Rabu, September 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Ironi Narasi Negatif Program MBG

Redaksi by Redaksi
April 8, 2026 1:33 pm
in Catatan
Ilustrasi MBG. Foto/AI
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Agnes Dewiyanti Amu

Tugumalang.id – Media adalah sinetron; sekadar layar lebar yang tayang dengan prediksi audiens telah diperkirakan. Pemberitaan sudah menjadi alat dalam mempresentasikan skenario yang dirancang penulis demi memenangkan egosentrisme. Oleh karena itu, menjadikan berita sebagai fakta otentik hanya menimbulkan bias dari berita itu sendiri.

READ ALSO

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Opini publik saat ini dijadikan bahan bakar untuk menggoreng fakta yang kebenarannya masih menguap atau tahap berjalan. Contohnya, berita yang menyoroti kasus kebohogan Ratna Sarumpaet yakni penyebaran berita bohong dirinya mengalami penganiayaan, sepanjang proses penyelidikan tersebut netizen sibuk memberi dukungan dan afirmasi positif padahal kasus belum menyentuh hilir.

Baca Juga: MBG Bukan Solusi bagi Masalah Pendidikan

Hal itu terjadi akibat narasi penindasan yang sengaja dibuat untuk memantik amarah simpatisan. Padahal realitasnya media hanya sedang mempertontonkan lakon buatan untuk menempatkan emosi penonton didepan logika. Bagai menelan pil obat tanpa dikunyah, menimbulkan efek simultan.

Makan Bergizi Gratis (MBG) di Mata Media

Makan Bergizi Gratis (MBG) dipenuhi headline berita megecewakan dan buruk. Saya sudah mencoba menelusuri internet dan menemukan sekitar kurang lebih 23.900 artikel berita negatif sejak 2025-2026 yang didominasi oleh berita kasus keracunan.

Adapun, 2.700 unit dapur menjadi sorotan dalam pemberitaan buruk padahal terdapat 24.368 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhian Gizi (SPPG) yang tersebar diberbagai daerah.

Artinya, hanya sekitar 11.08% Disfungsi dari program MBG ini yang terus dimuat dalam berbagai artikel berulang hingga berubah menjadi momok menakutkan dimasyarakat.

Fokus hanya pada sisi ‘bermasalah’ dan mengabaikan 88,2% unit yang produktif bukanlah sebuah kritik, melainkan upaya cherry-picking untuk menciptakan narasi kegagalan semu.

Pada akun sosial media pribadi di X, Tiktok, Instagram di mana data Drone Emprit menunjukkan adanya 2.800-3.300 mention positif per hari selama periode stabil, atau per 70 hari diestimasikan ada 196.000-231.000 postingan/mention positif yang berasal dari akun pribadi masyarakat.

Baca Juga: Lagi, Menu MBG Berisi Pisang Busuk di Kota Malang

Bahkan angka ini jauh lebih besar dibanding unit SPPG yang mengalami disorder. Artinya. sebagai audiens tayangan kita telah di untuk menelan fakta yang direka secara fantastis demi menarik kecaman dan sifat apatis terhadap kinerja pemerintah.

Pada akun pribadi milik @2fast2farious di tiktok yang mem-posting menu MBG yang ia terima dengan total 24 slide foto menu makanan bergizi mendapat rating yang baik. Kemudian akun @icannnn di media sosial tiktok yang hanya menampilkan video diirinya menikmati MBG dengan caption “Untung ada MBG”, menuai komentar positif dengan opini serupa.

@Yugata_Sora: Berkat MBG gw bisa nabung 10-15 ribu sehari karena gk jajan dan akhirnya bisa beli hp impian; @classy’bezzy: MBG itu program yg ga bisa kita lihat hasilnya sekarang, tapi orang Indonesia rata-rata butuh hasil yang instan; @japoyy: BB aku naik 3 kg gara-gara mbg, benerr-benerr senenggg mana menunya enakk enakkk. @Lunatic: Aku juga survei evaluasi mbg, ternyata banyak anak yang kebantu.

MBG Menghabiskan Banyak Dana

Apakah ketika MBG ditiadakan lapangan kerja meningkat?. MBG menghabiskan banyak dana, menjadi kecaman yang dilontarkan atas dasar program ini telah menghabiskan Rp335 triliun dana APBN (Anggaran Pendapatan Negara).

Eksistensi MBG adalah menekan angka stunting yang diperkirakan mencapai 2%-3% PDB (Produk Domestik Bruto) pertahun karena rendahnya produktivitas pekerja di masa depan.

Jika kita berusaha melihat MBG dari perspektif Human Capital Inverstment maka sebenarnya tidak ada dana yang mubadzir sebab skema ini hanyalah mengubah alur pengeluaran menjadi lebih praktis dan tepat guna.

Selanjutnya jikapun dana MBG yang terbilang besar itu ditiadakan apakah dana itu akan tetap ada? Menarik sekali jika kita menillik historis program subsidi BBM yang berlangsung selama 10 tahun dan membakar ribuah triliun rupiah dengan imbas 70-8% kecurangan subsidi.

Program ini pada akhirnya hanya berujung pada uap dan polusi tanpa berhasil menyentuh elemen masyarakat terkecil. Saya tidak mengatakan MBG jauh lebih baik, tetapi setidaknya program ini berhasil menyentuh masyarakat terpencil, dimana pengalihan subsidi menjadi lebih transparan dalam dapur gizi yang dinikmati tanpa memandang kasta kaya dan miskin.

Menghidupkan program yang bersih dan minim korupsi, saya mengatakan minim sebab oknum licik yang bersembunyi dalam jas profesi adalah faktor eksternal (diluar kendali), yang mampu dilakukan adalah mempersempit ruang korupsi.

Program MBG terlalu sederhana, terlalu terbuka, dan masyarakat terlalu mudah untuk mencium bau kecurangan dalam piring makan anak. Misalnya anggaran mereka harusnya daging tapi yang disajikan adalah tahu, maka semua pun akan mengerti ada kejahatan di dapur ini.

Membuka lapangan kerja kesehatan massal

Menempuh pendidikan di bidang kesehatan sering terdengar bercanda, sebab dalam mencapai 1 gelar saja kita sudah pontang-panting dengan anggaran kurikulum yang bukan main!

Lantas, setelah lulus pun mereka masih harus menempuh praktek lain sebagai validasi dirinya untuk berprofesi, namun apakah setelah pengabdian itu mereka sudah mendapatkan hak setimpal?

MBG menjadi gerbang tanpa gembok yang merangkul secara massal para tenaga kesehatan yang kompeten tapi masih belum beruntung mencari karir dan bergantung pada kesempatan kecil.

Mereka yang belum memiliki kesempatan untuk melanjutkan S2 kini diberi wadah untuk mengabdi, mengaplikasikan keahlian dalam pekerjaan yang bisa dibayar secara professional oleh negara.

MBG menjadi harapan untuk pengangguran intelektual, sebab dapur MBG tidak sekadar mencari juru masak tetapi ahli gizi yang mampu menakar akal dalam setiap suapan anak-anak.

Kita memiliki ribuan sarjana kesehatan terkhusus gizi yang akan berperan penting sebagai Quality of Control untuk mengolah sumber pangan dari petani menjadi satu misi penentasan stunting yang tertangani.

Bukan MBG yang Salah!

Setelah membedah framing MBG di media sosial, menelaah anggaran program, hingga peluang lapangan kerja massal yang disediakan, mari kembali merenung mengapa program ini menjadi anak tiri.

Apakah karena ia ‘baru?’, apakah karena ia ‘berbeda?’, atau apakah karena ia ‘tidak sempurna’. Ketiga alasan ini benar, lantas perlu adanya catatan evaluasi demi mengoptimalkan kinerja program, diantaranya.

1. Menciptakan pelaporan real-time untuk menindaklanjuti kasus penyelewengan dapur MBG yang dapat dengan mudah diakses masyarakat, seperti contoh kasus di SMA Pamekasan yang menolak MBG berupa lele Mentah, kasus tersebut menjadi viral lantas bagaimana dengan kasus lainnya? Diperlukan platform pendukung untuk mengatasi kendala ini.

2. Perekrutan peran Ahli Gizi yang kompeten, hal ini menjadi krusial setelah Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut bahwa program MBG tidak perlu ahli gizi dan posisinya dapat diisi oleh lulusan SMA yang dilatih selama 3 bulan. Opini ini menjadi viral dan memicu kecaman. MBG haruslah berjalan secara professional, dan tidak menyepelekan tanggungjawab sebuah profesi.

3. Menindaklanjuti dengan sigap setiap disfungsi pada unit dapur, terutama pada masalah keracunan makanan yang sering menjadi “bahan bakar” utama media, harus ditangani dengan protocol darurat yang transparan dan mampu mematikan ruang spekulasi

Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis bukan tentang memenangkan opini di layar kaca, melainkan tentang memenangkan masa depan di dalam piring makan anak bangsa.

Setiap oknum hanyalah residu yang selalu mampu kita kikis dengan kompetensi dan integritas yang jujur. Sesungguhnya perubahan besar memang tidak pernah datang dengan cara instan.

Agnes Dewiyanti Amu. Foto/dok
Agnes Dewiyanti Amu. Foto/dok

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: mbgMedia SosialPrabowo

Related Posts

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Next Post
Salah satu game untuk belajar bahasa Inggris, Lingokids. (Foto: Pinterest)

7 Game Seru untuk Anak Belajar Bahasa Inggris 

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.