Sekolah lapang tersebut digelar setiap minggu di Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu. Program pembelajaran selama satu musim tanam ini diikuti 30 peserta, terdiri atas 15 laki-laki dan 15 perempuan.
Pendamping Petani Sekolah Lapang Agroekologi Amartapadi Indramayu, Joharipin, mengatakan program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi pertanian yang semakin bergantung pada input kimia dan produk dari luar.

Menurutnya, ketergantungan tersebut berpotensi membuat usaha tani semakin rentan secara ekonomi. Karena itu, Amartapadi mengembangkan pendekatan agroekologi yang menggabungkan ilmu ekologi dengan kearifan lokal.
“Dari hasil analisa usaha tani, ternyata bertani itu kalau menggunakan input-input kimia dan semuanya didatangkan dari pihak luar, maka kondisi pertanian kita itu mendapati bangkrut,” kata Joharipin saat dihubungi wartawan tugumalang.id, Selasa (3/11/2026).
Sekolah Lapang Agroekologi Amartapadi Kembangkan Pangan Lokal
Sekolah Lapang Agroekologi telah menjadi bagian dari kegiatan Amartapadi Indramayu sejak berdiri pada 2016. Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah pemuliaan benih untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak luar sekaligus menjaga kearifan lokal.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Petik Buah di Kota Batu Cocok Mengisi Libur Sekolah
“Akhir-akhir ini perubahan cuaca atau perubahan iklim yang tidak menentu, maka tidak bisa dipisahkan antara pemuliaan benih dengan perubahan iklim,” ujar Joharipin.
Petani Belajar Langsung di Lahan
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Lapang Agroekologi menggunakan metode pembelajaran langsung di lahan praktik. Peserta tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga melakukan pengamatan, pencatatan, dan diskusi berdasarkan kondisi tanaman.
Kegiatan berlangsung setiap minggu. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mengamati kondisi lahan, cuaca, curah hujan, jenis serangga, hingga pertumbuhan tanaman padi di Laboratorium Agroekologi.
“Peserta datang pagi-pagi itu tidak langsung ke kelas. Seluruh peserta yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, masing-masing punya tugas melihat kondisi tanaman yang ada di lahan laboratorium itu,” jelas Joharipin.
Baca juga: Menilik Konsep Pengembangan Budidaya Kopi Agroforestri di Lereng Gunung Arjuno
Setiap kelompok mencatat temuan di lapangan, mulai dari umur tanaman, jumlah anakan padi, hingga jenis serangga yang ditemukan. Setelah itu, peserta kembali ke kelas untuk mendiskusikan hasil pengamatan dan mempresentasikannya kepada kelompok lain.
Pembelajaran juga dilengkapi materi Analisis Agroekosistem (AESA), yang merupakan bagian dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Melalui kegiatan ini, petani diajak mengenali organisme yang berperan sebagai musuh alami hama maupun serangga yang berpotensi merusak tanaman.
“Materi-materi yang disampaikan itu tergantung kondisi. Materi menyesuaikan hama apa yang kami temukan. Ada materi AESA, ada ekologi tanah, lalu pengendalian hamanya juga tidak menggunakan racun pestisida,” terangnya.

Selain itu, peserta juga membuat pupuk organik padat dan cair dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Limbah pertanian maupun peternakan dapat diolah kembali menjadi pupuk alami untuk lahan.
Setelah satu musim panen, kegiatan peserta Sekolah Lapang Agroekologi dilanjutkan dengan pengembangan usaha bersama di bidang pengolahan pangan lokal. Salah satu potensi yang ingin dikembangkan adalah mengolah mangga menjadi produk bernilai tambah.
Joharipin menyebut mangga dapat diolah menjadi keripik dan manisan agar petani memperoleh nilai tambah. Pengolahan hasil pertanian ini menjadi salah satu cara agar petani dan masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan hasil panen dalam bentuk mentah.
“Petani kami dorong untuk mengelola mangga. Bukan hanya dipetik lalu dijual, tapi diproses bisa menjadi keripik mangga ataupun nanti manisan mangga dan lain sebagainya,” ujarnya.
Selain pengolahan mangga, Amartapadi juga merencanakan pengemasan benih serta beras sehat atau beras agroekologi. Pengembangan usaha tersebut diharapkan dapat memperkuat kegiatan ekonomi bersama.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko





































