Sabtu, Juli 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Berita

Fenomena Flexing, Gaya Hidup Bohongan hingga Modus Penipuan

Redaksi by Redaksi
Februari 6, 2022 5:33 pm
in Berita
Prof Rhenald Kasali dalam videonya saat menjelaskan tentang flexing. Foto: tangkapan layar

Prof Rhenald Kasali dalam videonya saat menjelaskan tentang flexing. Foto: tangkapan layar

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Flexing kini menjadi fenomena di dunia maya. Kata tersebut berarti memamerkan kekayaan. Namun bukan berarti orang yang melakukan flexing pasti orang kaya.

Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali menyampaikan dalam unggahan di kanal YouTube-nya, flexing justru dilakukan oleh orang yang ingin diakui kaya padahal mereka tidak benar-benar kaya.

READ ALSO

Sering Bikin Salah Belok, 5 Jalan Penghubung di Malang Ini Tidak Bisa Dilalui Mobil

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Ia menyebutkan tentang poverty screams, wealth whisper atau kemiskinan berteriak, kekayaan berbisik. “Orang yang benar-benar kaya justru malu membicarakan kekayaannya,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan sisi gelap dari fenomena flexing di media sosial tersebut.

Flexing sebagai gaya hidup bohongan

Apa yang ada di media sosial belum tentu kenyataan. Banyak orang berpose dengan menenteng tas dan ponsel mahal lalu menyebut diri mereka sendiri sebagai sultan atau crazy rich. Tak jarang pula yang memamerkan saldo rekening atau tumpukan uang bernilai ratusan juta.

Padahal, apa yang ditunjukkan belum tentu milik mereka. Saat ini ada banyak rental yang menyewakan barang-barang mewah. Siapapun bisa memiliki barang senilai puluhan hingga ratusan juta selama 24 jam dengan harga yang relatif terjangkau.

Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di berbagai belahan dunia.

Di Tiongkok misalnya, seorang blogger bernama Lizhonger menguak kelompok sosialita palsu di Shanghai. Hal ini diungkap di kanal YouTube China Observer dengan judul “Fake Rich of China: The Secret Lives and Lies of Shanghai Socialites”.

Lizhonger melakukan observasi undercover di sebuah kelompok sosialita selama satu setengah bulan.

Untuk bergabung, ia diminta membayar biaya pendaftaran sebesar $75 dan bukti kepemilikan aset senilai $14.891. Tentunya ini nilai yang sangat murah untuk sekelas sosialita.

Kelompok tersebut rupanya bukan berisi sosialita yang banyak membahas tentang produk-produk mewah, melainkan sekelompok perempuan yang berdiskusi mengenai cara-cara agar terlihat kaya.

Para anggotanya patungan untuk menyewa barang mewah dan mereka berfoto dengan barang tersebut secara bergantian. Di media sosial, ini memberi kesan seakan-akan mereka memiliki banyak barang mewah, padahal barang-barang tersebut hanyalah sewaan.

Persewaan iPhone yang digandrungi oleh orang-orang yang ingin terlihat kaya di media sosial. Foto: tangkapan layar

Mereka bahkan menyewa kamar di Hotel Bvlgari yang mewah dan biayanya dibayar secara patungan oleh 40 orang. Setiap orang mendapat giliran untuk berfoto di kamar tersebut. Saat diunggah ke media sosial, mereka seolah-olah menyewa kamar itu seorang diri.

Sementara itu di Korea Selatan, seorang YouTuber bernama Song Jia mendapat kritikan tajam dari masyarakat lantaran mengenakan pakaian-pakaian dengan logo palsu.

Song Jia dikenal sebagai salah satu anggota Single’s Inferno, acara Netflix yang populer. Dalam acara tersebut, ia kerap mengenakan pakaian dengan logo rumah desainer mewah. Ia juga menunjukkan koleksi pakaian dan tasnya di Instagram dan YouTube. Sejak itu ia dikenal sebagai seorang perempuan muda yang kaya dan sukses.

Tak lama setelah namanya naik daun, terungkap bahwa sebagian tas dan pakaian yang ia kenakan merupakan produk palsu.

Kejadian ini ramai diperbincangkan hingga media Dispatch merilis daftar mana produk palsu dan mana produk asli yang dimiliki Song Jia.

Laporan media Dispatch terkait produk-produk palsu yang dikenakan Song Jia. Foto: Instagram koreadispatch

Selain itu, banyak influencer dari berbagai negara yang tertangkap basah melakukan kebohongan agar dianggap kaya.

Flexing sebagai alat marketing

Rhenald juga menunjukkan bahwa flexing bisa menjadi alat marketing. Apa yang mereka lakukan merupakan market signalling.

Dilansir dari jurnal penelitian karya Paul Herbig dan John Milewicz yang berjudul “Market Signalling: A Review”, market signalling merupakan aktivitas mengirimkan sinyal marketing. Market signalling bisa berupa pemberian diskon, pembukaan kantor atau pabrik baru, serta melakukan kampanye marketing yang baru. Saat ini, flexing juga bisa menjadi salah satu bentuk market signalling.

“Flexing bisa menarik orang karena mereka ingin bisa menjadi seperti orang-orang yang melakukan flexing ini,” jelas Rhenald.

Tentunya ada orang-orang yang murni berbisnis dengan menggunakan flexing sebagai alat marketing mereka. Namun tak sedikit yang menggunakan flexing sebagai modus penipuan.

Flexing sebagai modus penipuan

Customer yang tidak jeli dan dibutakan oleh keinginan untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu singkat bisa menjadi korban penipuan dari orang-orang yang melakukan flexing.

Rhenald memberi contoh kasus First Travel yang terjadi pada tahun 2017 silam. Saat itu pemilik First Travel terbukti melakukan penipuan terhadap jemaah haji dan umroh. Mereka menjanjikan perjalanan ibadah ke tanah suci dengan harga yang sangat murah. Banyak customer yang termakan janji tersebut tanpa mencari banyak informasi terlebih dahulu.

Kepercayaan tersebut rupanya didapat melalui flexing. Kesuksesan yang ditampilkan oleh pendiri First Travel, Andika Surachman dan Aniesa Hasibuan membuat customer percaya bahwa agen perjalanan ini bukan abal-abal. Dari situ, customer tidak menaruh curiga dan berani menitipkan uang mereka pada First Travel.

Rumah pasangan Andika dan Anisa, pemilik First Travel yang terbukti melakukan penipuan. Foto: tangkapan layar

Rhenald kemudian melanjutkan bahwa ada ciri-ciri flexing yang dilakukan oleh orang yang tidak bisa dipercaya, yaitu:

1. Omongannya selalu tentang harta, uang, mudah, dan gampang.
2. Mereka akan menggunakan cara-cara yang membuat anda percaya. Terkadang menggunakan agama.
3. Tidak mempunyai empati. Mereka memamerkan kekayaan di saat orang lain kehilangan pekerjaan karena pandemi COVID-19.
4. Mereka bermuka dua. Di depan mulutnya manis. Namun jika sudah ada yang tertipu, mereka akan berbalik menyalahkan korban.
5. Mereka memiliki penampilan yang sangat menawan.
6. Mereka menunjukkan bawaan yang narsistik.

Setelah menjelaskan fenomena flexing yang saat digandrungi oleh pengguna media sosial, Rhenald meminta penonton agar tidak mudah meniru apa yang sedang trending. “Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang flexing ini, don’t do it!” tegasnya.

Ia kemudian mengingatkan penonton agar terus mencari informasi dan tidak mudah terbuai untuk mendapatkan uang dengan cepat dan mudah karena tidak ada yang mudah di dunia ini.

Reporter: Aisyah Nawangsari

Editor: Lizya Kristanti

Tags: fenomena flexingflexinggaya hidup

Related Posts

Jembatan Bunul, Salah Satu Jalan Alternatif di Kota Malang Khusus Pejalan Kaki dan Kendaraan Roda Dua (Foto: Google Maps)
Berita

Sering Bikin Salah Belok, 5 Jalan Penghubung di Malang Ini Tidak Bisa Dilalui Mobil

Selasa, 2 Jun 2026
Ilustrasi Orang Menonton Video Pendek di Sosial Media (Foto: Pinterest)
Berita

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 8 Mei 2026
Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Wikipedia
Berita

Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

Selasa, 28 Apr 2026
Kubah Masjid At-Taqwa di Karangploso jatuh akibat terpaan angin kencang. Foto: BPBD Kabupaten Malang
Berita

Angin Kencang di Karangploso Rusak 10 Bangunan, Kerugian Total Rp119,5 Juta

Selasa, 7 Okt 2025
Yai Mim membeberkan rencana pindah rumah (M Sholeh)
Berita

Usai Jalani Pemeriksaan Polisi, Yai Mim Ungkap Rencana Pindah Rumah

Selasa, 7 Okt 2025
Kursi kursi yang dipersiapkan untuk audiens acara dakwah Dr Zakir Naik di Starion Gajayana, Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Berita

Panitia Siapkan 10 Ribu Kursi untuk Acara Dakwah Dr Zakir Naik di Stadion Gajayana Malang

Kamis, 10 Jul 2025
Next Post
DPC PDIP Kota Malang Targetkan 15 Kursi di Pileg 2024

DPC PDIP Kota Malang Targetkan 15 Kursi di Pileg 2024

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.