Oleh: Narudin Pituin
Tugumalang.id – Pertanyaan tentang arti hidup sering kali membuat kita merenung panjang. Melalui karya-karya terbarunya pada tahun 2026, penyair Surya Burhanuddin menghadirkan perenungan yang tidak hanya kaya akan makna, tetapi juga cukup memukau dari segi bentuk dan isinya.
Secara tematis, puisi ini berfokus pada tema kemanusiaan, eksistensi diri, dan etika kasih sayang. Penyair mengajak pembaca untuk keluar dari jerat egoisme pribadi dan memandang hidup sebagai ladang pengabdian sosial.
Sementara itu, dari segi estetis, Surya Burhanuddin menggunakan pilihan kata yang jernih, mengalir, dan penuh rima batiniah yang menenangkan.
Baca Juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain
Gaya bahasa yang digunakan lugas tanpa kehilangan keindahannya, sehingga pesan-pesan filosofis yang disajikan terasa sangat dekat dengan jiwa pembaca.
Pendalaman tematis dan estetis tersebut dapat ditelusuri melalui bait demi bait puisi ini. Pada bait pertama, Surya Burhanuddin menyoroti tema waktu dan kasih:
“Hidup menjadi indah bukan karena panjangnya waktu, tetapi karena kasih yang tak pernah berhenti memberi makna.”
Secara estetis, bait ini dibangun dengan rima akhir yang lembut dan penuturan yang puitis. Dari segi tematis, bait ini menyampaikan pesan bahwa keindahan hidup diukur dari kualitas kebaikan yang ditebarkan, bukan dari lamanya usia biologis seseorang.
Selanjutnya, pada bait kedua, penyair memperkuat tema kesadaran dalam melangkah:
“Hidup bukan sekadar menapaki waktu, tetapi menanam makna di setiap langkah.”
Baca Juga: Sharing Session Tugu Media Group, Surya Burhanuddin Tekankan Kekuatan Mimpi
Ditinjau secara estetis, penggunaan metafora “menapaki waktu” dan “menanam makna” memperkaya imaji visual pembaca. Secara tematis, bait ini mengajukan gagasan bahwa hidup adalah sebuah proses aktif yang menuntut tanggung jawab moral atas setiap tindakan yang kita ambil.
Hubungan antarmanusia menjadi fokus utama pada bait ketiga:
“Jalan hidup tidak hanya menenun kisah berdua, tetapi juga dengan kehidupan orang lain.”
Dari segi estetis, metafora penonjolan tenunan kisah menghadirkan keindahan perumpamaan yang menyatukan relasi antarmanusia. Dari segi tematis, bait ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang kebahagiaannya terikat erat dengan keberadaan orang lain di sekitarnya.
Kepedulian sosial tersebut semakin dipertegas pada bait keempat dalam bentuk semangat berbagi:
“Setiap langkah bukan sekadar pencarian kebahagiaan pribadi, melainkan juga perjuangan untuk memberi arti kepada yang lain.”
Secara tematis, bait ini menolak paham yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengusung nilai kepedulian universal. Dari segi estetis, susunan kalimatnya mengalir secara berimbang, menegaskan pertentangan antara egoisme dan pengabdian.
Sebagai puncak perenungan, bait kelima merangkum keseluruhan pesan puisi:
“Hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi tentang seberapa dalam kita mencintai.”
Secara estetis, bait penutup ini menggunakan gaya pengontrasan yang sangat kuat dan mudah diingat. Secara tematis, bait ini menjadi sintesis yang sempurna bahwa cinta kasih yang tulus adalah warisan terindah dari eksistensi manusia.
Ulasan atas karya Surya Burhanuddin (2026) ini menunjukkan bahwa perpaduan antara keindahan estetika bahasa dan kedalaman tema kemanusiaan berhasil melahirkan karya yang menyentuh. Puisi ini menuntun pembaca untuk menjalani hari-hari dengan penuh cinta, kepedulian, dan arti yang sejati.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A































