Selasa, Oktober 13, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Tirthayatra, Tradisi Jawa Kuno yang Terlupa

Redaksi by Redaksi
Juni 3, 2022 4:34 pm
in Ruang Cendekia
Ilustrasi. istimewa

Ilustrasi. istimewa

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

 

Aditya Fajar*

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Aditya Fajar.dok

Jamak kita ketahui saat ini jika Jawa dikenal sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia yang terkenal dan akan kemistisannya dan hal-hal diluar logika lainnya. Banyak ritual orang Jawa yang ditampilkan dalam narasi film-film kita yang seolah-olah menampilkan banyak hal-hal diluar logika. Jauh dari kenyataan dan sarat akan kesesatan.

Namun, anggapan semacam itu tak sepenuhnya dapat disalahkan. Kita terlanjur terdidik dengan program instan, tanpa pernah diarahkan bernalar mencari arti kata benar yang sesungguhnya. Oleh karena itu, hadirnya tulisan ini sedikit banyak pada akhirnya nanti diharapkan dapat menjadi secercah alternatif dalam mencari makna ritus yang dilakukan oleh orang-orang Jawa.

AIR, dalam kehidupan setiap peradaban manusia di belahan dunia manapun selalu mengambil peran yang cukup penting dan mendasar. Air, merupakan sumber pokok penyangga kehidupan alam dan seisinya. Tanpanya, mungkin tanah subur hanya akan menjadi debu usang beterbangan, tanpa ada manfaat penghidupan. Oleh karena itu, air sangat dihargai dan dimuliakan dalam hidup dan kehidupan masyarakat Jawa, sehingga muncul ragam sebutan air sesuai fungsi peruntukannya seperti banyu, warih, tirtha dan sebagainya.

Lebih khusus dalam kaitannya perihal “tirtha” , masyarakat Jawa meyakini jika tirtha adalah tingkat air tertinggi dalam hal kesucian. Baik itu yang berasal dari sumbernya yang memang disucikan ataupun dari doa dan mantra yang dilantunkan. Sehingga air berubah tingkat kebersihan dan kesuciannya yang layak digunakan sebagai sarana upacara.

Dalam tradisi Jawa Kuna, setidaknya penghargaan terhadap air dan tirtha sudah kuat mengakar.  Sehingga muncul istilah “Tirthayatra” berasal dari kata “Tirtha” yang berarti air dan “Yatra” yang berarti perjalanan suci. Maka yang dimaksud dengan Tirthayatra adalah perjalanan suci mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci dan sakral sebagai jalan untuk mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan sebagai pencipta alam.

Sebagai rangkaiannya, bisa beraneka ragam sesuai dengan keyakinan masing-masing orang dalam berhubungan dengan Tuhan. Namun secara garis besar, pada umumnya kegiatan terlebih dahulu diawali dengan maturan atau pemberitahuan kepada siapa saja yang ada di wilayah itu, baik yang kasat mata ataupun yang tidak. Untuk pemberitahuan yang sifatnya kepada hal tidak kasat mata, biasanya dilakukan dengan menghaturkan segahan ataupun caru, sama halnya dengan kita membawakan buah tangan ketika kita berkunjung ke rumah saudara.

Maturan atau suguh dan dikenal pula dengan istilah caos di beberapa wilayah di Jawa, sebenarnya adalah bentuk penghargaan orang Jawa terhadap konsepsi alam dan seisinya. Semua yang ada, baik itu diketahui ataupun tidak, nampak ataupun tak nampak semua dihargai dan diperlakukan selayaknya saudara sendiri, dijamu dan didoakan, diperlakukan sebagaimana layaknya sesama ciptaan Tuhan.

Barulah, kegiatan dilakukan dengan melukat atau siram jamas, membersihkan diri dengan air yang ada di tempat yang dituju. Doa dan pengharapan dilantukan sesuai dengan tujuan masing² tiap orang. Hal ini juga yang dilakukan para petapa, rsi, brahmana pada jaman dahulu sehingga banyak ditemukan situs² pertapaan dan inskripsi-inskripsi pendek yang menceritakan tentang perjalanan mengunjungi tempat-tempat suci, khususnya yang terkait dengan air sebagai tonggak utama kehidupan.

Namun pada umumnya, tujuan yang dilakukan dalam melukat adalah membersihkan diri melalui anugrah Tuhan yang mengalir, entah itu membersihkan diri dari segala kekotoran jasmani ataupun rohani. Bahkan, melukat juga bisa ditujukan untuk meruwat diri, membersihkan dari segala gangguan dan segala hal yang mengganjal perasaan.

Dewasa ini, perkembangan tradisi melukat juga beragam, ada yg melakukannya menjelang bulan Sura (dlm penanggalan Jawa), menjelang bulan Pasa, bulan Sela, dsb. Dalam kegiatan yang kami lakukan ini, kami mengambil alternatif siram jamas yang dilakukan pada bulan Sela. Bulan Sela, dalam tradisi Jawa sendiri diyakini sebagai bulan jeda dan kosong. Sehingga banyak di antara masyarakat yang tidak menyelenggarakan upacara pernikahan pada bulan ini. Hal ini diyakini masyarakat, sebab bulan Sela adalah bulan yang dikhususkan untuk mengasah dan memperdalam ilmu pengetahuan (kagunan Jawa). Sehingga akan takdzimnya masyarakat Jawa akan ilmu dan pengetahuan, pada bulan ini dianjurkan tidak melakukan kegiatan yang sifatnya meriah, hiburan, ataupun hura-hura.

*Penulis adalah seorang freelencer

editor: jatmiko

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: TirthayatraTradisi jawa kuna

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
steril massal kucing liar

Komunitas Peduli Hewan Lakukan Steril Massal Kucing Liar di Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.