Malang, Tugumalang.id – Badai likuidasi melanda pasar kripto global pada Jumat (6/2/2026) setelah Bitcoin gagal mempertahankan level psikologis di USD 70.000. Penurunan tajam ini memicu kepanikan luas dan menyebabkan kerugian triliunan rupiah akibat gelombang likuidasi posisi leverage para trader.
Sempat bertahan di atas USD 73.000 pada awal pekan, harga Bitcoin kemudian terjun cepat ke kisaran USD 62.000 hingga USD 65.000. Level ini menjadi titik terendah sejak November 2024. Jebolnya area USD 70.000 dinilai sebagai sinyal bearish kuat yang mendorong algoritma perdagangan melakukan aksi jual otomatis.
Data perdagangan global juga menunjukkan Bitcoin bergerak di rentang USD 69.000 hingga USD 69.800 sebelum kembali melemah. Secara akumulatif, harga Bitcoin tercatat turun lebih dari 20 persen sejak awal 2026 dan berada di level USD 63.010 per 6 Februari 2026.
Menurut laporan Reuters, tekanan jual meningkat seiring investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Pasar sedang berada dalam fase risk-off yang cukup ekstrem. Bitcoin kembali diperlakukan seperti aset berisiko tinggi, bukan sebagai lindung nilai,” ujar seorang analis pasar kripto.
Baca juga: Rekomendasi 5 Aset Kripto AI, Pilihan Investasi Terbaik untuk Pemula
Sentimen negatif ini turut diperkuat oleh pelemahan pasar saham global, terutama sektor teknologi di Wall Street, yang selama ini memiliki korelasi kuat dengan pergerakan aset kripto.
Pasar Kripto Tertekan Usai Bitcoin Jebol USD 70.000
Tekanan pada Bitcoin tidak datang dari satu faktor tunggal. Laporan dari CoinDesk menyebutkan lonjakan likuidasi posisi leverage di pasar derivatif kripto memicu efek domino yang mempercepat penurunan harga.
Saat level USD 70.000 ditembus, ribuan posisi long terpaksa ditutup otomatis. Kondisi tersebut mendorong volume jual dalam waktu singkat dan membuat volatilitas Bitcoin melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Data dari Coinglass mencatat lebih dari USD 2 miliar atau sekitar Rp31,8 triliun posisi perdagangan telah dilikuidasi sepanjang pekan ini. Mayoritas berasal dari posisi long yang ditutup paksa oleh bursa saat harga anjlok tajam.
Ketidakpastian Global dan Sentimen Investor
Selain faktor teknikal, pasar kripto juga dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Sikap bank sentral AS yang dinilai cenderung hawkish, ditambah spekulasi arah suku bunga ke depan, mendorong investor menarik dana dari aset berisiko.
Nama Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve pengganti Jerome Powell turut menjadi perhatian. Sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat memicu kekhawatiran pengurangan likuiditas global, yang berpotensi menekan aset berisiko seperti kripto.
Tekanan juga datang dari pelemahan sektor teknologi di bursa AS, terutama terkait kekhawatiran melambatnya investasi kecerdasan buatan. Aset digital yang selama ini bergerak searah dengan saham teknologi ikut terseret turun.
Produk Spot Bitcoin ETF pun mencatat arus keluar modal yang signifikan dari investor institusi. Kondisi ini menandakan pergeseran minat ke aset yang dinilai lebih aman, seperti emas.
Baca juga: Bahas Kripto Ketua Dewan Komisioner OJK Sebut Perbankan Tak Boleh Dagang Komoditi
James Butterfill, Head of Research di CoinShares, menyebut USD 70.000 sebagai gerbang psikologis penting.
“Ketika level ini gagal dipertahankan, pasar secara alami akan mencari lantai baru di kisaran USD 60.000 hingga USD 65.000. Saat ini terlihat adanya pergeseran kepercayaan, di mana investor mulai mempertanyakan kembali narasi emas digital di tengah ketidakpastian makro,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian investor jangka panjang melihat koreksi tajam ini sebagai peluang buy the dip, dengan harapan pasar segera mencapai titik jenuh jual dan kembali menemukan keseimbangan baru.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























