Jumat, Agustus 21, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Tirthayatra, Tradisi Jawa Kuno yang Terlupa

Redaksi by Redaksi
Juni 3, 2022 4:34 pm
in Catatan
Ilustrasi. istimewa

Ilustrasi. istimewa

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

 

Aditya Fajar*

READ ALSO

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Aditya Fajar.dok

Jamak kita ketahui saat ini jika Jawa dikenal sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia yang terkenal dan akan kemistisannya dan hal-hal diluar logika lainnya. Banyak ritual orang Jawa yang ditampilkan dalam narasi film-film kita yang seolah-olah menampilkan banyak hal-hal diluar logika. Jauh dari kenyataan dan sarat akan kesesatan.

Namun, anggapan semacam itu tak sepenuhnya dapat disalahkan. Kita terlanjur terdidik dengan program instan, tanpa pernah diarahkan bernalar mencari arti kata benar yang sesungguhnya. Oleh karena itu, hadirnya tulisan ini sedikit banyak pada akhirnya nanti diharapkan dapat menjadi secercah alternatif dalam mencari makna ritus yang dilakukan oleh orang-orang Jawa.

AIR, dalam kehidupan setiap peradaban manusia di belahan dunia manapun selalu mengambil peran yang cukup penting dan mendasar. Air, merupakan sumber pokok penyangga kehidupan alam dan seisinya. Tanpanya, mungkin tanah subur hanya akan menjadi debu usang beterbangan, tanpa ada manfaat penghidupan. Oleh karena itu, air sangat dihargai dan dimuliakan dalam hidup dan kehidupan masyarakat Jawa, sehingga muncul ragam sebutan air sesuai fungsi peruntukannya seperti banyu, warih, tirtha dan sebagainya.

Lebih khusus dalam kaitannya perihal “tirtha” , masyarakat Jawa meyakini jika tirtha adalah tingkat air tertinggi dalam hal kesucian. Baik itu yang berasal dari sumbernya yang memang disucikan ataupun dari doa dan mantra yang dilantunkan. Sehingga air berubah tingkat kebersihan dan kesuciannya yang layak digunakan sebagai sarana upacara.

Dalam tradisi Jawa Kuna, setidaknya penghargaan terhadap air dan tirtha sudah kuat mengakar.  Sehingga muncul istilah “Tirthayatra” berasal dari kata “Tirtha” yang berarti air dan “Yatra” yang berarti perjalanan suci. Maka yang dimaksud dengan Tirthayatra adalah perjalanan suci mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci dan sakral sebagai jalan untuk mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan sebagai pencipta alam.

Sebagai rangkaiannya, bisa beraneka ragam sesuai dengan keyakinan masing-masing orang dalam berhubungan dengan Tuhan. Namun secara garis besar, pada umumnya kegiatan terlebih dahulu diawali dengan maturan atau pemberitahuan kepada siapa saja yang ada di wilayah itu, baik yang kasat mata ataupun yang tidak. Untuk pemberitahuan yang sifatnya kepada hal tidak kasat mata, biasanya dilakukan dengan menghaturkan segahan ataupun caru, sama halnya dengan kita membawakan buah tangan ketika kita berkunjung ke rumah saudara.

Maturan atau suguh dan dikenal pula dengan istilah caos di beberapa wilayah di Jawa, sebenarnya adalah bentuk penghargaan orang Jawa terhadap konsepsi alam dan seisinya. Semua yang ada, baik itu diketahui ataupun tidak, nampak ataupun tak nampak semua dihargai dan diperlakukan selayaknya saudara sendiri, dijamu dan didoakan, diperlakukan sebagaimana layaknya sesama ciptaan Tuhan.

Barulah, kegiatan dilakukan dengan melukat atau siram jamas, membersihkan diri dengan air yang ada di tempat yang dituju. Doa dan pengharapan dilantukan sesuai dengan tujuan masing² tiap orang. Hal ini juga yang dilakukan para petapa, rsi, brahmana pada jaman dahulu sehingga banyak ditemukan situs² pertapaan dan inskripsi-inskripsi pendek yang menceritakan tentang perjalanan mengunjungi tempat-tempat suci, khususnya yang terkait dengan air sebagai tonggak utama kehidupan.

Namun pada umumnya, tujuan yang dilakukan dalam melukat adalah membersihkan diri melalui anugrah Tuhan yang mengalir, entah itu membersihkan diri dari segala kekotoran jasmani ataupun rohani. Bahkan, melukat juga bisa ditujukan untuk meruwat diri, membersihkan dari segala gangguan dan segala hal yang mengganjal perasaan.

Dewasa ini, perkembangan tradisi melukat juga beragam, ada yg melakukannya menjelang bulan Sura (dlm penanggalan Jawa), menjelang bulan Pasa, bulan Sela, dsb. Dalam kegiatan yang kami lakukan ini, kami mengambil alternatif siram jamas yang dilakukan pada bulan Sela. Bulan Sela, dalam tradisi Jawa sendiri diyakini sebagai bulan jeda dan kosong. Sehingga banyak di antara masyarakat yang tidak menyelenggarakan upacara pernikahan pada bulan ini. Hal ini diyakini masyarakat, sebab bulan Sela adalah bulan yang dikhususkan untuk mengasah dan memperdalam ilmu pengetahuan (kagunan Jawa). Sehingga akan takdzimnya masyarakat Jawa akan ilmu dan pengetahuan, pada bulan ini dianjurkan tidak melakukan kegiatan yang sifatnya meriah, hiburan, ataupun hura-hura.

*Penulis adalah seorang freelencer

editor: jatmiko

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: TirthayatraTradisi jawa kuna

Related Posts

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Catatan

Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU

Jumat, 14 Agu 2026
Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita
Catatan

Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita

Senin, 10 Agu 2026
21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang
Catatan

21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang

Sabtu, 8 Agu 2026
Next Post
steril massal kucing liar

Komunitas Peduli Hewan Lakukan Steril Massal Kucing Liar di Malang

BERITA POPULER

  • Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.