukup tidur tetapi juga keterampilan hidup yang berharga. Komunikasi dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa aktivitas harus diatur sedemikian rupa agar seimbang. Pastikan bahwa saat waktu tidur adalah waktu merkea terbebas dari gawai. Bantu anak-anak untuk tidur dengan kondisi yang menyenangkan. Bisa dengan mmbacakan cerita atau kalua mereka cukup mampu, sediakan buku untuk dibaca menjelang tidur.

Pada akhirnya, anak-anak akan mengikuti teladan orang tua mereka. Dan di sinilah mereka benar-benar dapat berdampak. Orang tua adalah panutan. Bukan hanya apa yang kita katakan, tapi apa yang kita lakukan.

*Dosen Psikologi PIAUD FITK UIN Malang yang juga merupakan anggota Asosiasi PPIAUD Indonesia

Related Posts

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Next Post
Hotel Pelangi

Hotel Pelangi, Penginapan Tertua dan Saksi Bisu Tanam Paksa di Malang

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.