Jumat, Juli 10, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Catatan Mudik (12): Gowes Lebaran Gembira ala Veri Sinovri

Redaksi by Redaksi
Mei 6, 2022 9:08 pm
in Pilihan Redaksi
Gowes dari Palembang ke Serpong

Aku bersama Veri Sanovri, si pegowes Serpong-Palembang pp.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Perjalanan wartawan senior Abdi Purmono yang mudik dari Malang ke Medan menggunakan sepeda motor telah sampai di wilayah Palembang, Sumatera Selatan. Saat melintas Desa Mulyaguna, Kecamatan Telukgelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, Abdi Purmono bertemu pemudik yang balik dari Palembang ke Serpong dengan mengayuh sepeda Surly tipe long houl tracker (LHT) dari arah berlawanan. Abdi tak menyiakan kesempatan untuk sharing pengalaman perjalanannya.

 

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

SAAT MASIH menyusuri jalan pantai utara atau Pantura Jawa Tengah, saya menjumpai dua pria  bersepeda. Satu orang di jalan arteri Pemalang arah ke Jakarta dan seorang lagi ke arah Semarang.

Saya menduga mereka pemudik walau tidak detail saya perhatikan kecuali sepintas dari barang bawaan mereka. Apabila dugaan saya jitu, maka dua pria ditambah saya jadilah tiga orang pria yang berlebaran di jalanan pada Senin, 2 Mei 2022, bertepatan dengan hari pertama Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriah.

Saya tak sempat berhenti karena saya sedang konsentrasi memacu sepeda motor bebek Honda Supra X 125D buatan 2007, agar cepat sampai di Jakarta dan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Merak di Cilegon, Provinsi Banten.

Aku bersama Veri Sanovri, si pegowes Serpong-Palembang pp. foto/Abdi Purmono

Saya memang dalam perjalanan mudik ke Kota Medan sejak 30 April lalu, dengan menempuh jarak 2.800 kilometer dari Kota Malang yang membentang di 42 kota/kabupaten dalam 10 provinsi: enam provinsi di Pulau Jawa dan empat provinsi di Pulau Sumatera.

Saya kira saya tak bakal melihat lagi penggowes mudik di jalan. Ternyata saya keliru. Tatkala saya melewati tikungan di Kilometer 95 Desa Mulyaguna, Kecamatan Telukgelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, saya berpapasan dengan seorang pria yang mengayuh sepeda Surly tipe long houl tracker (LHT) warna hitam dari arah berlawanan, Kamis tengah hari, 5 Mei 2022, atau di hari keempat lebaran.

Saya sempat melewatinya untuk kemudian memutar balik dan menyapa dia. Jadilah kami berkenalan di tepi jalan lintas timur Sumatera (Jalinsum) yang lengang. Ia bernama Veri Sanovri, 47 tahun, dan berprofesi sebagai fotografer Kantor Berita Republik Rakyat Cina Xinhua di Indonesia. Orangnya ramah dan gampang tertawa.

Veri bersiap balik meneruskan perjalanan ke Serpong. foto/Abdi Purmono

Veri dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, setelah menghabiskan tiga hari berlebaran di rumah orangtuanya di Sekip Ujung, Palembang, Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan. Saat kami bertemu, Veri sudah menempuh jarak sekitar 90 kilometer. “Saya memang habis mudik di Palembang dan sekarang harus pulang ke Serpong untuk kerja lagi,” kata Veri.

Veri mengaku mudik tahun ini merupakan mudik kedua menggunakan sepeda. Mudik bersepeda pertama dilakukannya pada masa Juni 2019 atau dua tahun sebelum pandemi Covid-19. Veri tak mengabari keluarganya di Palembang bermudik pakai sepeda. Keluarga baru tahu Veri menggowes ke Palembang saat Veri sudah berada di kapal feri yang menyeberangi para pemudik dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan.

Namun, Veri menukas, waktu itu ia menggowes dari Serpong sampai Palembang, lalu sepedanya dipaketkan ke Serpong. Ia sendiri balik ke Serpong pakai bus.

Di tahun ini, Veri menggowes dari Serpong pada Kamis subuh, 28 April, atau 5 hari sebelum lebaran (H-5). Istrinya tak melepas Veri. Kebetulan pula Mertua Veri berlebaran di Serpong sehingga ada yang menemani sang istri. Penyuka kegiatan alam bebas ini menyusuri jalan sepanjang 522 kilometer selama empat hari menuju Palembang. Sebagai contoh, Serpong-Merak sepanjang 106 kilometer ditempuh selama 6 jam.

Penampilan Veri Sanovri di atas sepedanya. foto/Abdi Purmono

Veri mengaku biasa mudik tiap tahun pakai mobil. Namun, gara-gara pandemi Covid-19, ia batalkan mudik bermobil. Baginya, mudik bersepeda di masa pandemi sungguh monumental, bersejarah banget. Ia bukan penggowes nekat lantaran ia sangat perhitungkan betul kondisi tubuh, keamanan sepeda, barang bawaan, dan rute yang dilewati.

“Kalau orang nekat kan biasanya enggak pakai perhitungan, langsung pergi begitu saja. Saya sih pakai persiapan walau persiapannya biasa-biasa saja. Saya nikmati betul perjalanan ini dan enggak terasa saya sudah di Jembatan Ampera (Palembang) pas malam takbiran. Ya, sebenarnya saya ini agak iseng saja,” ujar Veri, tertawa.

Veri memang suka bercanda. Kendati bilang iseng, Veri membawa peralatan lengkap, seperti tenda untuk berkemah, matras, pakaian, kompor portabel dan nesting (peralatan memasak pendaki), dan kantung tidur alias sleeping bag.

Persiapan seperti itu juga dilakukan saat Veri dan kawan-kawan menggowes dari Serpong ke Yogyakarta pada April 2019.

Sebagai fotografer, Veri tidak sembarangan mengeluarkan kamera di jalanan untuk memotret. Veri hafal betul titik-titik rawan keamanan dari Palembang ke Bandar Lampung, seperti di Kayuagung, Pematang Panggang dalam wilayah OKI, serta beberapa titik di wilayah Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung.

Maka, demi keamanan, Veri tidak berjalan di malam hari. Ia rehat di posko mudik, kantor polisi, dan rumah warga yang dianggapnya aman. Veri sempat menginap di sebuah masjid di Bandar Jaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Wahai para pembaca, jangan bayangkan perjalanan di Pulau Sumatera sama dengan di Pulau Jawa. Perjalanan jauh di Pulau Jawa relatif lebih aman, dengan infrastruktur jalan yang bagus, serta jumlah penduduk yang padat sehingga lebih mudah untuk dimintai tolong jika dalam kondisi genting.

Sebaliknya, di Sumatera, jalanan bisa sangat panjang, sepi, dan selalu mulus; rumah penduduk berjauhan; kiri-kanan hutan dengan sesekali melintasi perkebunan luas kelapa sawit, karet, atau singkong; serta pom bensin berjumlah sangat sedikit dan tak gampang ditemukan sehingga saya, misalnya, bawa jiriken berisi tiga liter Pertalite yang diikat di belakang bodi motor.

Dan, satu lagi, mayoritas Jalinsum gelap akibat ketiadaan lampu penerangan jalan kecuali di kota-kota. Kondisi sepi dan gelap bisa memudahkan penjahat beraksi. Bandit bisa muncul tiba-tiba keluar dari semak atau jalan kecil untuk mengejar korban, atau menggunakan modus melintangkan batang kayu atau pisang di tengah jalan.

“Kita sama-sama orang Sumatera, tahu sendirilah karakter sebagian pria Sumatera di Jalinsum ini, maka saya tak mau mengundang datangnya hal-hal buruk bagi diri saya. Tiap kali beristirahat, saya pasti hubungi istri agar dia tidak cemas,” ujar Veri, alumni Universitas Sriwijaya kelahiran 1 November 1975.

Memang, kata Veri, banyak polisi dan warga yang memberikan informasi penting untuk keamanan dan kelancaran perjalanan. Bukan cuma informasi, ada juga warga yang bersimpati dengan memberikan sejumlah uang. Kebaikan warga ini terpaksa ditolak karena Veri tak ingin merepotkan si pemberi dan ia belum kehabisan fulus.

Kebiasaan gowes membuat kondisi fisiknya prima. Veri tak terlalu memusingkan asupan nutrisi. Kalau capek, ya beristirahat dan minum teh manis saja sudah cukup.

“Seperti saya bilang tadi, saya tak pakai persiapan khusus. Ini sudah kebiasaan saja. Istirahat kalau capek. Enggak usah dipaksakan harus jalan. Yang penting tahu dan sadari kondisi fisik kita. Perjalanan harus dibawa santai dan dinikmati, dibawa enjoy dan gembira saja,” ujar Veri, seraya menambahkan sangat termotivasi karena sangat merindukan enaknya pempek dan martabak HAR langganannya.

Saat catatan ini ditulis, Veri mengabari dirinya menginap di Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, dan dalam perjalanan menuju Bandar Lampung. Saya sendiri juga sempat menginap Simpang Pematang pada Rabu malam Kamis, 5 Mei.

Reporter: Abdi Purmono
editor:jatmiko

 

 

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: catatan mudikcatatan mudik 2756 kilometergowes lebaranMudik bersepeda motor Malang-MedanMudik Malang-Medan dengan Bersepeda MotorPalembangSumatera selatan

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
pantai tiga warna

Menikmati Keindahan Terumbu Karang di Pantai Tiga Warna

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.