Malang, Tugumalang.id-Berawal dari ide sederhana, warga RT 06 RW 05 Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, berhasil mengubah limbah botol dan galon bekas menjadi ladang hijau bernilai ekonomis. Melalui kelompok tani Kebun Botol Malang, para ibu rumah tangga ini tak hanya menanam sayur dan buah, tapi juga menumbuhkan kepedulian lingkungan hingga mampu menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Awal Mula Lahirnya Kebun Botol

Kebun Botol Malang bermula dari inisiatif para ibu PKK di RT 06 RW 05 yang ingin bertanam tanpa perlu menyiram tanaman setiap hari. Ide tersebut lahir karena sebagian besar dari mereka memiliki kesibukan di luar rumah, baik sebagai guru, tenaga kesehatan, maupun ibu rumah tangga.
Rochmawati SS MPd, salah satu pengawas sekaligus pengurus Kebun Botol, menuturkan bahwa kebun ini lahir dari semangat ibu-ibu untuk tetap produktif tanpa meninggalkan tanggung jawab rumah tangga.
Baca juga: Ingin Membuat Kebun Minimalis di Rumah, Perhatikan 6 Hal Ini
“Kebun Botol Malang ini wujud keinginan para ibu PKK yang ingin bertanam tanpa menghabiskan waktu banyak setiap hari. Tidak hanya mempercantik lingkungan, tapi juga kegiatan produktif yang berdampak ekonomi dan mengedukasi warga sekitar,” ujar Rochma saat ditemui Minggu siang (5/10/2025).
Baca juga: Kebun Botol Tlogomas Kota Malang, Inovasi Berkebun dari Seribu Botol Bekas Berdayakan Warga
Awalnya mereka menanam tanaman yang tidak memerlukan perawatan intensif seperti lidah mertua, kaktus, lidah buaya, bougenville, hingga palem ponytail. Gagasan itu kemudian dikembangkan menjadi sistem tanam dengan media botol bekas, sehingga efisien dan ramah lingkungan.
Eksperimen Botol Bekas dan Lahirnya Media Tanam Unik

Proses awalnya berkat eksperimen Didik Mashudi, suami dari salah satu anggota PKK, Usah Sundari. Lulusan Teknologi Pangan UMM ini bereksperimen selama delapan bulan dengan menanam bawang merah hingga stroberi menggunakan botol bekas.
“Awalnya eksperimen menanam tanaman selama 8 bulan menggunakan botol kecil bekas, belum memakai galon. Hasilnya berhasil dan kemudian diterapkan di kebun dengan media galon,” jelas Rochma.
Kini, kebun yang berada di lahan sekitar 2.000 meter persegi di belakang Apartemen Begawan itu telah menggunakan lebih dari 1.000 media tanam dari botol dan galon bekas. Awalnya, galon bekas dibeli seharga Rp3.000 per buah. Namun seiring waktu, penghuni apartemen sekitar mulai menyumbangkan galon bekas secara sukarela.
“Alhamdulillah, banyak warga Apartemen Begawan memberikan galon bekasnya secara gratis. Dari situ, kami makin semangat,” tambahnya.
Hasil Panen dan Dampak Ekonomi

Beragam tanaman tumbuh subur di Kebun Botol, mulai dari tomat, cabai, kangkung, sawi, timun, hingga kacang tanah. Dulu mereka sempat menanam brokoli, terong, melon, blewah, dan stroberi. Hasil panen sebagian dijual untuk operasional, dan sebagian lagi dibagikan kepada sekitar 40 anggota aktif.
“Setiap anggota boleh mengambil hasil panen meski tidak semuanya gratis. Sisanya dijual untuk operasional. Bahkan saya sendiri kadang ikut beli juga,” ujar Rochma sambil tersenyum.
Harga hasil panen dijual dengan harga lebih murah kepada masyarakat sekitar atau ke tempat kerja anggota. Kadang, hasilnya diborong langsung oleh perangkat kelurahan.
Kolaborasi dengan UIN Malang dan Dispangtan

Kebun Botol Malang yang berdiri sejak 2022 mendapat dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Malang. Rochma, yang juga dosen UIN, mengajukan proposal pengembangan kebun dengan pendekatan green psychology — konsep yang mempelajari hubungan manusia dan alam untuk kesejahteraan psikologis.
“Proposal kami lolos dan mendapatkan bantuan green house. Konsepnya bukan sekadar pertanian, tapi juga edukasi lingkungan dan kesehatan mental,” jelasnya.
Selain itu, Dispangtan Kota Malang juga memberikan bantuan berupa polybag, media tanam, dan bibit unggul cabai. Kebun ini kini telah terdaftar dan tersertifikasi resmi di Dispangtan Kota Malang.
“Kami ingin legalitasnya jelas agar tidak dianggap abal-abal. Sekarang sudah resmi terdaftar di Dispangtan,” ujar Rochma.
Kebun Botol juga sering menjadi tempat kunjungan mahasiswa PKL dan magang dari berbagai kampus di Malang seperti UIN, Unitri, dan UMM.
Harapan Jadi Pertanian Modern dan Tantangan CSR
Meski terus berkembang, pengurus Kebun Botol berharap ada dukungan CSR dari perusahaan agar dapat menjadi pertanian modern.
“Kami ingin dapat CSR dari Le Mineral karena galonnya yang kami pakai, tapi belum ada respons. Harapan kami ada perusahaan lain yang mau bantu,” ujarnya.
Rochma mengaku kebun masih terkendala alat pertanian, pompa air, hingga penerangan saat malam. Semua pekerjaan masih dilakukan manual oleh para ibu-ibu.
Tantangan Infrastruktur dan SDM

Benny Riyanto, sekretaris kelompok tani sekaligus pemilik lahan, menambahkan bahwa lahan awalnya merupakan tanah kosong yang tidak terpakai.
“Awalnya ingin menghilangkan kesan angker karena lahan ini ditumbuhi semak liar. Sekarang jadi tempat produktif,” ujar lulusan D3 Manajemen Informatika UB ini.
Namun, Benny mengaku kebun masih terkendala infrastruktur seperti tempat pembibitan, instalasi irigasi, gudang alat, dan sanitasi.
“Operasional masih mengandalkan swadaya anggota. Kadang malah minus kalau musim tanam,” jelasnya.
Ia berharap Kebun Botol bisa menjadi pusat edukasi pertanian, role model masyarakat, dan komunitas mandiri secara finansial.
Aksi TBIG Olah Limbah Plastik selama 10 Dekade lewat Program CSR
Selain kelompok tani Kebun Botol Malang, kepedulian dan komitmen menjaga lingkungan juga ditunjukkan dari kalangan perusahaan. Salah satunya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui program corporate social responsibility (CSR)-nya selama 10 dekade.
Untuk diketahui, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) adalah perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan ini bergerak untuk menyewakan menara telekomunikasi, penyediaan sistem sinyal nirkabel seperti distributed antenna system (DAS), dan lain-lainnya.
Terbaru, program CSR TBIG diganjar penghargaan CSR Awards 2025 dari Investortrust.id di Ballroom The Sultan Hotel, Jakarta, Selasa (30/09/2025) karena komitmennya peduli lingkungan. Penghargaan ini diraih berkat program unggulan bertajuk “Plastic Waste Circularity & Upcycling”.
Dengan meraih penghargaan, TBIG membuktikan komitmennya dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR-nya selama 10 dekade untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Program unggulan TBIG ini bukti nyata kontribusi dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui pengelolaan limbah plastik menjadi produk bernilai tinggi. Tidak hanya mengurangi sampah plastik, inisiatif ini juga mengedepankan inovasi dalam upcycling, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Chief of Business Support Officer PT Tower Bersama Infrastructure Tbk Lie Si An mengatakan, perusahaan melalui program “Plastic Waste Circularity & Upcycling” ingin mengurangi limbah plastik yang berdampak pada lingkungan. Selain itu, dia mengatakan, juga memberdayakan masyarakat sekitar perusahaan.
“Program Plastic Waste Circularity & Upcycling itu inisiatif strategis TBIG. Tujuannya untuk mengurangi limbah plastik yang berdampak pada lingkungan. Selain itu, juga mendorong terciptanya ekonomi sirkular,” ujar Si An.
Selain menjaga kelestarian alam, dia juga mengatakan, TBIG juga berupaya memberdayakan masyarakat sekitar perusahaan.
“Kami ingin agar setiap upaya keberlanjutan yang dilakukan tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga berpeluang memberdayakan masyarakat sekitar,” katanya.
Dia juga berharap gerakan melalui program CSR ini bisa menginspirasi perusahaan lain di berbagai daerah yang bisa bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
“Kami ingin gerakan ini bisa menginspirasi perusahaan lain. Karena program CSR ini berkaitan dengan manusia. Dan di situ pasti ada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasarinya. Intinya, semua kegiatan CSR kami terkait edukasi masyarakat. Mudah-mudahan perusahaan lainnya juga ikut tergerak melalui program CSR secara berkelanjutan,” tutupnya saat kick off Journalism Fellowship on CSR 2025 atau JFC 2025 Batch 2 yang digelar di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Jakarta.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Dwi Lindawati (tugujatim.id)
redaktur: jatmiko
























