Oleh: Faishal Aminuddin*
Tugumalang.id – Ketika seseorang menerima amanah sebagai pengurus Nahdlatul Ulama (NU), apa yang sesungguhnya berubah? Riwayat masa mahasiswa tidak terhapus. Sahabat lama tetap sahabat, hubungan dengan senior juga tidak putus.
Tetapi ada tanggung jawab baru yang seharusnya mengubah cara mengambil keputusan. Kebutuhan NU dan jemaahnya mesti diletakkan di depan kepentingan jaringan yang mungkin ikut mengantarkan seseorang ke dalam kepengurusan.
Saya menyebutnya “NU first”. Ungkapan ini sederhana, tetapi pelaksanaannya menuntut keberanian. Kita datang dari PMII, HMI, IPNU, IPPNU, GMNI, pesantren, organisasi profesi, kampus, dan berbagai ruang kehidupan. Semua pengalaman itu adalah bekal.
Setelah masuk ke rumah yang sama, bekal tersebut harus dipakai untuk memperbaiki pekerjaan bersama, bukan untuk memperkuat primordialisme kelompok asal dengan sumber daya NU.
Baca Juga: Inspiratif, 8 Peraih IKA-PMII Awards 2026, Mulai Tokoh Senior, Sekjen PKB hingga Dosen
NU first tentu bukan kewajiban membenarkan semua tindakan pengurus. Menutup kesalahan, mengabaikan hukum, atau mengorbankan kejujuran demi nama baik justru merusak organisasi. Kepentingan NU tidak sama dengan kepentingan orang yang sedang memegang jabatan. Ia harus dibaca melalui nilai perjuangan dan kemaslahatan jamaah.
Oleh sebab itu, kesetiaan kadang hadir dalam keputusan yang tidak nyaman: menolak usulan sahabat, mengevaluasi kerja senior, atau menerima gagasan orang dari jaringan berbeda. Di saat seperti itulah amanah memperoleh makna. Ia menolong kita memilih yang benar ketika kedekatan pribadi menarik ke arah lain.
Kacamata yang dipakai melihat NU
Saya teringat metafora “kacamata” yang pernah digunakan Gus Mus untuk menggambarkan cara kader melihat dunia melalui identitas organisasinya. Kacamata membuat sesuatu tampak jelas, tetapi dapat pula membatasi bagian yang terlihat. Pertanyaan pentingnya ialah: kacamata apa yang kita pakai setelah menjadi pengurus NU?
Persoalan ini tidak menunjuk satu organisasi alumni sebagai sumber masalah. Siapa pun dapat terlampau dikuasai oleh keterikatannya. Seorang pengurus mungkin lebih cepat melihat potensi teman satu angkatan, lebih nyaman meminta nasihat kepada jaringan profesi, atau lebih percaya kepada orang dari daerah asal. Semua itu manusiawi.
Namun jabatan mengharuskan pandangan diperluas. Orang yang belum dikenal tidak boleh selamanya tak terlihat hanya karena ia tidak memiliki jalan masuk ke lingkaran terdekat.
Pengalaman asal tetap berharga. Alumni PMII dapat membawa kepekaan terhadap kehidupan mahasiswa dan masyarakat. Alumni HMI, organisasi pelajar, pesantren, kampus umum, serta dunia profesi juga mempunyai pengetahuan yang berguna.
Tidak ada satu bekal yang cukup untuk seluruh tanggung jawab NU. Kedewasaan dimulai ketika kita mampu membawa pengalaman sendiri sambil mendengar mereka yang menempuh jalan berbeda.
Banyak asal, satu tanggung jawab
NU adalah ruang pertemuan banyak perjalanan hidup. Ada yang sejak kecil dibentuk pesantren; ada yang aktif di organisasi pelajar; ada yang mengenal NU ketika kuliah; ada pula yang mendekat melalui kerja pendidikan, kesehatan, ekonomi, atau pelayanan sosial. Keragaman ini bukan gangguan yang harus diseragamkan. Ia adalah cadangan pengalaman yang besar, selama organisasi mampu menempatkannya secara adil.
Baca Juga: Syifa’ul Khoiri Jadi Ketua IKA PMII Merdeka, Siap Kuatkan Kaderisasi hingga Kawal Kebijakan Pemerintah
Dua orang dari organisasi yang sama pun belum tentu mempunyai kemampuan serupa. Yang satu mungkin teliti mengelola administrasi, yang lain piawai menggerakkan masyarakat. Label memberi gambaran awal, bukan keputusan akhir. Untuk menyerahkan amanah, kita perlu mengetahui apa yang sungguh-sungguh dapat dikerjakan seseorang, bagaimana integritasnya, dan apakah ia bersedia bertanggung jawab.
Samuel Gaertner dan John Dovidio mengembangkan gagasan identitas bersama yang lebih luas untuk mengurangi prasangka antarkelompok. Teori itu tidak dibuat khusus untuk NU, tetapi memberi pelajaran penting: orang lebih mudah melampaui batas lama ketika mengalami kerja nyata sebagai satu tim.
Seruan persatuan akan terdengar kosong jika satu lingkaran tetap menguasai kesempatan. Identitas bersama membutuhkan bukti berupa aturan yang adil, pembagian tugas yang masuk akal, dan ruang kritik yang aman.
Orang tidak perlu menyembunyikan organisasi asal agar diterima di NU. Pada saat yang sama, tidak ada kelompok yang berhak memperoleh perlakuan istimewa karena menganggap dirinya paling asli. NU first hanya akan dipercaya bila kewajiban dan kesempatan mengikuti ukuran yang dapat dipahami bersama.
Kaderisasi bukan sekadar sertifikat
NU sesungguhnya telah memiliki kaderisasi berjenjang. Peraturan Perkumpulan tentang Sistem Kaderisasi memuat PD-PKPNU pada tingkat dasar, PMKNU pada tingkat menengah, dan AKN-NU pada tingkat tertinggi.
Terdapat pula jalur penyetaraan atau mu’adalah serta ketentuan khusus. Kerangka ini penting karena pemahaman tentang NU tidak semestinya bergantung pada pengakuan sepihak atau kedekatan dengan tokoh tertentu.
Siapa pun yang bersedia menjadi pengurus perlu memahami sejarah, manhaj, tata organisasi, dan tanggung jawab pengabdian. Keterbukaan terhadap berbagai latar tidak berarti NU kehilangan hak menetapkan standar bagi pemegang amanah. Sebaliknya, standar bersama memungkinkan orang dari pintu berbeda bertemu dalam bahasa organisasi yang sama.
Namun kaderisasi tidak selesai ketika acara ditutup dan sertifikat dibagikan. Orang dapat menghafal struktur tetapi tidak tahu cara membuat laporan. Ia dapat fasih berbicara tentang khidmat namun sambil menutup pintu bagi kader lain.
Keberhasilan pelatihan justru terlihat dalam kebiasaan sederhana: menepati kesepakatan, mengelola perbedaan, memakai sumber daya sesuai tujuan, dan menjelaskan keputusan kepada orang yang terdampak.
Kaderisasi juga perlu menumbuhkan keberanian bertanya. Peserta tidak cukup diberi daftar larangan; mereka perlu memahami alasan di balik tata kerja. Organisasi besar akan selalu menghadapi keadaan baru yang tidak tercantum persis dalam modul. Kader memerlukan pegangan nilai sekaligus kemampuan menimbang secara jernih.
Pintu terbuka, jalur tertata
Sejarah PMII menunjukkan bahwa pembagian ruang kaderisasi pelajar dan mahasiswa selalu melalui perundingan. Gagasan pembentukan wadah mahasiswa NU pernah ditunda karena IPNU yang baru berdiri masih membutuhkan tenaga penggerak.
PMII kemudian lahir pada 1960, menyatakan independensi pada 1972, dan merumuskan interdependensi dengan NU pada 1991. Perdebatan mengenai status strukturalnya kembali tampak pada Muktamar NU 2015.
Riwayat itu mengingatkan bahwa integrasi kaderisasi harus dibicarakan melalui mekanisme yang sah. Apa pun bentuk yang disepakati, penataan jalur jangan memonopoli pintu masuk. Mahasiswa NU yang berproses di organisasi lain, profesional yang bukan aktivis mahasiswa, atau kader daerah yang jauh dari pusat tetap perlu memperoleh jalan wajar untuk belajar dan membuktikan pengabdiannya.
Keterbukaan bukan hak otomatis untuk mendapat jabatan. Setiap amanah mempunyai syarat. Orang yang ingin masuk harus bersedia belajar, dinilai, dan dikoreksi. Tetapi penilaian diarahkan pada pemahaman, integritas, kemampuan, serta rekam kerja, bukan pada dugaan bahwa satu asal membuat seseorang selamanya kurang sah.
Kita juga perlu peka kepada kemampuan yang tidak muncul dari pergaulan paling ramai. Ada profesional yang baru sempat berorganisasi, kader daerah yang jauh dari pusat, dan perempuan berpengalaman yang kurang terlihat dalam percakapan alumni yang didominasi laki-laki. Rumah besar kehilangan banyak tenaga jika hanya mengenali suara yang paling dekat.
Dari pelatihan menuju pekerjaan
Kaderisasi sebaiknya dihubungkan dengan penugasan. NU perlu mengetahui siapa yang mempunyai pengalaman di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, teknologi, atau pendampingan masyarakat. Pemetaan ini bukan perlombaan mengumpulkan data pribadi, melainkan usaha sederhana menemukan kecocokan antara kemampuan dan kebutuhan.
Sesudah pelatihan, kader dapat bekerja dalam tim yang beragam. Satu tim mungkin memperbaiki dokumentasi sebuah sekolah; tim lain mendampingi pelayanan warga. Di sana, orang mengenal koleganya melalui ketepatan, kesediaan membantu, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Label asal tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi pusat penilaian. Kepercayaan tumbuh dari pekerjaan yang benar-benar diselesaikan bersama.
Pendampingan senior juga penting, tetapi harus dibedakan dari ketergantungan kepada patron. Mentor membantu kader melihat kekurangan, membuka bahan belajar, dan memberi umpan balik. Ia bukan pemilik masa depan kader. Seseorang sebaiknya belajar menerima penilaian dari lebih dari satu pihak agar kemajuannya tidak bergantung pada restu satu lingkaran.
Tanggung jawab berikutnya perlu mengikuti hasil kerja, bukan sekadar lama pergaulan. Gelar akademik dan pengalaman profesional tentu berharga, tetapi tidak cukup. Ahli yang cemerlang belum tentu memahami musyawarah dan kultur organisasi; orang yang sangat dekat secara kultural belum tentu mampu mengelola program atau keuangan. Meritokrasi di NU harus membaca integritas, pemahaman nilai, kecakapan, dan rekam pengabdian secara bersama.
Kesetiaan yang memberi ruang suara
Faksi dan perbedaan pilihan akan selalu ada dalam organisasi besar. Persoalannya bukan apakah semua orang berpikir sama, melainkan apakah persaingan berlangsung melalui gagasan dan aturan. Mereka yang kalah dalam pemilihan tidak seharusnya kehilangan hak menyumbangkan kemampuan; kemenangan pun tidak memberi hak mengambil seluruh ruang. Setelah kontestasi selesai, pekerjaan dan kebutuhan jamaah tetap menunggu.
Albert Hirschman, dalam Exit, Voice, and Loyalty, menunjukkan bahwa kesetiaan dapat berjalan bersama suara yang meminta perbaikan. Orang yang mengkritik tidak selalu ingin meninggalkan organisasi; ia mungkin berbicara karena masih menyimpan harapan. Karena itu, NU first tidak boleh dipakai membungkam pertanyaan. Kritik perlu berbasis informasi dan memberi kesempatan menjawab, sedangkan organisasi wajib menyediakan jalur tindak lanjut yang jelas.
Pemeriksaan yang adil juga membedakan kelalaian, kekurangan kemampuan, dan hambatan di luar kuasa seseorang. Dengan begitu, organisasi dapat memilih apakah perlu memperbaiki proses, memberi pendampingan, atau mengganti penanggung jawab. Sahabat tidak dilindungi tanpa batas, sementara orang dari kelompok lain tidak dihukum hanya karena asalnya.
Rumah yang diuji penghuninya
Rumah bersama terasa nyata ketika aturan berlaku juga kepada orang yang paling dekat dengan pengambil keputusan. Sahabat yang melalaikan amanah diminta memperbaiki kerja; kader dari jaringan lain yang berhasil diberi pengakuan. Konsistensi seperti ini membangun kepercayaan lebih kuat daripada seribu slogan persaudaraan.
Keberhasilan kaderisasi pun tidak cukup dihitung dari jumlah lulusan. Ia tampak ketika organisasi mampu menemukan orang yang tepat, mengelola perbedaan, menjaga pertanggungjawaban, dan menghargai kerja yang tidak selalu mendapat sorotan. Ada banyak bentuk pengabdian yang berlangsung jauh dari panggung dan susunan jabatan terkenal.
Saya ingin tetap menjaga persahabatan sejak masa mahasiswa. Kenangan dan rasa terima kasih tidak perlu dibuang. Namun saya juga ingin orang yang tidak mempunyai pengalaman serupa mendapat kesempatan yang adil. Datang dari banyak tempat tidak membuat komitmen bersama mustahil. Ia tumbuh dari kesediaan belajar, aturan yang dipercaya, dan pengalaman bekerja bahu-membahu.
Di situlah NU first menemukan maknanya: kita membawa pengalaman lama untuk memperkaya rumah bersama, lalu bersedia menilai diri dengan ukuran yang juga berlaku bagi orang lain. Persaudaraan alumni tetap hidup, tetapi tidak duduk di kursi pengemudi. Ketika keputusan menyangkut NU, yang pertama kita pikirkan adalah nilai organisasi dan manusia yang dilayani. Rumah ini terlalu luas untuk diurus hanya demi kenyamanan satu lingkaran.
*Penulis adalah dosen Universitas Brawijaya, meraih gelar doktor dari Heidelberg, Jerman. Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) PBNU 2022-2026.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A
**Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com. Setiap artikel yang dikirim wajib disertai foto pribadi.































