Tugumalang.id – Pakar Pariwisata A. Faidlal Rahman mengungkap sejumlah faktor yang membuat tingkat kunjungan wisata ke Kota Batu, Jawa Timur kian menurun dari tahun ke tahun.
Berbagai masalah di level akar rumput mulai kerap terjadi getok parkir, harga makanan, sayur dan buah yang mahal hingga maraknya villa bodong membuat wisatawan mulai berpaling satu per satu.
Permasalahan ‘trust issues’ atau kepercayaan ini diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pria yang akrab disapa Faid itu mengungkap faktor ‘trust issues’ itu didapat dari berbagai ulasan negatif di media sosial.
Baca Juga: Kado Ulang Tahun Megawati, PDI Perjuangan Kota Malang Rawat Lingkungan dengan Tanam Pohon
Contoh pengalaman seperti menjadi korban getok parkir, kata dia, dinilai cepat membentuk persepsi risiko yang harus diwaspadai wisatawan sebelum berkunjung.
“Di era digital seperti hari ini, pengalaman buruk yang dialami satu dua orang bisa menyebar luas dan langsung memengaruhi keputusan berkunjung wisatawan. Kalau ke jogja, kita masih harus waspada dengan isu ‘klitih’ misalnya,” ungkapnya, Jumat (23/1/2026).
Isu kepercayaan ini jika kemudian terus berlanjut kata dia juga berpengaruh terhadap masa tinggal (length of stay) wisatawan. Fakta ini juga pernah diungkap dari data Polres Batu di mana wisatawan memilih ke Kota Batu untuk itinerary singkat.
Meski begitu, fenomena itu bukan soal salah benar pemerintah daerah sepenuhnya, namun juga menjadi bagian dari dinamika pariwisata secara global yang juga dipengaruhi situasi ekomomi. Hari ini, situasi ekonomi global yang tidak stabil turut mendorong perubahan pola berwisata.
Baca Juga: Dishub Kabupaten Malang Siagakan Relawan di 19 Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang
”Wisatawan sekarang jauh lebih rasional. Mereka sensitif terhadap biaya, cenderung mempersingkat durasi perjalanan dan memilih perjalanan singkat atau wisata persinggahan saja,” beber Faid.
”Ini bahkan sudah terjadi di Kota Batu yang masih terlihat ramai, tapi terjadi penurunan okupansi hotel,” imbuhnya.
Selain faktor ekonomi, kepadatan dan kemacetan saat musim liburan juga memunculkan kejenuhan destinasi. Wisatawan akhirnya membatasi waktu kunjungan agar tidak terjebak macet terlalu lama. ”Sebenarnya, persoalannya bukan sekadar jumlah wisatawan yang turun, tetapi kualitas kunjungan dan kontribusi ekonominya,” tegasnya.
Sebab itu, ia menilai penurunan kunjungan wisata ke Kota Batu pada 2025 seharusnya menjadi alarm pengingat bagi seluruh pihak untuk memulai sebuah transformasi strategi pariwisata. Sudah waktunya Kota Batu bergeser dari orientasi kuantitas menuju kualitas.
“Fokusnya bukan hanya menarik orang datang, tapi menciptakan alasan kuat agar mereka mau tinggal lebih lama. Pola wisata tek-tok itu faktanya memang tidak membuat manfaat ekonomi menyebar secara optimal,” jelasnya.
Sementara, soal persepsi wisata mahal, Faid menilai hal itu masih terbilang relatif. Persepsi mahal muncul karena wisata yang paling terekspos adalah wisata buatan dan wisata keluarga yang biayanya terakumulasi dari harga tiket, parkir, konsumsi dan penginapan.
Namun, ketika akumulasi biaya wisata itu diperparah dengan isu getok parkir hingga akomodasi bermasalah, maka perspektif yang akan muncul dari wisatawan adalah mahal. ”Pengeluaran yang saya keluarkan tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat. Jadi ini bukan hanya soal hargal tapi money values,” kata dia.
Menurutnya soal biaya wisata ke Kota Batu, Faid berpendapat masih relatif terjangkau. Hanya saja masih memerlukan penataan harga, transparansi biaya, serta diferensiasi produk wisata agar persepsi ‘wisata mahal’ tidak terus menguat.
“Penurunan ini seharusnya menjadi momentum perubahan. Tantangannya bukan lagi menarik orang datang, tapi membuat wisatawan betah tinggal,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























