Oleh:
Narudin Pituin**
BUKU terbaru saya dalam bidang kritik sastra akademis ialah Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny (2026), yang baru terbit. Sebelumnya, ada buku saya dalam bidang kritik sastra akademis pula yang berjudul Puisi Esai Denny JA Diakui Dunia, ditulis akhir tahun 2025 dan terbit awal tahun 2026. Jadi, di tahun ini saya telah menulis dua buku kritik sastra akademis yang membahas secara utuh karya sastra dua orang sastrawan Indonesia.
Ada beberapa keberatan yang saya terima dari publik atau pembaca ketika buku Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny (2026) baru terbit. Sebagian mereka tidak setuju dengan penyebutan Surya Burhanuddin sebagai penyair atau sastrawan karena mereka menilai, siapa Surya? Apa karya sastranya?
Dua pertanyaan itu telah saya jawab secara ilmiah dengan sebuah esai pertanggungjawaban bahwa memang Surya seorang penyair atau sastrawan. Itu semua saya buktikan dengan kajian terhadap puisi dan prosa Surya beberapa minggu atau bulan yang lalu.
Untuk selengkapnya, para pembaca dipersilakan membaca buku di atas secara utuh hingga tuntas sebab buku dengan ketebalan kurang lebih 250 halaman itu tidak mungkin diringkas di FB ini karena banyak referensi atau daftar pustaka dan analisis-analisis sastra secara akademis. Dasar teori sastra yang saya gunakan untuk membahas buku ini ialah Semiotika yang saya kembangkan selama bertahun-tahun.
Baca juga: Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 2: Langkah Sederhana nan Konsisten dan Pupuk Sriwidjaja
Para pembaca dapat membaca praktik kritik sastra saya secara semiotik secara utuh dengan membaca buku Puisi Esai Denny JA Diakui Dunia (2026) dan buku Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny (2026) hingga selesai halaman terakhir.
Satu hal yang tidak mungkin saya lupakan ialah buku Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny (2026) itu dikirim oleh Surya Burhanuddin kepada saya. Begitu buku tiba, saya buka dan baca. Sungguh, saya terpesona sebab alangkah bagusnya bentuk buku itu—jilid hard cover dengan cetakan isi berwarna dalam kertas berkilau.
Surya tahu bahwa jangan menilai buku dari sampulnya, tetapi Surya pun tahu bahwa ulang tahun pernikahannya yang ke-50 terasa berhasil dikupas tuntas dalam buku yang saya tulis di atas terhadap buku autobiografinya yang berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976—2026).
Buku ini seakan-akan hadiah terakhir dalam hidupnya kepada saya sebab saya menilai bagus betul buku cetak ini.
Dalam Semiotika, bentuk buku hanyalah penanda yang dapat memiliki pelbagai pemaknaan apabila melibatkan kepentingan orang yang terlibat dalam penerbitan buku itu. Sementara itu, isi buku haruslah mencerminkan bentuk buku cetaknya agar penanda dan petandanya seimbang, tidak terpisahkan.
Baca juga: Bersejarah, Buku Eksklusif untuk Peringati 50 Tahun Pernikahan Surya dan Sjenny Telah Terbit
Sekali lagi, saya katakan. Surya Burhanuddin ialah sastrawan atau penyair. Dari mana saya tahu dan yakin? Bacalah buku di atas ini hingga usai.
Terima kasih, Bapak Surya Burhanuddin. Semoga sehat panjang umur bersama Ibu Sjenny. Selamat atas usia pernikahannya yang sudah mencapai angka emas, yakni 50 tahun. Usia saya saja belum mencapai angka itu.
**Catatan Narudin Pituin (Seorang sastrawan, penerjemah dan kritikus sastra. Tinggal di Jawa Barat. Sering diundang sebagai pengajar, pembedah buku, dan pemakalah seminar bahasa dan sastra tingkat nasional dan tingkat internasional).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com































