Haji Andik. Pulang begitu cepat. Usianya 54 tahun. Mengagetkan banyak orang.”Kemarin masih ke Masjid,” kata salah seorang tetangga.
Saya termasuk yang terkejut. Rabu (25/2/2026) jelang dini hari, saya masih duduk di balkon rumah, mendengarkan musik, merokok, dan menikmati kopi americano. Malam itu terasa tenang dan begitu nikmat.
Sekitar pukul 23.00 WIB, masjid di samping rumah menyiarkan kabar duka. Haji Andik wafat. Saya langsung membangunkan istri. Ia membenarkan bahwa Haji Andik, yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah kami, telah berpulang.
Kami satu RT, tetapi saya justru lebih mengingat senyumnya daripada nama lengkapnya. Senyum yang khas, supel, dan mudah menyapa.
Baca juga: Teman Lama dan Pentingnya Menekan Tombol Pause di Akhir Tahun
Kami sering bertemu saat shalat subuh di Masjid Darussalam, Sanan, Kota Malang, yang dekat dengan rumah kami berdua. Saat saya shalat subuh di masjid itu, hampir pasti bertemu Haji Andik.
Biasanya, saya dua kali salaman dengan Haji Andik. Pertama, saat selesai doa di masjid. Lalu, kita pulang keluar dari gang. Saat hendak tiba diujung jalan, Haji Andik biasanya bersalaman kembali. Sebagai tanda pamit dan mau sampai ke rumahnya.
Jabat Tangan yang Sederhana, Namun Penuh Makna
Salaman itu sederhana, tapi menunjukan hal luar biasa: bisa persahabatan, atau sebuah sikap, kita satu saudara karena sama-sama Muslim.
Dalam 3-4 hari terakhir, saya jarang bertemu Haji Andik. Karena saya shalat subuh di Mushola Al Dachlany, lalu setelah itu membaca Alquran di makam dekat mushola itu.
Rupanya, salaman terakhir dengan Haji Andik di ujung gang, sekitar 5 hari yang lalu itu, adalah salaman terakhir saya dengannya.
Rabu pagi (25/2/2026) haji Andik yang mempunyai riwayat kencing manis ngedrop. Dia dibawakan ke rumah sakit. Dan ternyata, dia wafat di hari itu juga. Di bulan yang indah. Ramadhan.”Dia sudah sekitar 9 tahun sakit kencing manis, tapi dia lawan dengan aktivitas biasa saja,” kata salah seorang tetangga.
“Dia lima waktu selalu jama’ah ke Masjid,” kata tetangga yang lain, mengenang Haji Andik yang kerjanya jualan keripik tempe.
Subuh Tanpa Sosok yang Biasanya Ada
Kamis (25/2/2026), setelah shalat subuh di Masjid Darussalam, sang imam mendoakan Haji Andik. Subuh yang biasanya ada Haji Andik, kali ini tak ada lagi. Dan kelak, satu persatu di antara kita juga tak akan lagi shalat subuh di tempat tersebut. Semua akan berpindah ke alam lain. Semuanya hanya soal waktu.
Baca juga: Puasa dan Ketahanan Mental
Dari Haji Andik kita belajar. Bahwa, untuk bisa dikenang dan membekas di hati orang, bisa dilakukan dengan hal sederhana: senyum dan salaman yang ikhlas.
Juga aktivitas dia yang selalu berjama’ah di Masjid, kita bisa belajar bahwa mendahulukan Allah SWT bukan sekedar jargon. Tapi, tindakan nyata. Tinggalkan semua aktivitas ketika waktu shalat tiba. Lalu, ke Masjid, untuk shalat berjama’ah.
Selamat tinggal, Haji Andik. Jabatan tangan habis subuh itu, membekas di hati saya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Irham Thoriq
redaktur: jatmiko





























