BALI, Tugumalang.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada Rabu (10/9/2025). Fenomena Gelombang Rossby disebut sebagai pemicu utama hujan ekstrem yang menyebabkan banjir di Kota Denpasar dan beberapa daerah lain di Pulau Bali.
Menurut BMKG, aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali dan sekitarnya mendukung pertumbuhan awan konvektif dalam jumlah besar. Kondisi ini berujung pada curah hujan lebat yang terakumulasi dan memicu banjir.
Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, menegaskan bahwa fenomena ini diperparah dengan kelembapan udara yang sangat tinggi, mulai dari lapisan permukaan hingga ketinggian 500 milibar (mb).
Baca juga: Cegah Longsor hingga Banjir Bandang, BPBD Kota Batu Gercep Bersih Sungai di 144 Titik
BMKG memprediksi potensi cuaca ekstrem di Bali masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. Meski begitu, tren curah hujan diperkirakan menurun seiring peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Selalu perbarui informasi cuaca terkini dari BBMKG Denpasar,” kata BMKG.
Apa Itu Gelombang Rossby?
BMKG menjelaskan, Gelombang Rossby adalah gelombang atmosfer skala besar yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator. Gelombang ini berperan besar dalam menentukan pola iklim di wilayah tropis, termasuk Indonesia, karena dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.
Fenomena ini pertama kali diperkenalkan pada 1930-an oleh ilmuwan meteorologi Carl-Gustaf Rossby. Gelombang atmosfer ini muncul akibat rotasi bumi (efek Coriolis) dan perbedaan tekanan udara di atmosfer.
Baca juga: Banjir dan Tanah Longsor di Tirtoydo Malang, 83 Rumah Terdampak
Karakteristik Gelombang Rossby antara lain:
-
Bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan relatif lambat (sekitar 5–10 meter per detik).
-
Memiliki periode 10–20 hari.
-
Mempengaruhi pola hujan di kawasan ekuator, termasuk Indonesia.
-
Peluang hujan ekstrem meningkat jika suhu permukaan laut hangat, kelembapan tinggi, dan sirkulasi atmosfer mendukung.
Mengapa Bali Rawan Dampak Gelombang Rossby?
BMKG menuturkan, ada beberapa faktor yang membuat Bali terdampak cukup parah akibat fenomena ini, yaitu:
-
Letak Geografis
Bali berada di antara Samudra Hindia dan Laut Flores, yang menjadi jalur lintasan utama gelombang atmosfer ekuatorial.
-
Suhu Permukaan Laut Hangat
Pada awal September 2025, suhu permukaan laut di selatan Bali mencapai 28–29°C. Kondisi ini mempercepat penguapan dan meningkatkan ketersediaan uap air di atmosfer.
-
Topografi Pulau Bali
Pegunungan yang membentang dari barat ke timur membuat udara lembap yang terbawa angin terangkat ke atas, lalu memperkuat pembentukan awan konvektif (efek orografis).
-
Masa Peralihan Musim
Bali saat ini memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Peralihan musim ini semakin mendukung terbentuknya cuaca ekstrem.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat Bali mengalami hujan ekstrem dalam intensitas tinggi yang berujung pada banjir di sejumlah wilayah.
Menurut BMKG, curah hujan yang tercatat di sejumlah wilayah Bali masuk kategori lebat (lebih dari 50 mm/hari) hingga ekstrem (lebih dari 150 mm/hari). Tingginya kelembapan udara hingga lapisan 12 km mendukung terbentuknya awan hujan yang besar dan berlapis.
“Dari analisis dinamika atmosfer, kondisi ekstrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang Ekuatorial Rossby,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























