Jumat, Agustus 21, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Redaksi by Redaksi
Agustus 21, 2026 11:06 am
in Catatan
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Fajar SH
(Kader Ansor PAC Kedungkandang, Kota Malang)

Malang adalah Kayutangan Heritage, Jalan Ijen, kawasan kampus yang ramai, Jalan Suhat yang tidak pernah sepi, atau destinasi wisata yang memenuhi media sosial kita hari ini—tempat-tempat yang selalu ada di benak banyak orang. Nama-nama tersebut adalah bukti bahwa kota ini berhasil membangun citranya sebagai kota yang cantik, kreatif, dan ramah bagi para pengunjung.

READ ALSO

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

SEKATEN

Jika dilihat dari kacamata ekonomi, citra yang dimaksud adalah sesuatu yang baik. Tapi, jika dilihat melalui kacamata keadilan sosial, apakah nama-nama di atas sudah cukup mewakili wajah Malang secara keseluruhan?

Harus diakui, di luar ruang-ruang yang terus dipromosikan tersebut, terdapat wilayah-wilayah yang jarang masuk dalam narasi pembangunan kota. Kampung-kampung kumuh dan padat penduduk, wilayah pinggiran, permukiman di gang-gang sempit, rumah tinggal di bantaran sungai, area rusun, atau hunian yang minim ruang publik dan kualitas fasilitas umumnya tidak selalu sebaik kawasan pusat kota sering kali luput dari perhatian.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis pembangunan, tapi sebuah cermin tentang bagaimana sebuah kota membayangkan dirinya sendiri.

Baca juga: Guru PPPK Kota Malang Berpeluang Diangkat Jadi PNS pada 2027

Sosiolog Manuel Castells menjelaskan bahwa kota modern semakin didominasi oleh apa yang disebutnya sebagai space of flows atau ruang aliran. Ruang ini adalah wilayah yang terkoneksi dengan arus modal, informasi, konsumsi, pariwisata, dan aktivitas ekonomi. Pemerintah, investor, dan media cenderung memusatkan perhatian pada ruang-ruang tersebut karena dianggap mampu meningkatkan daya saing kota.

Dalam konteks Malang, kawasan wisata, pusat kota, dan lingkungan kampus menjadi ruang aliran yang terus diperkuat. Infrastruktur diperbaiki, estetika kota dipercantik, dan berbagai kegiatan publik dipusatkan di sana. Sementara itu, banyak kawasan pinggiran hanya berfungsi sebagai ruang tempat tinggal yang keberadaannya nyaris tidak masuk dalam imajinasi pembangunan.

Akibatnya, kota berkembang secara tidak seimbang. Itulah sebabnya perhatian publik mengalir ke pusat, sementara kebutuhan dasar di pinggiran kota sering kali tertinggal, bahkan nyaris terlupakan. Pusat kota menjadi wajah yang dipoles, sedangkan area pinggiran menjadi bagian tubuh yang tidak pernah diperlihatkan.

Di sinilah kritik Pierre Bourdieu melesat mengenai sasarannya. Menurutnya, dominasi tidak selalu bekerja melalui kekerasan fisik atau tekanan ekonomi. Dominasi juga bekerja melalui apa yang disebut sebagai symbolic violence atau kekerasan simbolik.

Kekerasan simbolik yang dimaksud terjadi ketika suatu cara pandang diterima begitu saja sebagai sesuatu yang wajar. Hari ini, banyak orang menganggap Malang identik dengan kawasan-kawasan yang fotogenik dan bernilai komersial.

Ketika seseorang mengunggah foto tentang Malang, hampir tidak pernah yang ditampilkan adalah kampung pinggiran yang bergulat dengan persoalan sehari-hari. Yang sering muncul adalah ruang-ruang yang indah dan layak dikonsumsi secara visual.

Akibatnya, sebagian wilayah kota secara perlahan menghilang dari kesadaran kolektif masyarakat. Pinggiran tidak hanya tertinggal dalam pembangunan, tetapi juga tertinggal dalam representasi sosial. Mereka tidak hadir dalam brosur wisata, tidak menjadi latar promosi kota, dan jarang menjadi simbol kemajuan.

Dalam bahasa Bourdieu, mereka mengalami kekerasan simbolik karena keberadaannya tidak dianggap penting untuk ditampilkan.

Yang menarik, proses ini sering terjadi tanpa disadari. Masyarakat menerima begitu saja bahwa pusat kota memang harus lebih cantik daripada wilayah pinggiran.

Baca juga: DPRD Kota Malang Soroti Rendahnya Serapan APBD 2026

Kita menganggap wajar jika investasi lebih banyak mengalir ke ruang-ruang yang terlihat. Padahal, di balik kewajaran itu, tersembunyi persoalan yang lebih mendasar: ketimpangan ruang.

Di sinilah pemikiran David Harvey tentang right to the city menjadi penting. Harvey berargumen bahwa kota seharusnya tidak hanya menjadi milik investor, wisatawan, atau kelompok yang memiliki akses terhadap pusat-pusat ekonomi. Kota harus menjadi milik seluruh warga yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan tidak dapat hanya dilihat dari seberapa indah wajah kota. Ukurannya harus dilihat dari sejauh mana seluruh warga memperoleh akses yang setara terhadap kualitas hidup yang layak.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi mendasar: siapa yang menikmati pembangunan Kota Malang? Apakah kemajuan kota dirasakan secara merata oleh warga yang tinggal jauh dari pusat perhatian?

Apakah warga pinggiran memiliki akses yang sama terhadap infrastruktur, ruang publik, dan pelayanan dasar? Ataukah mereka hanya menjadi penonton dari pembangunan yang berlangsung di tempat lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sangat penting karena kota pada hakikatnya bukan kumpulan bangunan, taman, atau kawasan wisata. Kota adalah ruang kehidupan bersama, maka ia seharusnya dibangun berdasarkan prinsip keadilan, bukan semata-mata estetika.

Sayangnya, logika pembangunan modern sering terjebak pada politik citra. Kota berlomba menampilkan wajah terbaiknya kepada wisatawan, investor, dan media sosial. Akibatnya, pembangunan lebih sibuk menciptakan ruang yang menarik untuk dilihat daripada ruang yang layak untuk ditinggali.

Dalam keadaan seperti itu, ketimpangan tidak lagi muncul sebagai masalah ekonomi saja. Tapi, ia berubah menjadi ketimpangan pengakuan. Sebagian wilayah kota diakui, dipromosikan, dan dirayakan. Sebagian lainnya hanya hadir ketika terjadi masalah.

Maka, PR terbesar sektor pembangunan Malang bukan soal jalan yang rusak atau drainase yang kurang baik. Masalah terbesarnya justru terletak pada anggapan bahwa sebagian ruang kota dianggap memang layak untuk diperlihatkan, sementara sebagian lainnya harus ditutupi.

Dan ketika sebuah kota mulai lebih sibuk membangun citranya daripada memperjuangkan keadilan bagi seluruh ruang hidup warganya, saat itulah pembangunan kehilangan makna politiknya yang paling mendasar, yaitu menghadirkan kesetaraan dalam kehidupan bersama, yang tak lain merupakan intisari dari Pancasila sila ke-5: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

editor: jatmiko

Tags: Keadilan Sosialketimpangan ruangkota malangopinipembangunan kota

Related Posts

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Catatan

Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU

Jumat, 14 Agu 2026
Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita
Catatan

Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita

Senin, 10 Agu 2026
21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang
Catatan

21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang

Sabtu, 8 Agu 2026
Kyai Fuad Mun'im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati Yang Menghadirkan
Catatan

Kyai Fuad Mun’im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati yang Menghadirkan

Jumat, 7 Agu 2026
Next Post
Wamensos Ajak Karang Taruna Banten Perkuat Pengentasan Kemiskinan

Wamensos Ajak Karang Taruna Banten Perkuat Pengentasan Kemiskinan

BERITA POPULER

  • Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.