Oleh: Irham Thoriq*
Tugumalang.id – Kuliah kadang bukan tentang apa yang kita pelajari. Tapi, tentang apa yang tersisa dari ingatan. Ingatan tentang teori, tentang proses belajar, interaksi dengan teman dan tentang iklim akademik.
Terlebih, bagi saya yang terakhir kuliah 2013 silam. Artinya, sudah 13 tahun saya tidak mengenyam bangku perkuliahan.
Ada sedikit yang saya ingat. Tapi, mayoritas saya sudah melupakan aneka macam teori yang saya pelajari di bangku sarjana.
Di sela Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Magister Psikologi UIN Malang, Selasa (26/8/2026), saya berpikir agak keras.
Apa yang lebih penting dari sebuah teori, dalam sebuah proses perkuliahan. Apalagi, saat ini eranya akal imitasi (AI) yang dengan mudah kita bisa mengumpulkan banyak teori, lalu menghafalkannya.
Baca Juga: Jadi Sarjana Lebih Cepat, Ini Keunggulan Program RPL S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unisma
Dari berpikir singkat itu, saya menemukan dua kata: experience dan kesadaran. Saya kira, dua kata inilah yang penting untuk saya lakukan saat kuliah Pascasarjana.
Dua kata itu muncul setelah saya menarik ingatan saat masuk Sarjana Psikologi UIN Malang, pada 2008 silam atau 18 tahun silam.
Saat itu, tentu saja saat saya masih culun, yang saya ingat adalah dosen yang mengajak mahasiswa berpikir. Tidak hanya menghafal teori.
Yang saya ingat juga saat saya dua kali tidak lulus di mata kuliah tententu. Hingga proses interaksi dengan teman dan dosen yang intens. Yang saya ingat juga dosen yang mengajak mahasiswanya aktif membaca buku.
Baca Juga: Wholehearted Service, Our Experience at Hospital Penawar Johor, Malaysia
Momen-momen yang saya sebut sebagai sebuah experience itulah yang saya ingat. Sedangkan saya cenderung mudah lupa terhadap proses perkuliahan yang hanya menghafalkan teori.
Di Pascasarjana, tentu saja experience -nya bisa berbeda. Di sini, experience-nya bisa jadi dengan cara meruntutkan cara berpikir. Memadukan teori dengan dunia nyata saya, khususnya dalam bidang bisnis, media, dan mengelola orang. Dan bukan tak mungkin, apa yang bisa dibisniskan dari Ilmu Psikologi ini.
Memadukan dunia perkuliahan dengan dunia nyata adalah tantangan. Dalam Islam, disebutkan bahwa aneka macam peristiwa adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang berpikir. Tanda-tanda itulah, yang perlu kita padukan. Connecting the dots, meminjam istilah Steve Jobs.
Karenanya, saya selalu yakin, dunia kuliah seharusnya menyatu dengan dunia industri. Keduanya bisa saling menguatkan, dan tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Ini bisa kita dapatkan, tentu saja ketika kita berpikir, lalu mencoba mempraktikkannya.
Experience inilah yang menjadi tantangan. Bagaimana perkuliahan yang mungkin singkat, yakni dua tahun ini, juga berdampak bagi kehidupan kita yang lain: yakni karier profesional, usaha, keluarga, hingga kehidupan sosial.
Sedangkan kata lain yang menurut saya cukup penting adalah kesadaran penuh. Kita akan meraih puncak potensi kita, saat kita hadir dengan kesadaran penuh.
Saat kita hadir dengan kesadaran penuh, kita tidak hanya datang, tapi juga menyelami dan mamaknai. Kesadaran penuh kalau dalam salat bisa dibilang khusuk. Karena manjurnya kesadaran penuh ini, orang yang khusuk dalam salatnya maka dia akan terhindar dari prilaku keji dan perbuatan tercela.
Kalau ada orang salat tapi masih berbuat jahat, bisa jadi dia salat tidak dengan kesadaran penuh. Ini bukan kata saya, tapi kata Allah SWT dalam Alqur’an.
Tulisan ini juga sebagai pengingat saya, agar bisa kuliah Pascasarjana, dengan dua hal tadi: tidak ragu melakukan experience, dan hadir tidak hanya hadir, tapi melakukannya dengan kesadaran penuh.
Jika dua hal itu konsisten saya lakukan, maka saya yakin: ini adalah investasi paling berhasil untuk kehidupan saya di massa mendatang.
Saya yakin, padi yang dipanen hari ini, tidak ditanam kemarin sore.
*Penulis adalah Founder Tugu Media Group (tugumalang.id dan tugujatim.id), saat ini menempuh Magister Psikologi di UIN Maliki Malang.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News




























